Kewirausahaan Bentuk Mental Generasi Muda Hadapi Dunia Kerja

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kewirausahaan Bentuk Mental Generasi Muda Hadapi Dunia Kerja Seorang siswa mengikuti program edukasi kewirausahaan.(Zurich Indonesia)

Perubahan lanskap ekonomi dan dunia kerja mendorong kebutuhan bakal model pembelajaran nan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga membekali siswa dengan keahlian praktis nan relevan dengan kehidupan nyata. Kemampuan berwirausaha, mengelola keuangan, berpikir kritis, dan beradaptasi terhadap perubahan menjadi bekal krusial bagi generasi muda dalam menghadapi masa depan.

Karena itu, beragam program pendidikan berbasis pengalaman alias experiential learning mulai mendapat perhatian lebih besar. Pendekatan ini dinilai bisa memberikan pemahaman nan lebih aplikatif lantaran siswa belajar langsung melalui praktik dan pengalaman nyata.

Salah satu penerapan pendekatan tersebut terlihat dalam Zurich Entrepreneurship Program (ZEP) nan dijalankan Zurich Indonesia, Z Zurich Foundation, dan Prestasi Junior Indonesia. Pada tahun pertama fase kedua program nan dimulai sejak Juli 2025, ZEP sukses menjangkau lebih dari 10.000 siswa SMA dan SMK di tujuh kota. Jumlah tersebut melampaui sasaran awal hingga 164%. Program ini juga mendorong lahirnya 35 upaya pelajar dengan total omzet mencapai Rp339 juta.

Melalui program tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam mengembangkan buahpikiran usaha, menjalankan upaya di lingkungan sekolah, mengelola keuangan, hingga memahami dinamika bumi kerja.

Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan pendidikan nan relevan perlu membekali generasi muda dengan keahlian nan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami percaya pada pendidikan nan membekali generasi muda dengan keahlian praktis untuk kehidupan nyata. Melalui Zurich Entrepreneurship Program, kami mau membantu siswa membangun kepercayaan diri, keahlian membaca peluang, dan pengambilan keputusan finansial nan lebih baik. Capaian tahun pertama ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman dapat memberikan akibat nyata dan mempersiapkan generasi muda dalam membangun masa depan,” ujar Edhi.

Sebagai program pembelajaran terpadu, ZEP menggabungkan pengembangan kewirausahaan, literasi keuangan, dan kesiapan kerja dalam satu rangkaian pembelajaran. Siswa diajak mengenali kesempatan usaha, menyusun rencana bisnis, mengelola upaya mikro, serta mengembangkan keahlian kerja sama tim, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

Program ini juga memperkuat pemahaman mengenai pengelolaan keuangan, termasuk penganggaran, kebiasaan menabung, investasi, hingga pemahaman terhadap akibat keuangan. Selain itu, siswa mendapatkan wawasan mengenai bumi ahli melalui sesi berbagi pengalaman berbareng sukarelawan dari Zurich.

Head of Enabling Social Equity Z Zurich Foundation, Adriana Poglia, menilai keberhasilan program tersebut menunjukkan pentingnya kerjasama beragam pihak dalam memperluas akses pendidikan nan relevan bagi generasi muda.

“Tahun pertama fase ini menunjukkan bahwa akibat positif dapat semakin diperluas melalui kolaborasi. Ketika sekolah, pendidik, sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat sipil bekerja bersama, semakin banyak generasi muda mendapatkan akses terhadap pembelajaran nan relevan dan kesempatan untuk membangun masa depan mereka,” katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, Utami Anita Herawati, memandang adanya peningkatan minat sekolah terhadap model pembelajaran berbasis pengalaman lantaran bisa meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

“Implementasi Zurich Entrepreneurship Program memberikan sinyal kuat bahwa pembelajaran berbasis pengalaman semakin diminati sekolah. Kami memandang pembimbing secara aktif memperluas penerapan program lantaran siswa menjadi lebih terlibat ketika belajar melalui praktik langsung—mulai dari membangun usaha, mengelola keuangan, hingga memahami bumi kerja. Ketika pendekatan seperti ini diterapkan secara konsisten oleh guru, dampaknya tidak hanya terlihat pada tingginya partisipasi, tetapi juga pada lahirnya pengalaman belajar nan lebih relevan dan membantu siswa membangun keahlian untuk masa depan,” jelasnya.

Melanjutkan capaian tersebut, fase kedua Zurich Entrepreneurship Program bakal terus diperluas hingga 2028 dengan menjangkau lebih banyak siswa, memperkuat kapabilitas guru, serta meningkatkan keterlibatan sukarelawan. Program ini diharapkan dapat membantu melahirkan generasi muda nan lebih percaya diri, mempunyai keahlian nan relevan, serta siap menghadapi perubahan bumi kerja dan ekonomi di masa mendatang. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia