Keputusan Presiden Ini Bikin Warga Sengsara, Bensin Tembus Rp72.700

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Warga Amerika Serikat (AS) menghadapi lonjakan nilai bensin menjelang saat peringatan Labor Day setelah bentrok AS-Iran kembali memanas dan mengguncang pasar daya global. Harga bensin nasional apalagi diperkirakan menembus US$4,03 per galon alias sekitar Rp70.900, melampaui rekor sebelumnya dan menambah beban rumah tangga.

Perlu diketahui akhir pekan, Presiden Donald Trump menginstruksikan serangan ke Pulau Kharg, salah satu letak krusial industri minyak Iran, lampau disusul tiga kapal tanker minyak Iran. AS mengatakan ini sebagai balasan ke Iran usai tentaranya menembakkan rudal balistik ke arah dua kapal perang AS.

Analis GasBuddy Patrick De Haan mengatakan nilai tersebut menjadi nan tertinggi untuk periode Labor Day sepanjang sejarah pencatatan. Labour Day sendiri merujuk ke peringatan Hari Buruh di AS nan berfaedah libur panjang akhir pekan.

"Untuk pertama kalinya, penduduk Amerika mungkin bakal memandang nilai rata-rata nasional bensin di atas US$4 per galon pada Labor Day," tulis De Haan dalam unggahan blognya, seperti dikutip Reuters, Selasa (8/9/2026).

Pada Kamis lalu, nilai rata-rata nasional bensin sudah mencapai sekitar US$4,13 (Rp72.700) per galon, naik nyaris US$1 dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Angka tersebut berada jauh di atas rekor Labor Day sebelumnya sebesar US$3,83 (Rp67.400) per galon.

Lonjakan nilai terjadi setelah tindakan militer terbaru AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah global. Harga minyak apalagi kembali menembus US$90 (Rp1,58 juta) per barel, sehingga nilai bahan bakar di tingkat konsumen ikut terdorong naik.

Kondisi ini menjadi pukulan bagi Trump nan sebelumnya berjanji menurunkan biaya daya bagi masyarakat AS. Namun, pada 14 Agustus lalu, Trump justru mengatakan penduduk Amerika semestinya bersedia bayar "sedikit lebih mahal" untuk bensin demi memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir.

Dampaknya mulai terasa pada perilaku pengendara. Randi O'Brien, penduduk Colorado, mengatakan kenaikan nilai membuatnya hanya bisa membeli bensin senilai US$15 alias sekitar Rp264.000 untuk truknya.

"Situasinya betul-betul tak terkendali," ujarnya saat mengisi bahan bakar di sebuah SPBU Phillips 66 dekat Evergreen.

O'Brien juga menilai kenaikan nilai berangkaian dengan meningkatnya ekspor minyak mentah dan produk bahan bakar AS setelah perang Iran dimulai. Data Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan ekspor produk olahan minyak meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

"Kita mempunyai bahan bakar sendiri di sini, namun kita justru mengirimkannya ke tempat lain," katanya.

Krisis pasokan juga diperparah oleh penurunan stok bensin AS menjadi 205,7 juta barel, di bawah rata-rata lima tahunan Agustus sebesar 217,6 juta barel. Analis daya Tom Kloza memperingatkan nilai solar berpotensi melewati rekor US$5,82 (Rp102.400) per galon pada 2022, sementara biaya perjalanan udara saat Labor Day diperkirakan 20% lebih mahal dibandingkan tahun lalu.

(tfa/tfa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News