Ketika Anak Terlalu Banyak Bertanya

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi anak. Foto: PeopleImages/Shutterstock

Suatu hari, seorang siswa menghampiri saya sesaat setelah pelajaran dimulai. Ia bertanya kenapa awan bisa melayang-layang di langit. Saya menjawab singkat, lampau melanjutkan pelajaran. Namun beberapa menit kemudian, dia kembali mengangkat tangan dan bertanya: Mengapa awan nan terlihat besar dan berat tidak jatuh ke bumi?

Belum selesai saya menjawab, pertanyaan lain muncul tentang hujan, angin, dan beragam perihal nan menurutnya menarik. Sebagai guru, saya mengakui bahwa pada saat-saat tertentu, pertanyaan nan datang berkali-kali seperti itu bisa terasa melelahkan. Ketika sasaran materi kudu diselesaikan dan waktu belajar terbatas, anak nan terlalu banyak bertanya kadang dianggap mengganggu jalannya pembelajaran.

Namun semakin lama saya mengajar, semakin saya menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan lantaran anak terlalu banyak bertanya. Bisa jadi kita lah nan terlalu terbiasa dengan jawaban.

Dalam bumi pendidikan, kita sering lebih konsentrasi pada keahlian anak menjawab soal daripada kemampuannya mengusulkan pertanyaan. Padahal, nyaris semua penemuan besar dalam sejarah manusia berasal dari satu perihal nan sederhana: seseorang nan cukup penasaran untuk bertanya mengapa.

Ilustrasi anak. Foto: Irina WS/Shutterstock

Berbagai penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa rasa mau tahu merupakan salah satu mesin utama pembelajaran. Anak-anak usia awal dapat mengusulkan puluhan, apalagi ratusan pertanyaan dalam sehari untuk memahami bumi di sekitarnya.

Mereka tidak sedang asal berbincang alias mencari perhatian semata. Ketika seorang anak bertanya "mengapa?", sesungguhnya dia sedang melakukan proses berpikir nan sangat kompleks. Ia mengawasi sesuatu, menemukan kejanggalan, lampau berupaya mencari penjelasan nan masuk akal. Dengan kata lain, anak nan banyak bertanya sebenarnya sedang mempraktikkan dasar-dasar metode ilmiah jauh sebelum dia mengenal istilah tersebut.

Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa mau tahu mempunyai hubungan erat dengan keberhasilan akademik. Anak-anak nan mempunyai tingkat penasaran nan tinggi condong lebih terlibat dalam pembelajaran, mempunyai keahlian membaca nan lebih baik, dan menunjukkan ketekunan nan lebih tinggi ketika menghadapi kesulitan.

Pertanyaan nan mereka ajukan bukan penghambat belajar, melainkan tanda bahwa proses belajar sedang berlangsung. Sayangnya, dalam praktik pendidikan sehari-hari, pertanyaan sering kali dianggap sebagai gangguan terhadap alur pembelajaran nan telah direncanakan.

Ilustrasi pendidikan. Foto: Dok. Kemendikdasmen

Di kembali itu semua, ada sisi lain nan sering luput dari perhatian orang dewasa. Tidak semua pertanyaan lahir lantaran anak memerlukan informasi. Sebagian pertanyaan lahir lantaran anak memerlukan hubungan. Banyak orang tua maupun pembimbing pernah mengalami situasi ketika seorang anak terus bertanya meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.

Setelah satu pertanyaan dijawab, muncul pertanyaan lain nan tidak kalah sederhana. Dalam banyak kasus, nan sedang dicari anak bukan sekadar pengetahuan, melainkan juga kehadiran. Pertanyaan menjadi langkah mereka membangun percakapan dan memastikan bahwa ada orang dewasa nan bersedia mendengarkan.

Pandangan ini mengingatkan saya pada gimana Rasulullah SAW memperlakukan anak-anak. Dalam beragam riwayat, Rasulullah dikenal sebagai sosok nan dekat dengan bumi anak. Beliau tidak menjaga jarak, tidak memandang mereka sebagai pengganggu, dan tidak memperlakukan mereka sebagai manusia nan kudu selalu tak bersuara mendengarkan. Rasulullah menyapa mereka, berbual berbareng mereka, mendoakan mereka, apalagi menyesuaikan diri dengan bumi mereka.

Dalam sebuah sabda nan diriwayatkan dalam Kanzul Ummal, Rasulullah bersabda, "Siapa nan mempunyai anak mini hendaknya berperilaku seperti mereka." Pesan ini menunjukkan bahwa memahami anak tidak cukup dilakukan dari perspektif pandang orang dewasa. Kita perlu bersedia memasuki bumi mereka, memandang dengan langkah mereka melihat, dan mendengar dengan kesabaran nan mereka butuhkan.

Ilustrasi siswa bertanya. Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Karena itu, ketika seorang anak terus bertanya, mungkin pertanyaan nan perlu kita ajukan bukanlah "Kapan dia bakal berakhir bertanya?" Pertanyaan nan lebih krusial adalah "Apakah kita tetap mempunyai kesabaran untuk mendengarkannya?" Tentu tidak semua pertanyaan kudu dijawab panjang lebar. Tidak semua rasa mau tahu kudu dipenuhi saat itu juga.

Namun langkah kita merespons pertanyaan anak bakal menentukan apakah rasa mau tahunya tumbuh alias perlahan padam. Anak nan berulang kali diabaikan mungkin bakal berakhir bertanya. Masalahnya, ketika pertanyaan berhenti, sering kali rasa mau tahu ikut berakhir tumbuh.

Pada akhirnya, anak nan banyak bertanya mungkin memang menguji kesabaran kita. Namun sejarah kemajuan manusia dibangun oleh orang-orang nan tidak pernah berakhir mempertanyakan bumi di sekelilingnya. Para ilmuwan, penemu, pemikir, dan pembaru lahir dari keberanian untuk mengusulkan pertanyaan nan dianggap sederhana oleh orang lain.

Karena itu, tugas kita sebagai orang tua dan pendidik bukan membikin anak berakhir bertanya. Tugas kita adalah menjaga agar mereka tidak kehilangan keberanian untuk melakukannya. Sebab bisa jadi, di kembali pertanyaan-pertanyaan nan tampak remeh hari ini, sedang tumbuh keahlian berpikir nan bakal mereka bawa sepanjang hidupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan