Di kampus hari ini, ukuran keberhasilan tidak selalu jelas. Kita bicara tentang mutu, penelitian, dan kontribusi keilmuan. Namun dalam praktik sehari-hari, nan lebih sigap dikenali justru posisi, jaringan, dan keahlian mengelola ruang kekuasaan.
Perubahan ini tidak terjadi sekaligus. Ia terbentuk dari kebiasaan nan dibiarkan. Dari keputusan-keputusan mini nan diulang: siapa nan diberi ruang, siapa nan diangkat, siapa nan didengar. Lama-lama, standar itu menjadi wajar.
Di situ letak persoalannya.
Cukup melangkah sejenak di koridor kampus, kita bisa memandang perbedaannya.
Ada pengajar nan selesai mengajar, lampau tetap tinggal. Ia berbincang dengan mahasiswa nan belum paham, membuka ulang catatan, alias sekadar menguji kembali apakah nan disampaikan tadi betul-betul sampai. Di meja kerjanya, ada kitab nan dibaca bukan lantaran tuntutan, melainkan lantaran kebutuhan.
Di sisi lain, ada nan beranjak dari satu rapat ke rapat lain. Agenda padat, nama sering disebut, kehadiran selalu dicatat. Namun jika diminta menjelaskan satu konsep dasar di bidangnya sendiri, jawabannya sering umum, aman, dan tidak menyentuh inti.
Kita tahu perbedaan ini. Masalahnya, kita tidak selalu jujur dalam menilainya.
Ada kecenderungan untuk memaklumi hal-hal nan sebenarnya tidak layak dimaklumi. Ketika seseorang naik kedudukan tanpa rekam jejak akademik nan kuat, kita diam. Ketika keputusan diambil tanpa pertimbangan ilmiah nan memadai, kita anggap itu bagian dari mekanisme.
Padahal, setiap pembiaran membentuk standar baru.
Dan standar itu tidak berakhir di ruang dosen. Ia sampai ke mahasiswa. Mereka belajar bukan hanya dari materi kuliah, melainkan juga dari apa nan mereka lihat: siapa nan dihargai, siapa nan diabaikan, dan gimana langkah memperkuat di dalam sistem.
Jika nan mereka lihat adalah bahwa kedudukan lebih krusial daripada kompetensi, itulah nan bakal mereka pelajari.
Di tengah situasi seperti ini, bekerja dengan betul sering terasa tidak efisien. Membaca butuh waktu. Meneliti butuh ketekunan, mengajar dengan serius tidak selalu memberi untung langsung, sementara jalan lain terlihat lebih cepat: mengelola relasi, mengambil posisi, alias sekadar mengikuti arus.
Banyak nan akhirnya memilih menyesuaikan diri. Tidak selalu lantaran tidak tahu, tetapi lantaran tidak mau tertinggal.
Namun ada akibat nan jarang dibicarakan: ketika terlalu lama menyesuaikan diri, seseorang bisa kehilangan keahlian dasarnya. Ia tidak lagi terbiasa membaca secara mendalam. Tidak lagi terlatih menyusun argumen. Tidak lagi nyaman berada dalam proses berpikir nan jujur.
Di titik itu, kedudukan memang bisa dipertahankan. Namun, pengetahuan sudah tidak lagi menjadi pegangan.
Karena itu, pembicaraan tentang perbaikan tidak bisa hanya berakhir pada regulasi. Kita perlu memandang kembali praktik sehari-hari.
Apa nan sebenarnya terjadi di kelas?
Bagaimana proses sebuah penelitian dijalankan?
Apakah pengabdian betul-betul menyentuh persoalan masyarakat, alias sekadar formalitas?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tidak memerlukan laporan panjang. Cukup dilihat dari langkah kerja.
Ada pendekatan nan mulai berkembang di beberapa tempat: mengembalikan aktivitas akademik ke situasi nyata. Mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam proses. Dosen tidak hanya menjelaskan, tetapi juga bekerja bersama. Kegiatan tidak berakhir sebagai agenda, tetapi didokumentasikan dan diolah menjadi pengetahuan.
Pendekatan seperti ini menuntut konsistensi. Tidak bisa dijalankan setengah-setengah. Namun kelebihannya jelas: kualitas kerja terlihat langsung. Tidak ada ruang untuk berpura-pura.
Di situ, posisi tidak banyak membantu. nan menentukan adalah kemampuan.
Hal lain nan perlu dibicarakan secara terbuka adalah rasa malu. Bukan dalam makna negatif, melainkan sebagai pengingat batas.
Malu ketika berbincang tanpa dasar.
Malu ketika mengambil peran nan tidak bisa dijalankan.
Malu ketika lebih sibuk mengatur gambaran daripada memperbaiki isi.
Rasa ini penting, lantaran tanpa itu, semua bisa dibenarkan.
Menjadi pengajar semestinya tidak dipahami sebagai status nan sekali didapat, lampau selesai. Ia adalah posisi nan kudu terus dibuktikan. Bukan kepada sistem, melainkan kepada pengetahuan itu sendiri.
Setiap perkuliahan adalah kesempatan untuk memastikan bahwa nan disampaikan tetap relevan.
Setiap penelitian adalah upaya untuk tidak mengulang apa nan sudah diketahui.
Setiap hubungan dengan mahasiswa adalah ruang untuk menjaga agar pengetahuan tidak berakhir pada teori.
Tidak ada langkah sigap untuk itu.
Kampus tidak bakal berubah hanya lantaran kebijakan baru. Ia berubah ketika langkah kerja di dalamnya berubah. Ketika lebih banyak pengajar memilih membaca daripada sekadar merujuk, memahami sebelum menyimpulkan, dan mengajar dengan tujuan, bukan sekadar menyelesaikan jadwal.
Pilihan-pilihan ini tidak selalu memberi untung langsung. Namun dalam jangka panjang, dia menentukan arah.
Jika tetap ada nan memperkuat dengan langkah kerja seperti ini, tetap ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan. Jika tidak, kampus bakal tetap berjalan, tetapi kehilangan fungsinya nan paling dasar.
Dan pada titik itu, kita tidak lagi bicara tentang mutu alias akreditasi. Kita bicara tentang hilangnya kepercayaan terhadap pengetahuan itu sendiri.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·