Ketidakpastian Global Meningkat, Fundamental Ekonomi Indonesia masih Solid

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ketidakpastian Global Meningkat, Fundamental Ekonomi Indonesia tetap Solid Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara(Antara)

Perubahan lanskap perdagangan internasional dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia mendorong banyak negara untuk memperkuat fondasi ekonomi domestiknya. Dalam kondisi tersebut, stabilitas fiskal, daya tahan konsumsi masyarakat, dan keahlian menjaga kepercayaan penanammodal menjadi aspek utama dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Bagi Indonesia, permintaan domestik nan kuat dan pengelolaan kebijakan ekonomi nan hati-hati dinilai tetap menjadi penopang utama di tengah beragam tantangan dunia nan berkembang. Pandangan tersebut disampaikan Wakil Menteri Keuangan Republik Indonesia, Suahasil Nazara, dalam UBS Asian Investment Conference (AIC) 2026 nan berjalan di Singapura dan Hong Kong pada 25-29 Mei 2026.

Dalam forum investasi internasional tersebut, Suahasil memaparkan strategi Indonesia dalam menghadapi perubahan dinamika perdagangan dunia dan perkembangan geopolitik nan memengaruhi perekonomian dunia. Menurut dia, perekonomian Indonesia saat ini tetap ditopang oleh sejumlah aspek esensial nan kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, sektor manufaktur, dan jasa.

“Perekonomian Indonesia terus ditopang oleh aspek penggerak domestik nan kuat, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi, manufaktur, dan jasa. Pada saat nan sama, disiplin fiskal tetap menjadi jangkar bagi kredibilitas kebijakan kami. Batas maksimal defisit sebesar 3% bukan hanya patokan fiskal, melainkan sebuah sinyal atas komitmen Indonesia terhadap pengelolaan ekonomi nan bijak dan berkelanjutan,” ujar Suahasil.

Ia menambahkan bahwa pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas dunia lantaran didukung oleh kredibilitas kebijakan dan pedoman penanammodal domestik nan relatif kuat.

“Bahkan di tengah volatilitas global, pasar obligasi pemerintah Indonesia tetap tangguh, didukung oleh kredibilitas kebijakan dan pedoman penanammodal domestik nan stabil. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bakal terus berfaedah sebagai peredam kejut (shock absorber), guna melindungi daya beli masyarakat serta menjaga stabilitas makroekonomi,” katanya.

UBS Asian Investment Conference merupakan salah satu forum investasi terbesar di area Asia nan mempertemukan kreator kebijakan, penanammodal global, pelaku usaha, dan akademisi untuk membahas perkembangan ekonomi, pasar keuangan, serta tren investasi jangka panjang.

Pada penyelenggaraan tahun ini, konvensi tersebut mencatat partisipasi lebih dari 6.000 peserta dari beragam negara dan memfasilitasi lebih dari 3.000 pertemuan antara penanammodal dengan perusahaan publik maupun swasta.

Head of UBS Indonesia Research, UBS Investment Bank, Joshua Tanja, mengatakan Indonesia tetap mempunyai prospek pertumbuhan nan positif di tengah ketidakpastian global.

“Untuk Indonesia, UBS optimis bahwa prospek pertumbuhan bakal tetap stabil, didukung oleh permintaan domestik nan tangguh, kebijakan fiskal dan moneter nan bijaksana, serta momentum nan berkepanjangan di sektor manufaktur dan jasa. Konsumsi rumah tangga juga mendapat faedah dari support fiskal nan tepat sasaran, nan diharapkan dapat menopang pertumbuhan dalam jangka pendek,” ujarnya.

Selain membahas Indonesia, konvensi tersebut juga menghadirkan beragam obrolan mengenai arah pertumbuhan ekonomi global, kebijakan moneter, perkembangan geopolitik, transformasi teknologi, hingga prospek ekonomi negara-negara utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Beberapa pembicara nan datang antara lain peraih Nobel Ekonomi 2024 Simon Johnson, Presiden dan CEO Asia Society Kevin Rudd, Co-Founder Carlyle David Rubenstein, serta sejumlah mantan pejabat bank sentral dan pemimpin politik internasional. Melalui forum tersebut, para penanammodal dan kreator kebijakan memperoleh gambaran mengenai tantangan dan kesempatan ekonomi global, termasuk gimana negara-negara berkembang seperti Indonesia memposisikan diri untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia