Foto seorang pemuda nan tersenyum duduk di atas tangga bambu proyek sembari menggenggam sendok semen, jadi pengingat bagi Alfath Qornain Isnan Yuliadi.
Pria dalam foto itu adalah Alfath sendiri. Sebuah memori tentang perjuangannya sebelum masuk jadi mahasiswa D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2022.
Berkuliah saja, sudah jadi prestasi bagi pemuda asal Klaten ini. Ia cucu satu-satunya di keluarganya nan bisa menempuh pendidikan di jenjang universitas.
Foto nan jadi pengingat perjuangan Alfath bukan sekadar foto tanpa makna. Foto itu merekam Alfath ketika bekerja sebagai pekerja gedung berbareng sang ayah. Hasil kerja itu dia tabung untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) di UGM.
Alfath anak kedua dari enam bersaudara. Memutuskan melanjutkan kuliah adalah keputusan nan tidak sederhana di tengah kondisi ekonomi nan sederhana.
"Saya bilang ke ayah, jika saya mentok di SMK, kemungkinan berkembang lebih sulit. Saya mau berkembang lebih jauh. Saya mau kuliah," kata Alfath dalam keterangan nan diterima kumparan, Jumat (10/4).
Saat bangku menengah atas, Alfath berguru di SMK. Pilihan ini juga bukan tanpa alasan. SMK saat itu keluarganya pilih agar Alfath bisa bekerja selepas lulus.
"Memang (ada) tarik ulur (untuk kuliah). Karena dari awal saya dimasukkan ke SMK agar setelah lulus bisa langsung bantu kerja," kisahnya.
Sadar bakal keterbatasan nan dimilikinya, Alfath tak berdiam diri alias merengek. Dia bergerak berupaya mengejar mimpinya.
Sejak kelas dua SMK dua sudah turun ke proyek membantu ayahnya. Kerjanya macam-macam, dari menggali fondasi hingga mengangkat material.
Upah kala itu Rp 50 ribu per hari. Nilai nan banget berharga. Dia tabung hari demi hari.
"Saya nggak lezat minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah," ceritanya.
Waktunya sudah tersita dari pagi hingga sore. Malam hari, Alfath gunakan untuk belajar agar bisa lolos kampus impian.
Di tengah semangat itu. Ujian sempat menghampiri. Dia mengalami kecelakaan kerja.
"Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini," katanya.
Alfath sendiri juga jadi satu-satunya siswa dari SMK-nya nan lolos UGM.
"Kalau di angkatan saya, hanya saya satu-satunya dari SMK saya nan lolos," ujarnya.
Menapaki Bangku Perkuliahan
Hari nan dinanti tiba. Titik kembali kehidupan Alfath datang berbareng dengan pengumuman hasil UTBK. Dia membuka pengumuman di bilik seorang diri. Kabar baik datang. Dia lolos.
Bergegas Alfath mencari dan memeluk ibunya hingga kakeknya.
"Saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, Saya jadi kuliah," bebernya.
Sejarah baru ditoreh di family sang kakek. Alfath satu-satunya cucu nan berkuliah. Sebuah asa, Alfath bisa membuka jalan cucu-cucu lain untuk pendidikan nan lebih tinggi. Kehidupan nan lebih baik.
Menjadi mahasiswa baru berfaedah pengalaman baru. Alfath mengalami perubahan besar dari sosok nan introvert menjadi sosok nan aktif. Termasuk mengikuti beragam perlombaan.
"Dulu apalagi diajak lomba nggak mau. Tapi di UGM saya sadar itu penting, dan mulai aktif sejak semester tiga," kata Alfath.
Kini tercatat sudah 15 perlombaan nasional dan internasional nan dimenangkan Alfath. Termasuk menjadi finalis sebuah kejuaraan di Nanyang Technological University (NTU) Singapura.
Deretan prestasi juga mengantarkan Alfath jadi Insan Berprestasi UGM pada 2025.
"Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM," pungkasnya.
Kisah Alfath memberikan harapan, bermacam latar belakang dan kesulitan tak cukup untuk membatasi tiap tekad. Ada pesan dari Alfath untuk pemuda-pemudi nan kondisinya serupa dengannya.
"Tugas kita bukan menerka masa depan tapi memaksimalkan apa nan bisa kita lakukan sekarang. Supaya kelak kita tidak menyesal," pungkasnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·