JAKARTA - Bercanda merupakan bagian dari warna dalam pergaulan kehidupan manusia di dunia. Islam tidak melarang umatnya untuk tertawa dan bergembira. Namun, ada batas-batas nan kudu dijaga agar candaan tidak memunculkan hal-hal negatif. Rasulullah juga telah memberikan teladan gimana berbual dengan tetap disertai kejujuran, adab, dan tidak berlebihan.
Berikut naskah khutbah Jumat berjudul, “Bercanda dan Batasannya dalam Islam”, sebagaimana dilansir NU Online.
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ، وَجَعَلَ فِيْهِ مَنَاهِجَ الْهِدَايَةِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat nan dirahmati Allah,
Menjadi tanggungjawab bagi setiap khatib dalam khutbahnya untuk senantiasa beramanat takwa. Oleh lantaran itu mari kita semua menguatkan takwa kita kepada Allah swt nan bentuk nyatanya adalah dengan senantiasa menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Pada kesempatan kali ini, khatib bakal mengangkat sebuah tema berangkaian dengan aktivitas nan sering kita lakukan dalam hubungan sehari-hari dengan orang lain. Jika kita bisa melakukannya dengan baik dan proporsional, maka kehidupan kita bakal menjadi senang dan ceria. Namun jika kita melakukannya dengan tidak bijak, maka masalah bisa muncul dan menjadikan hubungan kita dengan orang lain bakal bermasalah. Hal tersebut adalah tentang berbual alias bergurau.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat nan dirahmati Allah,
Dalam pergaulan kita sehari-hari, candaan sering menjadi langkah untuk mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, mempererat persahabatan, dan membikin komunikasi terasa lebih akrab. Namun sebagai seorang Muslim, kita kudu memahami bahwa tidak semua candaan dapat dibenarkan.
Ada batas-batas nan kudu dijaga agar sesuatu nan awalnya dimaksudkan untuk menghibur tidak berubah menjadi dosa dan menyakiti orang lain. Islam sendiri tidak mengajarkan umatnya untuk selalu berada dalam suasana tegang, serius, dan sedih. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa nan mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)
Rasulullah saw juga pernah berbual dengan para sahabat dan orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi, candaan Rasulullah selalu berada dalam koridor kebenaran dan adab mulia.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·