Kilang Minyak yang Terus Bergerak Menuju Rendah Emisi secara Berkelanjutan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Kilang Minyak nan Terus Bergerak Menuju Rendah Emisi secara Berkelanjutan PLTS di genting Head Office Pertamina RU IV Cilacap, Jawa Tengah.(Dok Pertamina)

BERADA di genting sebuah gedung megah di Cilacap, Jawa Tengah, nan mempunyai luas 7.257 meter persegi tersebut berderet panel-panel surya. Gedung tersebut adalah head office (HO) Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV.

Jika menatap ke arah barat, gedung kilang dengan tangki-tangki raksasa terlihat jelas. Ada juga tanker pengangkut minyak mentah nan sedang merapat.

Yang jadi pertanyaan, Kilang Pertamina Cilacap merupakan penghasil daya fosil, kenapa kudu membangun pembangkit tenaga surya (PLTS)? Apalagi, Kilang Cilacap itu sebagai pengolah crude menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbesar di Indonesia dengan kapabilitas produksi mencapai 348.000 barel per hari. Pasokannya untuk 34% kebutuhan nasional alias 60% kebutuhan di Pulau Jawa.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap Agustiawan mengatakan bahwa Pertamina mendukung penuh program pemerintah dalam mengurangi emisi. 

“Apa nan dilakukan oleh Pertamina, salah satunya adalah mengembangkan PLTS di kompleks kilang adalah untuk mengurangi emisi gas hingga 30% di tahun 20230 serta Net Zero Emission pada tahun 2060,” jelas Agustiawan kepada Media Indonesia pada Selasa (18/5).

Menurut Agustiawan, di rooftop HO sendiri terpasang PLTS sebesar 18 Kilowatt Peak (KWp). Sistem kelistrikan HO terhubung dengan PLTS perumahan RU IV Cilacap, total kapabilitas diseluruh sistem kelistrikan perumahan sebesar 3,6 Megawatt Peak (MWp). 

“PLTS di RU IV saat ini merupakan PLTS on-grid, sehingga penyerapan hanya saat pagi dan sore hari, di saat peak-nya dapat memenuhi kebutuhan. Namun ketika malam tidak menghasilkan listrik. Sehingga secara total PLTS dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 10-16 persen kebutuhan listrik perumahan dan perkantoran,” katanya.

Agustiawan mengatakan pembangunan PLTS merupakan bagian krusial dalam transisi daya menuju rendah emisi. Pertamina telah menghitung dengan adanya transisi daya nan dilakukan, bisa menurunkan emisi sekitar 140-150 CO2 equivalen (eq) setiap bulan. 

“Sehingga dalam satu tahun, penurunan emisi kurang lebih 1.680-1.800 CO2 eq. Jika dihitung dengan penanaman pohon, sama dengan menanam sebanyak 35.196 pohon. Usaha ini bakal terus dilakukan sebagai perusahaan nan berkomitmen untuk menurunkan emisi,” tegas Agustiawan.

Menurutnya, tidak hanya pembangkit daya hijau saja nan digalakkan, tetapi produk green energy juga digenjot. Kilang Cilacap telah mengukuhkan sebagai green refinery unit nan merupakan program strategis nasional (PSN) dengan memproduksi biofuel. 

Sebagai Green Refinery, Kilang Cilacap dapat menjawab tantangan produk nan lebih ramah lingkungan dengan memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) bahan bakar dengan memproduksi produk bionafta dan bioavtur alias Sustainable Aviation Fuel (SAF) nan berbahan baku minyak inti kelapa sawit, diolah berbarengan dengan avtur fosil melalui metode co-processing. Produksinya mencapai 6.000 barrel produk HVO, SAF, dan Bionafta nan berasal dari Used Cooking Oil (UCO) alias minyak jelantah. 

Dijelaskan, produk dari green refinery ini bakal berakibat positif mendukung program bauran daya Pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Bahkan, SAF nan berjulukan Pertamina SAF telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091. Untuk green diesel, bahan baku nan digunakan adalah RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil), ialah minyak sawit nan telah melalui proses penyulingan untuk menghilangkan masam lemak bebas serta penjernihan agar lenyap warna dan baunya.

Pertamina, lanjutnya, dengan sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Dengan bahan baku minyak sawit tersebut, kapabilitas produksinya mencapai 6.000 barel per hari. Sementara itu, green avtur merupakan hasil campuran RBDPO dengan kerosin, nan menghasilkan bahan bakar jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar konvensional. Keunggulannya terletak pada kandungan sulfur nan rendah sehingga bisa menekan emisi berbahaya.

Dorong Energi Terbarukan 

Komitmen transisi daya tidak hanya diwujudkan dalam produk perusahaan maupun akomodasi prasarana untuk daya terbarukan di dalam kilang saja, melainkan juga dikembangkan di tingkat masyarakat. 

Pertamina RU IV Cilacap merancang dan mengubah sistem daya di sejumlah wilayah untuk dapat diakses dan bekelanjutan dengan daya terbarukan. 

“Kami telah membangun pembangkit listrik tenaga hybrid (PLTH) nan menggabungkan antara tenaga surya dan angin di Dusunb Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut. Di dusun setempat, PLTH bisa menerangi 74 rumah serta akomodasi pengolahan air bersih. Kapasitasnya mencapai 16.200 Wp. Fasilitas pengolah air sangat penting, lantaran di area itu airnya payau, sehingga kudu diolah. Sebelum ada instalasi pengolahan, penduduk kudu mencari bersih ke gua-gua,” jelas Agustiawan.

Daerah lainnya adalah Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut dengan PLTS berkapasitas 10.000 Wp. Di letak setempat, PLTS dimanfaatkan untuk budi daya sidat. 

“PLTS menggerakkan kincir air selama 24 jam penuh. Kelompok nan beranggotakan 40 orang tidak lagi mengeluarkan ongkos listrik lantaran telah dipasok dari PLTS,” jelasnya.

Sedangkan PLTS di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, Cilacap dimanfaatkan oleh para petani untuk memompa air. Kapasitasnya mencapai 19.140 Wp. Daya tersebut campuran dengan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Suplai daya bersih itu untuk pengairan lahan pertanian dan penggerak mesin produksi padi.

Ketua Gapoktan Margo Sugih Desa Kalijaran Priyatno mengatakan dengan adanya PLTS, maka kelompoknya tidak lagi berjuntai pada daya fosil.

“Kami biasanya menggunakan pompa air untuk mengairi areal sawah dengan BBM. Tetapi sejak ada PLTS, kami tidak lagi membeli BBM lantaran sudah disuplai dari PLTS. Selain menghemat, kami juga sepanjang tahun bisa memanfaatkan lahan persawahan. Jika musim penghujan padi, saat tandus bisa ditanami palawija,” katanya.

Ia mengatakan sulu setiap harinya menghabiskan 8 liter BBM per hari, sekarang cukup daya matahari. Sehingga tidak ada polusi udara maupubn suara. 

“Kami juga memanfaatkan PLTS untuk menggerakkan mesin penggilingan padi. nan pasti, irit dan tidak berakibat polusi,” tambahnya. 

Titik lainnya berada di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Pertamina membangun PLTS di dua titik dengan kapabilitas 12.800 Wp. Warga memanfaatkan untuk penunjang kampung kepiting serta pengelolan bank sampah.

Tokoh pemuda Kutawaru, Rato, mengatakan kehadiran PLTS di kampung seberang Sungai Bengawan Donan itu untuk penerangan di Kampung Kepiting, instalasi aerator biofilter, dan Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (Rusun Tinggi).

"Kami juga memberdayakan para wanita eks pekerja migran Indonesia untuk bersama-sama mengelola bank sampah. Sebab, sampah sempat menjadi masalah besar bagi desa nan cukup terisolir dari pusat Kota Cilacap ini. Kemudian dibangun Bank Sampah Abhipraya, nan saat ini mengolah total 4,5-6 ton sampah organik dan anorganik per tahun," katanya.

Ekosistem Hijau 

Peneliti daya terbarukan dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Ropiudin mengatakan bahwa upaya transisi daya nan dilakukan Pertamina merupakan bagian dari komitmen mendukung pengurangan emisi dan pengembangan daya hijau di Indonesia. Pertamina sebagai perusahaan berbasis daya fosil sekarang mulai mengambil peran lebih luas dengan memasukkan daya terbarukan ke dalam sistem industrinya.

“Pertamina bukan hanya bergerak di unit pengolahan dan produksi daya fosil saja, tetapi juga mulai mendorong penggunaan daya terbarukan sebagai bagian dari sistem industrinya. Ini menjadi bagian dari upaya mendukung transisi energi,” katanya.

Ia menjelaskan, pengembangan daya terbarukan tidak dimaksudkan untuk sepenuhnya menggantikan daya fosil, melainkan membangun bauran daya nan lebih seimbang dan berkelanjutan. 

“Energi terbarukan didorong bukan untuk menggantikan seluruh daya fosil, tetapi menjadi kombinasi alias bauran energi. Misalnya daya surya digunakan pada siang hari, sedangkan kebutuhan malam hari tetap memerlukan support daya lain,” ujarnya.

Ropiudin menambahkan, sumber daya terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di beragam daerah, termasuk Kabupaten Cilacap. Namun, karakter daya terbarukan nan belum sepenuhnya kontinyu membikin daya fosil tetap dibutuhkan sebagai penopang. 

“Energi fosil saat ini tetap lebih stabil dan kontinyu, sementara daya baru terbarukan seperti angin dan surya tergantung kondisi alam. Karena itu nan didorong adalah optimasi bauran energi,” katanya.

Ia menyebutkan, dorongan transisi daya juga tidak terlepas dari komitmen internasional Indonesia dalam menurunkan emisi karbon melalui dekarbonisasi sektor energi.

Arah kebijakan tersebut bermaksud membangun ekosistem hijau alias green ecosystem yang mencakup industri, perkantoran, hingga area permukiman berbasis teknologi ramah lingkungan dan rendah emisi. 

“Green ecosystem itu berfaedah teknologi nan digunakan berbasis ramah lingkungan dan minim emisi, baik di sektor manufaktur, perumahan, maupun perkantoran,” ujarnya.

Di Cilacap sendiri, lanjut Ropiudin, potensi daya terbarukan cukup besar, terutama tenaga surya. Selain itu, daya angin juga mulai dikembangkan meski tetap dalam skala kecil. “Potensi PLTS di Cilacap cukup besar dan visibilitas pengembangannya juga baik. Infrastruktur pendukung daya angin juga mulai siap untuk dikembangkan,” tambahnya. (LD/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia