MI/Seno(Dok. Pribadi)
MUHAMMADIYAH selalu punya tempat di hati para pemimpin bangsa ini. Bung Karno mengatakan, “Makin lama saya makin cinta Muhammadiyah.” Soeharto pada muktamar 37 tahun lampau di Surakarta mengatakan, “Siapa tak kenal Muhammadiyah?” Sementara itu, Jokowi dalam Milad Muhammadiyah menyampaikan, “Muhammadiyah tak kenal capek membangun, berkecimpung untuk bangsa, dan berkontribusi untuk negeri,” sedangkan Presiden Prabowo dalam sambutannya di tanwir dan resepsi milad ke-112 Muhammadiyah di Kupang mengatakan, “Kader Muhammadiyah ada di mana-mana, di kanan, kiri, dan tengah.”
Kisah perjalanan Muhammadiyah memang kerap mengundang decak kekaguman. Bagi kalangan di luar Muhammadiyah, tidak jarang muncul pertanyaan penuh takjub: gimana mungkin sebuah organisasi masyarakat bisa membangun begitu banyak kebaikan usaha, dari pendidikan hingga kesehatan, dari ekonomi hingga pelayanan sosial? Pertanyaan tersebut wajar karena Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan, melainkan juga aktivitas peradaban.
Muhammadiyah sebagai aktivitas Islam tercatat dalam jejeran 10 besar organisasi keagamaan terkaya di bumi menurut catatan Seasia Stats. Catatan dan kiprah kebangsaan Muhammadiyah itu tidak pernah membikin Muhammadiyah jemawa, membanggakan diri, apalagi membusungkan dada. Asetnya nan melimpah di beragam bagian seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial justru mengukuhkan adagium sekaligus semboyan Muhammadiyah, 'dikritik tidak tumbang, dipuji tidak terbang'.
Gerakan Muhammadiyah justru identik dengan falsafah Jawa, rawe-rawe rantas, malang-malang puntung, nan artinya bekerja sama, bergotong royong menyingkirkan halangan nan menghalangi tujuan. Karena itulah, orang nan beriktikad dakwah di Muhammadiyah lantaran menginginkan sesuatu umumnya tidak memperkuat lama.
Muhammadiyah menjadi besar seperti sekarang lantaran mengusung semangat 'tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah'. Muhammadiyah selalu menunjukkan semangat memberi dan terdepan sehingga banyak aktivitas wakaf muncul dari kesadaran anggotanya untuk kepentingan umat.
Gerakan kedermawanan alias aktivitas filantropi itu sudah jauh digaungkan dan dicontohkan pendirinya, Kiai Haji Ahmad Dahlan, dan terus menggema sampai sekarang. Kiai Dahlan apalagi mewakafkan nyaris setiap bagian rumahnya. Ruang rumahnya lenyap untuk rumah arsip dan kitab kala itu, sebagian rumahnya untuk sekolah. Hampir tidak ada ruang pribadi di rumahnya lantaran nyaris setiap harinya sibuk untuk dakwah.
Muhammadiyah tidak suka unjuk gigi, tetapi lebih suka tindakan nan berakibat nyata bagi masalah kebangsaan dan masalah sosial. Gerakan dan jihad keagamaannya tidak pernah terlepas dari aktivitas kebangsaan. Konsep itu sejalan dengan nan sering dikatakan Allahuyarham Buya Syafii Maarif nan sering mengatakan jihad Muhammadiyah kudu mengutamakan kepentingan kebangsaan, kepentingan umat, baru kepentingan persyarikatan. Jika kepentingan bangsa didahulukan, otomatis kepentingan umat dan persyarikatan dapat digapai.
POLITIK, EKONOMI, DAN PENDIDIKAN
Dalam konteks sosiopolitik kebangsaan, Muhammadiyah memang tidak mau terjebak dan terperosok dalam jebakan politik praktis. Meski tidak langsung terlibat dalam politik praktis secara langsung, Muhammadiyah tidak pernah tidakhadir dalam politik kebangsaan. Dalam ranah konsitusi misalnya, Muhammadiyah terus mendorong dan menjadi inisiator dalam aktivitas 'jihad konstitusi'. Banyak undang-undang bermasalah nan merugikan kepentingan rakyat digugat ke Mahkamah Konstitusi oleh Muhammadiyah. Selain itu, Muhammadiyah turut serta berperan-serta dan merumuskan agenda mengegolkan undang-undang nan mempunyai akibat terhadap kemaslahatan umat dan bangsa. Jihad konstitusi itu krusial lantaran mempunyai akibat langsung nan berasosiasi dengan kepentingan rakyat.
Muhammadiyah juga terus dan selalu mendorong pendemokrasian di negeri ini dengan menciptakan pemilu nan sportif, adil, dan transparan. Dengan demikian, nilai-nilai kerakyatan tetap dipegang teguh untuk mewujudkan cita-cita luhur negeri ini. Suksesi kepemimpinan nasional nan jujur, adil, dan transparan bakal mendorong terwujudnya cita-cita bangsa ini nan bersih dari korupsi dan politik rente nan merusak demokrasi.
Dalam bagian ekonomi, Muhammadiyah sudah membentuk jaringan Saudagar Muhammadiyah serta jaringan petani, nelayan, sampai dengan lingkup ekonomi terkecil di tingkat ranting untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Membangun kesejahteraan warganya dari tingkat ranting hingga pusat menjadi perhatian nan terus dilakukan Muhammadiyah demi membebaskan dan memberantas kemiskinan.
Sebagai sebuah aktivitas ekonomi umat, Muhammadiyah memang perlu membangun sendi-sendi koperasi. Jika koperasi Muhammadiyah itu muncul dan kuat dari tingkat bawah hingga pusat, Muhammadiyah setidaknya bakal menjadi tumpuan dan angan bagi masyarakat kita. Dengan begitu, pilar ekonomi Muhammadiyah betul-betul menjadi tembok saat bangsa ini menghadapi terpaan krisis global.
Aset Muhammadiyah dalam bagian ekonomi seperti Tokomu, Suryamu, dan Bulogmu juga menjadi aktivitas sektor ekonomi riil dan sirkular patut terus didorong dan dikembangkan. Itu krusial lantaran dengan ekonomi sirkular itulah roda ekonomi dapat kukuh, kuat, dan menghidupi dakwah di kalangan akar rumput.
Dalam bagian pendidikan, meski Muhammadiyah sudah mempunyai ribuan sekolah dari tingkat SD sampai SMA/K, Muhammadiyah perlu menguatkan identitas sekolah Muhammadiyah dari level sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi pemenang dalam gedung dan akomodasi untuk memproses talenta unggul siswanya. Muhammadiyah juga kudu menjadi terdepan dalam ranking TKA dari level SD sampai SMA/K. Kita turut bangga, pada level SMA, SMA Progam Khusus Kottabarat Surakarta tetap menempati 189 secara nasional meski di kalangan internal sekolah Muhammadiyah di Indonesia menempati ranking teratas.
Sekolah Muhammadiyah telah terbukti unggul dalam membentuk karakter peserta didik, melahirkan generasi berintegritas, berakhlak, dan berkekuatan juang. Namun, kelebihan itu tidak boleh berakhir pada ranah moral semata. Muhammadiyah dituntut melompat lebih jauh; menjadi pelopor dalam prestasi akademik nan terukur, kompetitif, dan bergengsi global.
Di jenjang perguruan tinggi, kontribusi beragam bidang dan program studi Muhammadiyah dalam membangun sumber daya manusia tidak dapat dipandang sebelah mata. Akan tetapi, tantangan ke depan menuntut lebih dari sekadar output lulusan; dia meniscayakan lompatan kualitas dalam riset dan inovasi. Kampus Muhammadiyah perlu merumuskan kreasi penelitian nan tidak hanya produktif secara kuantitatif, tetapi juga berakibat nyata bagi kepentingan kebangsaan dan kemanusiaan. Pandangan 'scopus oriented' nan condong mengejar indeksasi semata sudah saatnya diredefinisi menuju 'kebangsaan oriented', ialah riset nan berpijak pada problem riil masyarakat dan menawarkan solusi konkret. Dengan demikian, kritik nan dilontarkan kader Muhammadiyah sekaligus peneliti BRIN, Ahmad Najib Burhani, mengenai maraknya publikasi nan melangit, tetapi minim kebermanfaatan, dapat dijawab secara elegan melalui karya-karya ilmiah nan substantif, transformatif, dan kontributif bagi peradaban.
ETOS PRODUKTIF
Muhammadiyah pada abad kedua ini memang sedang merancang gimana etos produktifnya lebih dirasakan manfaatnya kepada jemaahnya secara unik dan bangsa ini secara umum. Kristalisasi pendapat itu sudah termaktub dalam Risalah Islam Berkemajuan nan menjadi filosofi aktivitas di abad kedua ini. Dalam RIB (Risalam Islam Berkemajuan) tertulis, 'mewujudkan kesejahteraan bangsa adalah perwujudan dari nilai-nilai Islam nan membawa rahmat bagi seluruh alam'. Kerja-kerja Muhammadiyah di lintas bagian itu tidak hanya menunjukkan bahwa setiap potensi kader Muhammadiyah layak diwadahi, tetapi juga menunjukkan semua komponen bangsa mempunyai kewenangan turut serta membangun bangsa ini di bagian nan dikuasai masing-masing.
Etos produktif Muhammadiyah menemukan manifestasinya secara nyata dalam lanskap kebangsaan dan kemanusiaan. Pada masa pandemi covid-19, jaringan rumah sakit Muhammadiyah, para tenaga kesehatan, serta relawan tampil di garda terdepan, bahu-membahu dalam gotong royong nasional menghadapi krisis kesehatan nan belum pernah terjadi sebelumnya. Dedikasi tersebut tidak hanya berkarakter temporer, tetapi berbuah pengakuan global. Pada 2025, World Health Organization (WHO) menetapkan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai emergency medical team (EMT) nan terverifikasi secara internasional, sebuah legitimasi atas kapasitas, profesionalitas, dan daya tanggap kemanusiaan Muhammadiyah di level dunia.
Di ranah pendidikan tinggi, Muhammadiyah juga menunjukkan daya penyesuaian nan progresif dalam merespons disrupsi teknologi. Kehadiran Universitas Sibermu menjadi penanda krusial transformasi tersebut. Sebuah lembaga nan mengusung sistem pembelajaran jarak jauh sekaligus berfokus pada pengembangan ekosistem digital dan bumi siber. Langkah itu menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak sekadar mengikuti arus zaman, tetapi juga berupaya menjadi pelopor dalam membentuk masa depan pendidikan.
Pada sektor ketahanan dan keamanan, kontribusi Muhammadiyah juga tidak dapat dipandang sebelah mata. Melalui penemuan nan lahir dari Kampus Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Muhammadiyah turut ambil bagian dalam pengembangan teknologi strategis bangsa. Rudal Cirnov nan dikembangkan menjadi bukti konkret bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah bisa menembus batas-batas riset aplikatif. Dengan support teknologi kamera inframerah, rudal itu mempunyai keahlian untuk mengunci dan mengejar sasaran secara berdikari setelah diluncurkan. Itu merupakan sebuah lompatan signifikan dalam kemandirian teknologi pertahanan nasional.
Muhammadiyah juga merencanakan bakal memulai membangun pabrik cairan infus di Mojokerto pada Mei 2026. Inovasi dan kerja Muhammadiyah di bagian kesehatan itu dilakukan untuk menopang kemandirian rumah sakit Muhammadiyah-Aisyiah di seluruh Indonesia.
Muhammadiyah, pada akhirnya, memang identik dengan etos kerja nan tak kenal lelah. Spirit itu berakar kuat dari pesan Kiai Haji Ahmad Dahlan: “Ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah (jangan pernah capek bekerja untuk Muhammadiyah)”. Pesan sederhana tetapi sarat makna itu menjelma menjadi daya kolektif nan menggerakkan kader-kader Muhammadiyah lintas generasi. Mereka meyakini bahwa setiap ikhtiar untuk membesarkan Muhammadiyah sejatinya adalah bagian dari kerja besar memajukan dan memakmurkan bangsa.
SPIRIT KEBERSAMAAN
Dalam kerja-kerja kemasyarakatan dan kebangsaan, Muhammadiyah tidak pernah merasa bekerja sendirian. Muhammadiyah selalu menggandeng pemerintah sebagai pemegang kekuasaan untuk berbareng bekerja membangun bangsa ini. Muhammadiyah selalu mendukung program pemerintah dan tidak pernah melakukan oposisi. Dalam menjaga pendemokrasian melangkah dengan maksimal, Muhammadiyah terus-menerus memberikan masukan dan kontribusi krusial dalam menggapai cita-cita kebangsaan. Itulah kenapa terkadang spirit kebersamaan itu sering disalahtafsirkan sebagian kalangan.
Muhammadiyah, meski selalu bergandeng tangan dengan pemerintah, nyaris selalu menjaga jarak dengan pemerintah. Artinya, Muhammadiyah tetap berada dalam koridor dan bekerja demi kepentingan bangsa dan kemanusiaan. Selain itu, Muhammadiyah selalu bekerja sama dengan komponen masyarakat dan organisasi sipil lainnya dalam mewujudkan kebersamaan dan cita-cita luhur bangsa ini.
Dalam bagian pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah mengukuhkan diri sebagai organisasi Islam nan mempunyai 163 perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiah (PTMA) dan 129 rumah sakit Muhammadiyah-’Aisyiah (RSMA). Dengan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiah, Muhammadiyah memecahkan rekor sebagai kampus nan mempunyai fakultas kedokteran terbanyak di dunia.
Dengan kerja-kerja sunyi dan nyata itulah, Muhammadiyah tidak hanya mengukuhkan diri sebagai aktivitas Islam, tetapi juga sebagai aktivitas nan tiada capek berkhidmat untuk kepentingan bangsa dan kemanusiaan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·