Ketika Guru Berlibur Menjadi Investasi bagi Masa Depan Pendidikan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Seorang pembimbing menikmati secangkir teh di teras rumah sembari menyaksikan mentari terbit (unsplash)

Ada dugaan nan tetap sering terdengar di masyarakat bahwa pembimbing adalah pekerjaan nan "banyak libur". Sekilas memang tampak demikian. Ada libur semester, libur akhir tahun, libur hari besar, dan beragam jarak akademik lainnya. Namun, benarkah pembimbing betul-betul sedang berlibur?

Bagi banyak guru, masa liburan justru diisi dengan menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti pelatihan, menyelesaikan administrasi, mengoreksi tugas, menyusun laporan, hingga menghadiri beragam aktivitas sekolah. Ketika tahun aliran dimulai kembali, mereka kembali memasuki rutinitas nan padat: mengajar, mendampingi murid, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti rapat, hingga memenuhi beragam tuntutan administrasi. Rutinitas ini berjalan nyaris tanpa jarak sepanjang tahun.

Padahal, seperti pekerjaan lainnya, pembimbing juga manusia. Mereka memerlukan waktu untuk memulihkan daya fisik, menenangkan pikiran, mempererat hubungan dengan keluarga, dan mengisi kembali semangat nan perlahan terkuras oleh tanggung jawab sehari-hari.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rehat nan cukup bisa menurunkan akibat burnout, meningkatkan kesehatan mental, memperbaiki kreativitas, dan membikin seseorang kembali bekerja dengan motivasi nan lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan, pembimbing nan sehat secara bentuk dan emosional bakal lebih sabar menghadapi murid, lebih imajinatif dalam merancang pembelajaran, dan lebih bisa membangun hubungan nan positif di kelas.

Ironisnya, kesempatan menikmati liburan nan berbobot belum dapat dirasakan oleh semua guru.

Bagi sebagian pembimbing ASN dengan pendapatan nan relatif lebih stabil, merencanakan liburan family mungkin tetap memungkinkan, meskipun tetap memerlukan pengelolaan finansial nan bijaksana. Namun bagi pembimbing PPPK nan tetap menghadapi beragam kebutuhan hidup, pembimbing non-ASN dengan penghasilan nan beragam, terlebih pembimbing honorer nan di sejumlah wilayah tetap menerima penghasilan nan sangat terbatas, liburan sering kali menjadi kemewahan nan susah dijangkau. Prioritas mereka adalah memenuhi kebutuhan pokok keluarga, bukan merencanakan perjalanan wisata.

Di sinilah persoalan kesejahteraan pembimbing menjadi krusial untuk dibicarakan. Ketika negara berambisi pembimbing terus meningkatkan kualitas pembelajaran, menguasai teknologi, memahami kepintaran buatan (AI), menerapkan pembelajaran mendalam, sekaligus menjadi teladan karakter bagi murid, maka perhatian terhadap kesejahteraan mereka tidak boleh berakhir pada training dan tuntutan profesionalisme. Guru juga memerlukan ruang untuk memulihkan diri.

Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan pembimbing memang terus berkembang melalui beragam kebijakan, seperti peningkatan tunjangan profesi, pengangkatan PPPK, serta beragam program peningkatan kompetensi. Namun, realitas di lapangan tetap menunjukkan adanya kesenjangan, terutama bagi pembimbing honorer dan sebagian pembimbing non-ASN nan belum menikmati tingkat kesejahteraan nan memadai. Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah nan perlu terus diselesaikan secara berjenjang dan berkelanjutan.

Namun, keterbatasan ekonomi tidak berfaedah seseorang kehilangan kesempatan untuk beristirahat secara bermakna. Liburan nan memulihkan tidak selalu identik dengan perjalanan jauh alias biaya besar. nan terpenting adalah memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk keluar sejenak dari rutinitas.

Beberapa langkah sederhana dapat menjadi pilihan. Menghabiskan waktu berbareng family tanpa gangguan pekerjaan, mengunjungi taman kota alias ruang terbuka hijau, menikmati suasana alam di sekitar tempat tinggal, membaca kitab nan selama ini tertunda, berolahraga ringan, menekuni hobi, mengikuti kajian alias aktivitas spiritual, hingga sekadar mematikan telepon genggam selama beberapa jam untuk betul-betul datang berbareng orang-orang tercinta. Bahkan secangkir kopi di teras rumah sembari menyaksikan mentari terbit dapat menjadi corak liburan nan menenangkan jika dijalani dengan penuh kesadaran.

Bagi guru, liburan juga dapat menjadi waktu untuk melakukan refleksi. Apa nan sudah melangkah baik selama satu semester? Apa nan perlu diperbaiki? Inspirasi pembelajaran sering kali lahir justru ketika pikiran sedang rileks, bukan ketika diburu oleh agenda nan padat.

Pada akhirnya, mendukung pembimbing untuk beristirahat bukan berfaedah mengurangi profesionalisme mereka. Justru sebaliknya, memberi ruang bagi pembimbing untuk memulihkan diri adalah investasi bagi kualitas pembelajaran. Murid memerlukan pembimbing nan datang dengan energi, kreativitas, dan kebahagiaan. Semua itu tidak mungkin tercipta jika pembimbing terus bekerja tanpa kesempatan untuk mengisi ulang dirinya.

Guru nan senang bakal lebih mudah membahagiakan muridnya. Guru nan sehat bakal lebih bisa menumbuhkan generasi nan sehat. Karena itu, liburan bukanlah kemewahan bagi guru. Liburan adalah bagian dari menjaga kualitas pendidikan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan