Ketika pemerintah menargetkan swasembada pangan, perhatian publik umumnya tertuju pada luas tanam, pupuk, irigasi, alias besarnya produksi beras. Padahal, ada satu pertanyaan nan jarang dibahas: siapa nan bakal membiayai penemuan pertanian Indonesia? Tanpa riset nan kuat, swasembada hari ini berpotensi menjadi capaian jangka pendek nan susah dipertahankan di tengah perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan.
Produksi beras Indonesia pada 2025 nan mencapai sekitar 34,7 juta ton, meningkat sekitar 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui kebutuhan nasional sekitar 30–31 juta ton, tentu merupakan capaian nan patut diapresiasi.
Namun, pengalaman beragam negara menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi pada satu periode, melainkan oleh keahlian menghasilkan penemuan nan menjaga produktivitas secara berkelanjutan.
Arah pertanian bumi sekarang bergerak menuju precision agriculture alias pertanian presisi. Berbeda dengan metode konvensional nan memperlakukan seluruh lahan secara seragam (blanket application), pendekatan ini memanfaatkan sensor, drone, Internet of Things (IoT), gambaran satelit, hingga kepintaran buatan untuk mengelola setiap petak lahan sesuai karakteristiknya.
Berbagai meta-analisis menunjukkan bahwa pertanian presisi bisa meningkatkan produktivitas sekitar 20–30 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, dan mengurangi penggunaan pestisida sekitar 10–35 persen. Di tengah tekanan perubahan iklim, teknologi semacam ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Namun, produktivitas nan lebih tinggi datang berbareng akibat nan tidak murah. Kajian Lowenberg-DeBoer dan Erickson menunjukkan bahwa tingginya biaya investasi awal (high upfront cost) menjadi salah satu halangan utama mengambil pertanian presisi, terutama di negara berkembang.
Finger dan koleganya juga menegaskan bahwa faedah ekonomi teknologi tersebut hanya dapat dicapai melalui investasi riset nan berkelanjutan. Artinya, semakin modern pertanian nan mau dibangun, semakin besar pula kebutuhan pembiayaan penelitian, pengembangan teknologi, dan inovasi.
Di sinilah Indonesia menghadapi dilema. Sebagai contoh, total APBN 2024 sebesar Rp 3.325 triliun, anggaran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hanya sekitar Rp6,3 triliun alias 0,19 persen dari total shopping negara. Lebih mini lagi, pagu Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN hanya sekitar Rp23,76 miliar, setara sekitar 0,0007 persen APBN.
Angka tersebut bukan berfaedah pemerintah mengabaikan riset, melainkan menunjukkan adanya keterbatasan ruang fiskal. Pemerintah tetap kudu membiayai pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga prasarana sehingga tidak mungkin seluruh kebutuhan penemuan pertanian dibebankan kepada APBN.
Karena itu, solusi nan dibutuhkan bukan semata-mata menambah anggaran riset, melainkan memperluas sumber pembiayaannya. Di banyak negara, pendekatan ini ditempuh melalui insentif fiskal. Negara tidak membiayai seluruh penelitian secara langsung, tetapi menurunkan akibat investasi agar sektor swasta bersedia menanamkan modalnya pada aktivitas penelitian dan pengembangan. Dengan kata lain, negara menggunakan kebijakan pajak untuk menarik investasi riset.
Indonesia sebenarnya telah berada pada jalur tersebut. PP Nomor 78 Tahun 2019 memberikan akomodasi Tax Allowance berupa pengurangan penghasilan neto sebesar 30 persen dari nilai investasi pada bagian upaya prioritas, termasuk sektor pertanian tertentu. Sementara itu, PP Nomor 45 Tahun 2019 menyediakan Super Tax Deduction hingga 300 persen atas biaya penelitian dan pengembangan nan memenuhi persyaratan. Pemerintah juga melengkapinya melalui skema Tax Holiday, penyempurnaan akomodasi perpajakan sektor pertanian, serta beragam insentif kepabeanan bagi impor mesin dan teknologi.
Dalam perspektif kebijakan publik, insentif tersebut bukan sekadar keringanan pajak. Ia merupakan policy signal, ialah sinyal pemerintah kepada bumi upaya mengenai sektor nan diprioritaskan untuk berkembang. Ketika riset pertanian memperoleh akomodasi fiskal nan lebih besar, pemerintah sesungguhnya sedang mendorong pasar agar ikut membiayai penemuan pangan nasional. Strategi ini krusial lantaran investasi teknologi pertanian mempunyai faedah sosial nan jauh lebih besar daripada untung nan dinikmati satu perusahaan.
Meski demikian, efektivitas insentif fiskal tetap berjuntai pada tata kelola. Tanpa pengawasan nan baik, akomodasi perpajakan berpotensi lebih banyak dinikmati perusahaan besar nan mempunyai kapabilitas administratif lebih baik dibandingkan pelaku upaya kecil. Oleh lantaran itu, insentif perlu diiringi dengan kemitraan berbareng perguruan tinggi, lembaga riset, koperasi, dan golongan tani sehingga hasil penelitian betul-betul diterapkan di lapangan, bukan berakhir sebagai laporan alias prototipe.
Lebih jauh lagi, insentif fiskal mempunyai kegunaan nan sering kali luput dari perhatian, ialah membentuk arah ekosistem riset nasional. Ketika perusahaan mulai mengalokasikan investasi pada teknologi pertanian presisi lantaran memperoleh support fiskal, permintaan terhadap riset di bagian nan sama bakal ikut meningkat.
Perguruan tinggi terdorong membuka lebih banyak kerjasama penelitian, mahasiswa memilih topik skripsi dan disertasi nan lebih relevan dengan kebutuhan industri, sementara lembaga riset memperoleh mitra untuk menguji maupun mengkomersialisasikan hasil penelitiannya. Dalam jangka panjang, hubungan tersebut menciptakan multiplier effect nan mempercepat terbentuknya ekosistem penemuan dari hulu hingga hilir.
Dengan demikian, Tax Allowance dan beragam insentif fiskal tidak hanya berfaedah menarik investasi, tetapi juga menjadi instrumen untuk mengarahkan peta riset nasional. Ketika investasi swasta, riset perguruan tinggi, dan kebijakan pemerintah bergerak pada arah nan sama, pengembangan teknologi seperti precision agriculture bakal lebih sigap mencapai titik lepas landas (take-off). Pada akhirnya, ketahanan pangan Indonesia tidak hanya ditopang oleh keberhasilan meningkatkan produksi hari ini, tetapi juga oleh keahlian membangun ekosistem penemuan nan terus melahirkan teknologi baru untuk menjawab tantangan masa depan.
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·