Ilustrasi--Sejumlah penumpang duduk di dalam gerbong MRT Jakarta di Stasiun Blok M, Jakarta, Minggu (17/8/2025).(ANTARA/Muhammad Rizky Febriansyah)
PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatatkan performa finansial nan solid sepanjang 2025. Perusahaan transportasi berbasis rel ini sukses membukukan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun, alias mengalami kenaikan sekitar 7%dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya.
Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda), Risa Olivia, menjelaskan bahwa pertumbuhan positif ini dipicu oleh dua aspek utama, ialah peningkatan volume pengguna jasa serta kontribusi nan semakin kuat dari sektor upaya non-tiket (non-farebox).
"Pendapatan pada 2025 mencapai Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan sekitar 7% dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Risa saat memberikan keterangan di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Tren Positif Pendapatan Tiket
Risa menambahkan bahwa pendapatan dari tiket alias farebox terus menunjukkan tren kenaikan nan signifikan sejak tahun 2021. Hal ini mencerminkan tingginya minat masyarakat untuk beranjak ke transportasi publik nan terintegrasi. Secara kumulatif, tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata (CAGR) pendapatan farebox mencapai nomor 50,4% pada periode 2021-2025.
Secara keseluruhan, diversifikasi sumber pendapatan nan mencakup tiket, subsidi pemerintah, dan pendapatan non-tiket telah menjaga stabilitas perusahaan dengan CAGR total sebesar 2,3% dalam periode nan sama.
Ringkasan Kinerja Keuangan MRT Jakarta (Hingga 2025)
| Total Pendapatan 2025 | Rp1,5 Triliun |
| Pertumbuhan Tahunan (YoY) | ~7% |
| CAGR Pendapatan Farebox (2021-2025) | 50,4% |
| EBITDA Margin | 35%- 51% |
| Total Aset | Rp32 Triliun |
Stabilitas Operasional dan Pengembangan Kawasan
Kesehatan finansial perusahaan juga tercermin dari margin EBITDA nan terjaga di kisaran 35% hingga 51%. Menurut Risa, nomor ini menunjukkan bahwa MRT Jakarta bisa menjaga efisiensi dan keahlian operasional tetap stabil di tengah tantangan eksternal. Hingga akhir 2025, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp32 triliun, nan didominasi oleh prasarana jalur dan stasiun.
Di sisi lain, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud, menekankan pentingnya optimasi area transit (Transit Oriented Development/TOD) untuk memperkuat pendapatan non-tiket. Salah satu proyek percontohan nan sukses adalah pengelolaan Blok M Hub.
"Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan area transit untuk memperkuat pendapatan nontiket. Saat ini, Blok M Hub sendiri telah menampung sekitar 375 tenant," jelas Farchad.
Melalui strategi diversifikasi ini, MRT Jakarta menargetkan pengurangan ketergantungan pada subsidi pemerintah secara bertahap, sekaligus memastikan keberlanjutan jasa transportasi publik nan berbobot tinggi bagi penduduk Jakarta. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·