Ketika Circle Pertemanan Berubah Setelah Masuk Kuliah

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Sumber: Dokumen Pribadi

Dulu sahabat semasa SMA terasa seperti bakal memperkuat selamanya. Ada janji untuk tetap dekat meski berpisah kampus, ada grup chat nan ramai setiap hari, ada rencana liburan berbareng nan selalu dibicarakan. Namun beberapa bulan setelah masuk kuliah, semua itu perlahan berubah. Chat nan dulu ramai sekarang sepi. Pertemuan nan dulu rutin sekarang jarang terjadi. Dan tanpa disadari, circle pertemanan nan dulu terasa begitu erat sekarang terasa jauh, apalagi terkadang seperti orang asing.

Perubahan nan Wajar, Tapi Tidak Selalu Mudah Diterima

Pergeseran circle pertemanan setelah masuk kuliah adalah kejadian nan sangat umum terjadi, namun jarang dibicarakan secara terbuka lantaran dianggap menyakitkan alias memalukan untuk diakui. Banyak mahasiswa diam-diam merasa kehilangan, bingung, apalagi menyalahkan diri sendiri ketika pertemanan lama mulai merenggang, padahal ini adalah bagian alami dari proses pertumbuhan seseorang.

Saat memasuki bumi kuliah, setiap orang mulai menjalani kehidupan dengan ritme, lingkungan, dan tantangan nan sangat berbeda satu sama lain. Jurusan nan berbeda membentuk pola pikir nan berbeda. Lingkungan kampus nan berbeda membentuk nilai dan prioritas nan berbeda. Bahkan jarak fisik, jika berkuliah di kota nan berbeda, secara alami mengurangi intensitas hubungan nan dulu terjadi setiap hari.

Kenapa Hal Ini Terasa Menyakitkan?

Pertemanan masa sekolah sering kali terbentuk dalam kondisi nan sangat intens, berjumpa nyaris setiap hari selama bertahun-tahun, melalui banyak momen krusial bersama. Kedekatan semacam ini menciptakan ikatan emosional nan kuat, sehingga ketika ikatan itu mulai meregang, rasanya seperti kehilangan bagian dari diri sendiri.

Selain itu, ada juga rasa kecewa ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Janji untuk tetap dekat sering diucapkan dengan tulus, namun kenyataannya, mempertahankan kedekatan memerlukan upaya aktif dari kedua belah pihak, nan tidak selalu bisa dilakukan di tengah kesibukan dan prioritas baru masing-masing.

Media sosial juga memperumit emosi ini. Melihat mantan circle pertemanan terlihat senang dengan circle baru mereka, sementara diri sendiri merasa tertinggal alias dilupakan, bisa memunculkan emosi cemburu, sedih, apalagi rasa tidak berbobot nan sebenarnya tidak proporsional dengan situasi nan sesungguhnya terjadi.

Bukan Berarti Pertemanan Itu Palsu

Penting untuk dipahami bahwa merenggangnya sebuah pertemanan tidak serta-merta berfaedah bahwa pertemanan itu dulu tidak tulus alias tidak bermakna. Pertemanan bisa sangat berfaedah pada masanya, memberikan dukungan, kebahagiaan, dan kenangan nan berharga, meskipun pada akhirnya tidak memperkuat selamanya dalam corak nan sama.

Manusia terus bertumbuh dan berubah sepanjang hidupnya, dan wajar jika tidak semua pertemanan tumbuh dengan arah nan sama. Mengakhiri alias merenggangnya sebuah pertemanan bukan kegagalan, melainkan bagian alami dari proses menemukan circle nan betul-betul sesuai dengan diri seseorang di fase kehidupan nan baru.

Membangun Circle Baru Tanpa Rasa Bersalah

Banyak mahasiswa merasa bersalah ketika mulai dekat dengan teman-teman baru di kampus, seolah-olah perihal itu adalah corak pengkhianatan terhadap circle lama. Padahal, membangun pertemanan baru adalah bagian sehat dari proses penyesuaian dan pertumbuhan diri.

Circle pertemanan di masa kuliah sering kali terbentuk berasas kesamaan minat, nilai, alias tujuan hidup nan lebih matang dibandingkan pertemanan masa sekolah nan seringkali terbentuk hanya lantaran kedekatan bentuk di kelas nan sama. Memberi ruang bagi diri sendiri untuk membangun relasi baru tidak menghapus nilai dari pertemanan lama, melainkan menambah warna baru dalam perjalanan hidup nan terus berkembang.

Menjaga nan Memang Layak Dijaga

Meski tidak semua pertemanan lama bakal bertahan, bukan berfaedah semuanya kudu dilepaskan begitu saja. Beberapa pertemanan justru menemukan corak barunya nan lebih dewasa, di mana kedekatan tidak lagi diukur dari intensitas pertemuan, melainkan dari kualitas momen nan dihabiskan berbareng meski jarang bertemu.

Pertemanan nan layak dipertahankan adalah pertemanan nan tetap terasa hangat meski sudah lama tidak berkomunikasi, di mana kedua pihak sama-sama berupaya menjaga hubungan tersebut, bukan hanya satu pihak nan terus berupaya sendirian. Belajar mengenali pertemanan seperti ini, dan dengan lapang dada melepaskan nan memang sudah waktunya berubah, adalah bagian krusial dari kedewasaan emosional nan dibentuk selama masa kuliah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan