Ketika Warga Turun Tangan Bantu Negara Perbaiki Jalan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Jalan dan jembatan semestinya menjadi urat nadi nan dibangun dan dipelihara negara. Namun, di sejumlah daerah, penantian nan terlalu lama membikin masyarakat memilih tidak lagi sekadar menunggu.

Mereka bergotong royong, mengumpulkan uang, menjual ternak, hingga merogoh tabungan pribadi agar akses nan setiap hari mereka lewati kembali bisa digunakan.

Fenomena ini muncul nyaris berbarengan di beragam daerah. Mulai dari Brebes; Lampung Timur; hingga Bener Meriah, Aceh; masyarakat mengambil alih pekerjaan nan semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah.

Di kembali kisah-kisah itu tersimpan dua sisi nan berbeda, semangat gotong royong nan patut diapresiasi sekaligus pertanyaan besar tentang hadirnya negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Di Desa Tembongraja, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tindakan penduduk nan rela urunan apalagi menjual ternak demi memperbaiki jalan rusak sempat viral pada September 2025. Kisah tersebut memantik simpati publik sekaligus memunculkan pertanyaan kenapa masyarakat kudu menanggung biaya perbaikan jalan.

Menanggapi sorotan itu, Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma turun langsung ke lokasi. Ia menjelaskan bahwa perbaikan ruas Jalan Salem–Tembongraja sebenarnya telah dianggarkan sejak Maret 2025 sebesar Rp 700 juta, terdiri atas Rp 500 juta untuk peningkatan jalan dan Rp 200 juta untuk pemeliharaan.

"Sebenarnya jalan ini sudah masuk anggaran sejak Maret. Kontrak dengan penyedia pun sudah diteken 28 Agustus, sasaran rampung awal Oktober," ujar Paramitha.

Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Brebes juga memastikan survei teknis telah dilakukan jauh sebelum tindakan penduduk berlangsung. Bahkan, komunikasi dengan tokoh masyarakat telah dilakukan sebagai bagian dari proses persiapan pembangunan.

Bagi warga, persoalannya bukan sekadar soal anggaran, melainkan lamanya penantian.

"Sudah sangat lama jalan ini tidak disentuh. Terakhir ada pokir dari majelis 2016, itu pun kecil, hanya Rp 200 juta. Belakangan belum ada lagi penanganan. Memang saya mendengar bakal ada ramai-ramai turun, padahal saya tahu jalan sudah disurvei. Baru tahun ini Pemda betul-betul turun memperbaiki," kata Santoyo (75), penduduk Tembongraja.

Pemerintah Kabupaten Brebes kemudian memastikan bakal menambah alokasi anggaran menjadi Rp 2 miliar pada 2026 agar penanganan ruas tersebut dapat diselesaikan lebih cepat. Paramitha juga menegaskan pemerintah kudu datang setelah masyarakat menunjukkan pengorbanannya.

"Hari ini saya datang tidak dengan janji, tapi dengan solusi. Rakyat sudah berkorban, sekarang giliran pemerintah datang penuh," tegasnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑