Kevin Warsh resmi memimpin Federal Reserve (The Fed) dengan membawa agenda reformasi besar di tengah sorotan atas potensi tekanan politik dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan menunjuknya sebagai ketua bank sentral AS.
Warsh resmi dikonfirmasi Senat AS untuk masa kedudukan empat tahun sebagai ketua bank sentral pekan lampau dan menjalani pelantikan di Gedung Putih pada Jumat (22/5).
“Saya percaya, Tuan Presiden, tahun-tahun ini dapat menghadirkan kemakmuran luar biasa nan bakal meningkatkan taraf hidup masyarakat Amerika dari semua lapisan, dan The Fed mempunyai peran di dalamnya,” kata Warsh setelah Trump melontarkan pujian besar kepadanya, dikutip dari AFP, Sabtu (23/5).
Pria berumur 56 tahun asal New York bagian utara itu sebelumnya meninggalkan masa kedudukan pertamanya di Dewan Gubernur The Fed lebih awal pada 2011 akibat perbedaan pandangan mengenai kebijakan moneter.
Kini, Warsh kembali untuk memimpin The Fed dengan mandat menjaga inflasi dan memastikan tingkat lapangan kerja maksimum, membawa sasaran mengubah langkah bank sentral mengambil keputusan, berkomunikasi, hingga menerapkan perubahan kebijakan.
Ia memulai masa kepemimpinannya di tengah tekanan politik nan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap independensi The Fed. Trump terus mendesak bank sentral memangkas suku kembang guna mendorong aktivitas ekonomi AS.
Trump sebelumnya kerap mengkritik dan menyerang pendahulu Warsh, Jerome Powell, lantaran dinilai lambat memangkas suku bunga. Pemerintahan Trump apalagi sempat menargetkan Powell dalam penyelidikan pidana dan hingga sekarang tetap berupaya mencopot salah satu gubernur The Fed, Lisa Cook.
Dalam sidang konfirmasi di Komite Perbankan Senat AS, Warsh berjanji menjaga independensi The Fed dan menegaskan dirinya “sama sekali tidak” bakal menjadi boneka Trump.
Namun, dalam pidato pelantikannya, Warsh tidak lagi menyinggung rumor independensi. Ia justru berjanji bakal menantang “kerangka dan model statis”, serta menjaga “standar integritas dan keahlian nan jelas.”
Profil Kevin Warsh, Ketua The Fed Pilihan Trump
Warsh lahir dan besar di Albany, New York. Ia menempuh pendidikan di Stanford University dan Harvard Law School. Ia menikah dengan Jane Lauder, cucu pendiri perusahaan kosmetik Estee Lauder. Ayah Jane, Ronald Lauder, merupakan miliarder dan sekutu lama Trump.
Warsh memulai pekerjaan di bank investasi Morgan Stanley dengan konsentrasi pada merger dan akuisisi. Ia kemudian berasosiasi dengan pemerintahan Presiden George W. Bush sebagai penasihat kebijakan ekonomi Gedung Putih pada 2002–2006 sebelum ditunjuk menjadi personil Dewan Gubernur The Fed.
Warsh menjabat saat krisis finansial dunia dan akhirnya keluar pada 2011 lantaran perbedaan pandangan mengenai langkah bank sentral menangani krisis tersebut. Setelah itu, dia kembali bekerja di Wall Street dan duduk di jejeran dewan sejumlah perusahaan, termasuk UPS.
“Saya memandang The Fed dan orang-orang di dalamnya berada pada kondisi terbaiknya, tetapi saya juga menyaksikan lembaga nan tergoda memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dan masyarakat,” kata Warsh.
Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Trump nan menilai The Fed semestinya konsentrasi pada tugas utamanya dan tidak melebar ke rumor lain.
Rekam Jejak Kevin Warsh di The Fed
Pada masa kedudukan pertamanya di The Fed, Warsh dikenal sebagai pejabat nan condong mendukung kebijakan pengetatan untuk menekan inflasi melalui kenaikan suku bunga. Namun dalam beberapa tahun terakhir, dia mulai sejalan dengan tuntutan Trump untuk menurunkan suku kembang meski inflasi AS tetap tinggi sejak pandemi Covid-19.
Warsh menyalahkan tingginya inflasi pada “kesalahan kebijakan” The Fed pada 2021 dan 2022.
Ia juga menyerukan perubahan rezim dalam pengambilan kebijakan, termasuk mengubah info nan digunakan The Fed dalam mengambil keputusan, menghapus strategi dari komunikasi kebijakan, serta mendorong perdebatan nan lebih terbuka di internal bank sentral.
Selain itu, Warsh mau mengecilkan neraca The Fed dan lebih mengutamakan penggunaan suku kembang sebagai instrumen utama bank sentral.
Senior Fellow Brookings Institution, David Wessel, mengatakan Warsh memang membawa agenda nan luas, namun publik perlu memandang tindakan nyata nan diambilnya, bukan hanya pernyataannya.
Menurut Wessel, Warsh tidak bakal bisa begitu saja memaksakan kehendaknya di The Fed dan tetap kudu bekerja sama dengan para kreator kebijakan lainnya.
“Ia sangat lembut dalam pendekatan dan cukup baik dalam berasosiasi dengan orang lain. Itu bakal membantunya selama dia tidak bergerak terlalu sigap alias terlalu radikal,” ujar Wessel kepada AFP.
Sementara itu, guru besar norma Columbia University, Kathryn Judge, menilai perpecahan nan sudah ada di internal The Fed bakal menjadi tantangan besar bagi Warsh.
“Saya rasa kita kudu menunggu dan melihat. Sudah lama kita tidak mempunyai ketua The Fed nan datang dengan tujuan membentuk arah baru, bukan sekadar melanjutkan keberhasilan pendahulunya,” kata Judge.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·