Ketika Self-Reward Menjadi Self-Trap

Sedang Trending 5 hari yang lalu
Foto: Pexels/Sam Lion

"Aku layak membeli ini, kan sudah kerja keras." Kalimat seperti itu mungkin pernah terlintas di akal banyak orang. Setelah menyelesaikan pekerjaan, menghadapi tekanan kuliah, alias sukses mencapai sasaran tertentu, membeli peralatan nan diinginkan sering dianggap sebagai corak penghargaan terhadap diri sendiri alias self-reward. Pada dasarnya, tidak ada nan salah dengan kebiasaan tersebut.

Menghargai upaya nan telah dilakukan memang krusial agar seseorang tetap termotivasi. Namun, makna self-reward perlahan mengalami pergeseran. Di media sosial, istilah ini semakin sering dikaitkan dengan aktivitas konsumtif, seperti membeli busana baru, menikmati makanan mahal, berburu produk nan sedang viral, hingga berpiknik ke tempat nan sedang tren.

Banyak konten nan seolah-olah menyampaikan bahwa setiap pencapaian kudu dirayakan dengan membeli sesuatu. Akibatnya, self-reward bukan lagi sekadar corak apresiasi terhadap diri, melainkan menjadi pembenaran untuk terus berbelanja. Di sisi lain, media sosial juga membentuk standar baru tentang gimana seseorang "menghargai diri".

Unggahan mengenai kopi di kafe, haul belanja, staycation, alias barang-barang bermerek sering dikemas sebagai corak self-reward. Tanpa disadari, banyak orang mulai merasa bahwa menghargai diri kudu selalu diwujudkan melalui pembelian. Padahal, setiap orang mempunyai kondisi finansial nan berbeda. Ketika kemauan mengikuti tren lebih besar daripada keahlian finansial, nan muncul justru tekanan dan rasa bersalah setelah berbelanja.

Self-reward krusial untuk menjaga keseimbangan hidup. Hanya saja, sudah saatnya kita memaknai kembali makna menghargai diri. Self-reward tidak selalu kudu dibayar dengan uang. Memberi waktu untuk beristirahat tanpa merasa bersalah, menikmati hobi, membaca buku, melangkah santuy di taman, memasak makanan favorit di rumah, alias menghabiskan waktu berbareng family dan sahabat juga merupakan corak penghargaan terhadap diri sendiri.

Ukuran self-reward bukan terletak pada seberapa mahal bingkisan nan kita beli, melainkan pada apakah perihal tersebut betul-betul membawa faedah bagi diri kita. Menghargai diri bukan berfaedah selalu memenuhi setiap keinginan, tetapi juga berani membedakan antara kebutuhan dan dorongan sesaat. Sebab, self-reward nan sehat semestinya membikin hidup terasa lebih ringan, bukan meninggalkan beban nan kudu dibayar di kemudian hari.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan