Surabaya, CNN Indonesia --
Sebuah video nan memperlihatkan petani di Tuban, Jawa Timur, diangkut menggunakan drone alias moda nirawak saat pulang-pergi dari lahan perkebunan viral di media sosial usai diunggah lewat akun TikTok @mbahkaruhon.tiktok.com1.
Namun pemilik akun mengungkap, unggahan itu sebenarnya konten usil belaka.
Pemilik akun tersebut, ialah Direktur PT Bina Tani Makmur Jombang, Budianto (47), menegaskan kegunaan utama drone pertanian berkapasitas besar itu adalah untuk mengangkut pupuk, bibit, dan hasil panen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sebenarnya buat konten saja. Itu sebenarnya ya iseng-iseng saja," kata Budianto, penduduk asal Jombang, Jawa Timur ini, saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Selasa (7/7).
Drone itu, kata dia, digunakan untuk menyemprot cairan pestisida dan pupuk cair ke tanaman-tanaman di lahannya dari ketinggian. Metode itu dinilai efektif, dan efisien membantu kerja petani. Apalagi medan perkebunan nan dinilainya susah dijangkau.
Sesekali, kata Budianto, lantaran kekuatan drone tersebut nan bisa mengangkat beban hingga 150 kilogram, pesawat nirawak itu juga digunakannya untuk mengangkut pupuk dan bibit.
"Drone pertanian nan kapasitasnya besar itu kan muatannya air kan bisa 150 liter air. Nah, itu kita kita modifikasi, kita copot tandon airnya, kelak dikasih tali, tambang untuk ngikat pupuk alias bibit gitu," ujarnya.
Selain untuk mengangkut sarana produksi pertanian, Budianto mengungkapkan drone itu juga jadi solusi bagi petani-petani muda nan dinilainya ogah mengangkut pupuk kandang menuju lahan tanam.
Menurutnya, pekerja alias petani muda enggan mengangkut pupuk kandang secara manual meski ditawari bayaran tinggi, sehingga drone dijadikan solusi agar pekerjaan itu tetap bisa dilakukan generasi muda tanpa kudu bergesekan langsung dengan kotoran ternak.
"Anak muda itu kita tarik untuk agar kerja di kita ini enggak bisa, Mas. Enggak mau, siapa pun enggak mau meskipun penghasilan tinggi, enggak mau. Tapi jika kita fasilitasi drone. Nah, dia kan enggak megang kohe (pupuk kandang). Nah, nan megang kohe kan kelak petani-petani nan pekerja nan sudah tua, nan sudah terbiasa dengan aroma kotoran itu. Lah, nan muda-muda itu kan nan bagian operator dan lain-lain gitu kan," ucapnya.
Sedangkan momen petani nan diterbangkan dengan disangkutkan ke drone, Budianto sekali lagi menegaskan peristiwa itu murni hanya konten usil belaka bukan kegunaan utama perangkat tersebut.
"Itu kan sebenarnya kan tidak diperbolehkan untuk ngangkut orang, kan enggak boleh, Mas. nan real kan ya tetap ngangkut pupuk gitu," katanya.
Budianto mengakui perihal itu berasal dari rasa penasaran pribadinya untuk menguji kekuatan angkut perangkat tersebut, bukan direncanakan sebagai bagian dari operasional rutin.
"Itu sebenarnya ya iseng-iseng. 'Coba-coba ini angkut saya kuat enggak? Beratmu kan cuman mungkin 60 sampai 70 kilo diangkut, ya bisa nyampe sana'," ujarnya.
Ia memastikan hanya sebagian mini pekerja nan ikut diangkut drone dan itu pun sifatnya untuk intermezo semata, bukan metode transportasi kerja nan diterapkan pihaknya.
Ke depan, dia menyebut kegunaan drone tetap bakal diarahkan untuk kebutuhan pengedaran pupuk, bibit, dan hasil panen, sejalan dengan tujuan awal pembeliannya.
"Awalnya ya untuk pupuk, untuk bibit dan ke depannya kelak jika sudah panen ya untuk ngangkut itu, untuk hasil panen," pungkasnya.
(frd/fra)
Add
as a preferred source on Google
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·