Ketua MUI Sambut Damai AS-Iran, Harap Jadi Momentum Hentikan Konflik di Gaza

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim (dua kanan). Foto: Bayu Pratama S/Antara Foto

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, menyambut baik tercapainya kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut Sudarnoto, kesepakatan tersebut merupakan langkah positif untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah sekaligus membuka kesempatan terciptanya stabilitas area nan lebih berkelanjutan.

"Saya, atas nama MUI, menyambut baik dan memberikan apresiasi atas tercapainya kesepakatan tenteram antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran," kata Sudarnoto dalam keterangannya.

Ia berambisi kesepakatan tersebut bisa mengakhiri ketegangan nan selama ini membayangi kawasan, mencegah eskalasi bentrok nan lebih luas, serta mendorong terciptanya perdamaian dunia.

Tak hanya itu, Sudarnoto juga berambisi momentum tenteram AS-Iran dapat menjadi pintu masuk untuk menghentikan kekerasan nan tetap berjalan di Palestina, khususnya di Gaza.

"Perdamaian itu merupakan nilai universal nan sejalan dengan aliran Islam, cita-cita kemanusiaan, serta amanah nan tertuang dalam Pembukaan UUD 1945," ujarnya.

Cegah Krisis dan Gejolak Ekonomi Global

Sudarnoto menilai penghentian bentrok antara AS dan Iran mempunyai sejumlah akibat strategis bagi area maupun dunia.

Menurut dia, kesepakatan tenteram tersebut dapat mencegah meluasnya perang nan berpotensi menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan krisis kemanusiaan di Timur Tengah.

Selain itu, perdamaian juga dinilai krusial untuk menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz nan menjadi jalur utama perdagangan dan pengedaran daya global.

Ia menambahkan, meredanya ketegangan di area Teluk dapat membantu menekan akibat lonjakan nilai minyak bumi nan selama ini kerap dipicu situasi geopolitik.

"Stabilitas pasokan daya dan perdagangan internasional sangat krusial untuk menjaga ekonomi global, termasuk menekan inflasi dan menjaga kesejahteraan masyarakat di beragam negara berkembang," katanya.

Lebih lanjut, Sudarnoto menegaskan bahwa kesepakatan tenteram AS-Iran semestinya menjadi titik awal pembentukan arsitektur keamanan area nan lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong pembentukan sistem perbincangan dan komunikasi permanen nan melibatkan negara-negara mengenai untuk menyelesaikan perbedaan melalui jalur diplomasi. Sudarnoto juga meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional mengawal penerapan kesepakatan tenteram secara setara dan transparan.

"Agar semua pihak menjunjung tinggi prinsip norma internasional, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan penyelesaian sengketa secara damai," ujarnya.

Desak Penghentian Kekerasan di Gaza

Dalam pernyataannya, Sudarnoto turut menyoroti bentrok nan tetap berjalan di Gaza dan wilayah sekitarnya.

Ia berambisi semangat perdamaian nan melandasi kesepakatan AS-Iran dapat diteruskan menjadi langkah nyata untuk menghentikan kekerasan, agresi militer, dan pelanggaran kewenangan asasi manusia di beragam wilayah konflik.

Secara khusus, Sudarnoto berambisi Pemerintah AS menggunakan pengaruh politik dan diplomatiknya untuk mendorong penghentian serangan nan menimbulkan korban sipil di Gaza, Palestina, maupun Lebanon.

"MUI menegaskan bahwa penghentian perang, pembukaan akses support kemanusiaan tanpa hambatan, perlindungan terhadap penduduk sipil, penghormatan terhadap norma humaniter internasional, serta dimulainya proses penyelesaian politik nan setara bagi rakyat Palestina kudu menjadi bagian krusial dari agenda perdamaian area pasca-kesepakatan Amerika Serikat dan Iran," kata dia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan