Kisah 3 Kartini Masa Kini, Berhasil Bawa Perubahan Sebagai Merchant ShopeeFood

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Owner Takoyaki Pekoo Pekoo, Lulu Ulwiyah; pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Nanik Soelistiowati; dan Co-Founder Bloomery Patisserie, Vania Rahardjo. Foto: Istimewa

Dulu, perempuan seringkali dianggap hanya cocok mengurus rumah tangga. Namun, seiring berkembangnya era dan kemajuan teknologi, mindset tersebut perlahan bergeser.

Kini, wanita tak hanya berkedudukan di sektor rumah tangga, tetapi juga mempunyai peran krusial di masyarakat, apalagi bisa menjadi pemimpin, ahli di beragam industri, hingga CEO nan sukses memimpin upaya mereka sendiri.

Seperti tiga sosok Kartini modern ini. Pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Nanik Soelistiowati, Co-Founder Bloomery Patisserie, Vania Rahardjo, dan owner Takoyaki Pekoo Pekoo, Lulu Ulwiyah, membuktikan bahwa ketekunan dan konsistensi dapat membawa mereka ke titik keberhasilan sehingga bisnisnya bisa menjangkau lebih banyak orang. Yuk, langsung simak kisah inspiratifnya di bawah ini!

Bloomery Patisserie: Dari Dapur Keluarga hingga Buka Toko di Berbagai Kota

Vania Rahardjo, Co-Founder Bloomery Patisserie. Foto: Istimewa

Keberaniannya memulai upaya terlihat dari perjalanan Vania Rahardjo dan ketiga saudaranya dalam membangun Bloomery Patisserie, nan sekarang telah berkembang menjadi upaya pastry dengan konsumen di beragam kota di Indonesia.

“Karena banyak waktu senggang dan kebetulan kita kegemaran baking. Pas ibu ulang tahun, kita bikin mille crepes buat mama. Ternyata ibu suka banget dan malah minta kita untuk tawarin ke teman-teman dan keluarga,” kenang Vania nan dikenal dengan spesialisasi cake dan gifting.

Setelah mendapat respons positif, Vania dan ketiga saudaranya mulai menjual kue secara pre-order. Tak disangka, mille crepe nan dijajakan menarik banyak peminat. Kepopuleran Bloomery Patisserie pun semakin meningkat seiring banyaknya media nan meliput.

Permintaan pun terus meningkat dan mendorong Bloomery Patisserie untuk membuka toko pertama di area Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Usaha ini berkembang pesat hingga sekarang menjangkau Semarang, Solo, Jakarta hingga Surabaya.

Bagi Vania, perjalanan ini menunjukkan gimana upaya nan dimulai dari langkah mini dapat tumbuh menjadi sesuatu nan lebih besar. Kehadiran platform digital seperti ShopeeFood juga turut membantu memperluas jangkauan Bloomery hingga dikenal oleh lebih banyak pelanggan.

Perjalanan Bloomery tidak lepas dari peran orang-orang di baliknya. Selain support keluarga, tim menjadi bagian krusial dalam perkembangan upaya ini. Menariknya, sebagian besar tim Bloomery diisi oleh wanita nan tumbuh berbareng dalam lingkungan kerja nan saling mendukung.

“Intinya, siapa pun kudu punya growth mindset, terutama perempuan. Kita bisa jadi apa pun nan kita mau,” ucap Vania.

Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Dari Penolakan hingga Dikenal Luas

Nanik Soelistiowati, Founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik. Foto: Istimewa

Pisang Goreng Madu Bu Nanik sekarang menjadi salah satu ikon kuliner Jakarta favorit banyak orang. Bagi Bu Nanik, semangat Kartini adalah tentang ketekunan dan keberanian untuk terus melangkah, menjadi pedomannya ketika menghadapi beragam keterbatasan. Nilai itulah nan dia pegang dalam membangun usahanya dari nol.

“Saya mengambil semangat Ibu Kartini, nan mendorong saya untuk terus berjuang dan pantang menyerah hingga bisa sampai di titik ini,” tuturnya.

Meski begitu, perjalanan Bu Nanik tidak selalu mulus. Produk nan sekarang dikenal luas tersebut sempat beberapa kali ditolak lantaran tampilannya nan dianggap kurang menarik.

Saat awal upaya berdiri, Bu Nanik pun coba menghadirkan pisang goreng madu sebagai hidangan penutup dari upaya katering nan dia jalankan. Namun, warna gelap nan dihasilkan dari proses karamelisasi madu membikin produk Pisang Goreng Madu Bu Nanik dipandang kurang menarik. Di kembali itu, penggunaan madu sendiri terinspirasi dari kondisi sang ibu nan menderita diabetes, sehingga dia mencari pengganti pemanis nan lebih sesuai.

Penolakan tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia terus mencari langkah untuk memperkenalkan produknya, mulai dari promosi sederhana menggunakan fotokopi, berdagang dengan gerobak, hingga mengikuti beragam pagelaran UMKM. Jerih payahnya turut membuahkan hasil positif, sehingga produk pisang gorengnya perlahan mulai dikenal dan semakin diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, Bu Nanik juga membawa akibat positif bagi lingkungan sekitar dengan aktif berbagi pengalaman dengan sesama pelaku UMKM melalui beragam aktivitas edukasi. Berangkat dari pengalamannya merintis dari nol, dia mau semakin banyak wanita berani memulai dan mengembangkan upaya mereka sendiri.

Dari Osaka ke Indonesia: Awal Mula Takoyaki Pekoo Pekoo

Lulu Ulwiyah, pemilik Takoyaki Pekoo Pekoo. Foto: Istimewa

Berawal dari pengalamannya melakukan studi di Jepang, Lulu Ulwiyah tak pernah menyangka bahwa ketertarikannya pada takoyaki bakal berkembang menjadi upaya kuliner dengan puluhan cabang.

Saat pulang ke Indonesia, wanita nan berkawan disapa Uli ini kebingungan untuk membawa oleh-oleh unik dari Negeri Sakura. Dari situlah, dia justru memutuskan untuk membawa pulang pan takoyaki dari Jepang dan mulai mencoba membuatnya sendiri dengan bahan-bahan nan tersedia di Indonesia.

Siapa sangka, takoyaki buatannya justru menjadi favorit. Uli memutuskan untuk menjual takoyaki dengan nama Pekoo Pekoo nan artinya “lapar” dalam bahasa Jepang.

Seiring meningkatnya permintaan, Uli memutuskan untuk berasosiasi dengan ShopeeFood. Pekoo Pekoo pun berkembang pesat hingga sekarang mempunyai sekitar 20 bagian nan tersebar di Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Uli mengakui, ShopeeFood membantunya untuk menjangkau lebih banyak pengguna dengan kehadiran beragam promo menarik, terutama pada tanggal kembar dan tanggal gajian.

“Penjualan tertinggi Pekoo Pekoo dari ShopeeFood. Sebelumnya kami punya 2 cabang, berkah ShopeeFood jadi 20 cabang,” ucapnya bangga.

Karena pertumbuhannya nan sangat pesat, pada 2023 lampau Pekoo Pekoo menjadi nominasi Super ShopeeFood Growing Merchant dan kembali menjadi nominasi sebagai pada kategori Top ShopeeFood Inspiring Merchant pada 2025 dalam arena penghargaan Shopee Super Awards.

Selain merintis upaya kuliner, wanita lulusan Sastra Jepang ini tetap aktif bekerja sebagai translator serta menjalankan peran sebagai seorang ibu.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan