Ahmad, penduduk Dusun Gorontalo, Manggarai Barat, NTT, ini tetap mengingat dengan jelas saat gempa 7,7 magnitudo mengguncang rumahnya hingga ambruk pada Sabtu (15/8) jelang subuh.
Saat itu, Ahmad tetap tertidur lelap berbareng anak dan istrinya. Tiba-tiba, salah satu anak Ahmad, terbangun dan menyadari bahwa ada bunyi asing seperti angin kencang menghantam dapur rumahnya.
“Iya, guncangannya sangat besar sekali. Sangat besar sekali,” kata Ahmad saat ditemui, Minggu (16/8).
“Kami sedang tidur. Ini anak sudah bangun, mau mandi, mandi pagi mau sekolah. Begitu dia dengar bunyi bunyi itu kayak bunyi angin datang, langsung ambruk semua ini," lanjutnya.
Ahmad berbareng keluarganya langsung berlari ke luar rumah. Mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang lantaran kondisi rumah sudah mengalami kerusakan.
“Kami langsung lari keluar, Pak. Langsung lari keluar, langsung berdiri semua di luar dengan anak berdua. Ini sudah ambruk,” ujarnya.
Seluruh family Ahmad selamat. Namun, sejumlah peralatan di dalam rumah ikut tertimpa puing.
“Enggak ada juga jika untuk kami sebagai tuan rumah, tidak juga nan luka-luka. Hanya tertimpa mesin cuci dengan itu perangkat dapur,” kata Ahmad.
Situasi Memburuk
Kepanikan semakin besar setelah penduduk mendapat info mengenai kemungkinan tsunami lantaran air laut disebut surut. Ahmad dan penduduk lainnya kemudian memilih menuju tempat nan lebih tinggi.
“Itu menurut info kemarin ada juga nan bilang air surut. Kami kan tidak tahu, kami lari ke gunung semua,” kata Ahmad.
“Lari semua ke atas,” sambungnya.
Ahmad mengatakan kejadian tersebut membikin dirinya trauma. Dia juga cemas dengan kondisi rumah nan menjadi tempat tinggal keluarganya.
“Iya, rasa takut juga. Trauma kemarin. nan saya takut itu kemarin ini rumah besar ini, jika bagaimana-bagaimana rumah besar ini kita mau ke mana lagi sudah,” lanjut Ahmad.
Untuk sementara, Ahmad dan keluarganya mengungsi ke Waimata. Mereka baru kembali setelah kondisi dinilai lebih aman.
Gempa Terbesar
Ahmad menyebut gempa kali ini merupakan nan terbesar nan pernah dirasakannya.
“Baru pertama kali ini sebesar ini kejadiannya. Sebelum-sebelumnya tidak pernah seperti ini, baru sekali ini nan besar, lebih besar sudah,” ujar Ahmad.
Untuk kebutuhan dasar, Ahmad mengatakan persediaan air tetap tersedia. Namun, aliran listrik belum kembali normal sehingga keluarganya sementara mengambil listrik dari rumah tetangga.
“Listrik itu kita tetap belum ada masuk listrik, tapi hanya ambil di tetangga dulu,” ujarnya.
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, NTT, pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut memicu tsunami dengan ketinggian tertinggi 0,94 meter di sejumlah wilayah NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·