Kinerja Manufaktur RI Melemah, Airlangga Beberkan Akar Masalahnya!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pelemahan keahlian aktivitas sektor manufaktur RI pada April 2026 disebabkan oleh ketidakpastian global. Menurutnya, bentrok geopolitik antara AS dan Iran menyebabkan gangguan terhadap rantai pasok dunia.

"Manufaktur turun lantaran memang masa depan dari perang ini kan masih, tetap tidak pasti. Jadi dari supply chain juga cemas bahwa gangguan berikut adalah supply chain," ujar Airlangga saat ditemui di gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (4/5/2026).

Seperti nan diketahui, Data Purchasing Managers' Index (PMI) nan dirilis S&P Global hari ini, Senin (4/5/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah nan terendah sejak Juli 2025 alias sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.

PMI menggunakan nomor 50 sebagai titik mula. Jika di atas 50, maka artinya bumi upaya sedang dalam fase ekspansi. Sementara di bawah itu artinya kontraksi. Airlangga menjelaskan, sektor manufaktur sangat berjuntai pada banyak sektor lainnya dan juga permintaan.

"Karena dari segi, dari daya biasanya dia pindah ke petrochemical product, plastik dan nan lain, plastic packaging, berikut ke logistik. Dan manufaktur sangat tergantung kepada logistik, dan berikut gimana mengenai dengan demand side. Jadi ini tetap kita monitor saja," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, S&P menjelaskan PMI mengalami kontraksi lantaran terjadi penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 lantaran sejumlah faktor.

Perusahaan mencatat kontraksi nan cukup kuat dalam volume produksi. Ini adalah koreksi nan paling tajam dalam nyaris satu tahun, meskipun terjadi sedikit kenaikan pada pesanan baru.

Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkepanjangan dalam volume produksi. Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan nan semakin sigap dibandingkan Maret dan menjadi nan tercepat sejak Mei tahun lalu.

Perusahaan menyebut kenaikan nilai bahan baku, kekurangan pasokan, dan melemahnya daya beli pengguna sebagai aspek utama di kembali penurunan ini.

Di sisi nan lebih positif, produsen di Indonesia melaporkan sedikit peningkatan dalam pesanan baru, meskipun perihal ini sebagian besar disebabkan oleh pemesanan lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan nilai dan gangguan pasokan di masa depan.

Data menunjukkan bahwa peningkatan ini terutama berasal dari pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru justru mengalami penurunan nan cukup signifikan. Tekanan biaya meningkat selama bulan tersebut, dengan tingkat inflasi biaya input mencapai level tertinggi dalam tepat empat tahun.

Pengusaha mengaitkan kenaikan biaya input dengan meningkatnya nilai bahan baku dan kelangkaan material. Perusahaan merespons kenaikan biaya ini dengan meningkatkan nilai jual pada awal kuartal kedua, dengan tingkat kenaikan terbesar sejak Oktober 2013.

Produsen juga sedikit menurunkan aktivitas pembelian seiring melemahnya kebutuhan produksi. Keterlambatan pengiriman dan kekurangan pasokan membikin perusahaan menggunakan persediaan bahan baku nan sudah ada untuk menjaga produksi.

Pada saat nan sama, stok peralatan jadi meningkat lantaran produsen menyimpan peralatan nan belum terjual.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News