Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci Menghadapi Ketidakpastian Global

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci Menghadapi Ketidakpastian Global The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 dilakukan secara Hybird.(Dok Istimewa)

Berbagai krisis dunia nan saling berangkaian memerlukan respons terpadu untuk menjaga stabilitas ekonomi, ketahanan daya dan pangan, serta keberlanjutan pembangunan.

Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, dan perkembangan kepintaran buatan jadi tantangan nan perlu diantisipasi negara-negara, termasuk Indonesia, dalam menghadapi dinamika bumi menuju 2030.

Persoalan itu menjadi sorotan dalam The 3rd International Conference on Global Issues (ICGI) 2026 nan diselenggarakan Universitas Nasional (Unas). Mengusung tema Beyond 2030: Redefining Global Resilience in the Age of Polycrisis, konvensi itu diikuti lebih dari 300 peserta secara luring dan daring dari tujuh negara.

Wakil Rektor Unas Prof Ernawati Sinaga mengatakan bumi sekarang menghadapi beragam krisis nan berjalan berbarengan dan saling memengaruhi. Kondisi tersebut dikenal sebagai polycrisis, ialah situasi ketika hubungan antarkrisis memperbesar kompleksitas persoalan dan menyulitkan upaya penanganannya.

Menurut dia, perubahan iklim, misalnya, dapat mengganggu ketahanan pangan, nan selanjutnya berakibat terhadap kesehatan dan stabilitas sosial. Kerusakan lingkungan juga menakut-nakuti keanekaragaman hayati, kesejahteraan masyarakat, serta keberlanjutan pembangunan ekonomi.
Di sisi lain, perkembangan kepintaran buatan dan teknologi baru menghadirkan kesempatan sekaligus tantangan bagi bumi kerja dan pendidikan. Persoalan etika, privasi, serta kesenjangan sosial turut menjadi perhatian dalam memastikan faedah teknologi dapat dirasakan secara lebih luas.

Ernawati menegaskan ketahanan tidak cukup dimaknai sebagai keahlian untuk pulih setelah krisis. Konsep tersebut juga mencakup keahlian mengantisipasi risiko, beradaptasi, melakukan transformasi, dan memperkuat kapabilitas menghadapi perubahan.

Ketua Pelaksana ICGI 2026 Robi Nurhadi menilai tantangan menuju 2030 semakin kompleks ketika bumi menghadapi fragmentasi dan meningkatnya ketidakpastian global.

“Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 tinggal empat tahun lagi, tapi bumi justru semakin terfragmentasi. Tiga subtema ICGI hari ini adalah jawaban atas polycrisis itu,” ujar Robi.

Tiga konsentrasi konvensi meliputi tata kelola global, ekonomi, serta daya dan pangan. Ketiganya berangkaian erat dengan stabilitas perdagangan internasional, keamanan pasokan kebutuhan pokok, dan keahlian negara menghadapi perubahan geopolitik.

Dalam forum tersebut, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi turut menyoroti pentingnya penghormatan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan norma internasional. Ia menekankan prinsip kesetaraan kedaulatan, integritas wilayah, serta nonintervensi dalam urusan internal negara lain sebagai landasan hubungan internasional.

Boroujerdi juga berpandangan penerapan norma internasional secara konsisten diperlukan untuk mendorong akuntabilitas dan mencegah tindakan sepihak negara-negara nan mempunyai pengaruh besar.
Konferensi ini turut menghadirkan akademisi dan pembicara dari Indonesia, Malaysia, Turki, Australia, Palestina, dan Thailand. Pertukaran perspektif lintas negara diharapkan memperluas pembahasan mengenai hubungan antara dinamika politik, ekonomi, lingkungan, dan teknologi.

Sebagai tindak lanjut, penyelenggara berencana menerbitkan Policy Brief Beyond 2030 Framework nan merangkum pendapat dan rekomendasi kebijakan dari konferensi. Dokumen tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam merumuskan strategi menghadapi krisis nan saling berkaitan.

Melalui forum ini, Unas mendorong kerjasama akademik internasional untuk memperkuat ketahanan dunia nan adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, baik dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 maupun menghadapi tantangan setelahnya.(H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑