.(Istimewa)
STRATEGI pemasaran digital terus mengalami perubahan seiring berkembangnya perilaku konsumen. Jika selama lebih dari satu dasawarsa influencer marketing menjadi jagoan banyak perusahaan untuk menjangkau pasar, sekarang sejumlah brand mulai melirik pendekatan nan dinilai lebih autentik, ialah memanfaatkan rekomendasi langsung dari konsumen.
Perubahan tersebut didorong meningkatnya biaya kerjasama dengan pembuat konten serta semakin kritisnya masyarakat dalam menyikapi konten promosi berbayar. Di tengah banjir info di media sosial, pengalaman nyata nan dibagikan konsumen dinilai mempunyai tingkat kepercayaan lebih tinggi dibandingkan iklan alias endorsement.
Fenomena ini mendorong berkembangnya model pemasaran berbasis organisasi dan pembelaan konsumen. Sejumlah perusahaan mulai mengalihkan konsentrasi dari sekadar mengejar jangkauan dan impresi menuju upaya membangun percakapan organik nan lahir dari pengalaman pengguna sesungguhnya.
Menurut beragam riset pemasaran global, rekomendasi dari orang nan dikenal maupun sesama konsumen tetap menjadi salah satu sumber info nan paling dipercaya dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Kondisi tersebut membikin kepercayaan menjadi aset nan semakin krusial bagi sebuah merek.
Di sisi lain, tingginya biaya influencer marketing juga menjadi tantangan, khususnya bagi startup dan upaya nan sedang berkembang. Efektivitas kampanye berbasis influencer pun tidak selalu mudah diukur secara langsung terhadap peningkatan penjualan maupun perubahan perilaku konsumen.
Melihat kesempatan tersebut, startup lokal Spillify.io memperkenalkan pendekatan baru melalui platform nan mereka sebut sebagai Brand Quest Hub. Platform ini menghubungkan brand dengan konsumen melalui beragam aktivitas alias misi (quest), mulai dari mengunjungi toko, mencoba produk, memberikan ulasan, hingga membikin konten berasas pengalaman langsung.
Berbeda dengan model endorsement konvensional, setiap aktivitas pengguna dalam platform tersebut diverifikasi sehingga menghasilkan info dan laporan nan dapat diukur oleh perusahaan. Pendekatan ini memungkinkan brand memperoleh masukan konsumen sekaligus mendorong terciptanya rekomendasi nan lahir dari pengalaman nyata.
Co-founder dan CEO Spillify.io, Firman Natayudha, mengatakan praktik merekomendasikan produk sebenarnya sudah lama terjadi secara alami di masyarakat Indonesia.
“Selama ini, orang Indonesia merekomendasikan produk kepada teman-temannya setiap hari secara gratis. Spillify.io datang untuk mengubah itu. Nge-spill sekarang bisa dapat cuan. Untuk brand, ini bukan hanya soal efisiensi biaya. Ini soal membangun kepercayaan nan tidak bisa dibeli dengan endorsement berbayar,” kata Firman dikutip dari siaran pers nan diterima, Senin (22/6).
Menurutnya, model pemasaran berbasis konsumen selama ini belum banyak didukung sistem nan bisa mengelola, memverifikasi, dan mengukur aktivitas tersebut dalam skala besar. Padahal, konsumen mempunyai peran krusial dalam membentuk reputasi sebuah produk.
Perubahan tersebut juga menunjukkan bergesernya langkah pandang industri terhadap konsumen. Jika sebelumnya konsumen lebih sering diposisikan sebagai sasaran pemasaran, sekarang mereka mulai dipandang sebagai mitra nan dapat berkontribusi dalam membangun kredibilitas dan pertumbuhan merek.
Antusiasme terhadap pendekatan ini terlihat dari sejumlah organisasi nan berasosiasi ke dalam ekosistem Spillify.io. Di antaranya organisasi Mom Influencer dengan lebih dari 10.000 personil dan Affiliate Muslim Indonesia nan mempunyai lebih dari 10.500 anggota. Kedua organisasi tersebut telah terbiasa berbagi pengalaman dan rekomendasi produk jauh sebelum hadirnya platform umum nan memfasilitasi aktivitas tersebut.
Menariknya, sebelum peluncuran resmi, Spillify.io telah mengantongi lebih dari 200 pengguna awal nan mendaftar secara organik tanpa kampanye berbayar. Bagi perusahaan, capaian tersebut menjadi sinyal adanya kebutuhan terhadap model pemasaran nan memberi ruang lebih besar bagi bunyi konsumen.
Bagi startup dan brand dengan anggaran terbatas, pendekatan berbasis organisasi dinilai menawarkan pengganti untuk membangun awareness dan kepercayaan tanpa kudu berjuntai pada kampanye influencer berskala besar. Selain memperoleh konten dan umpan kembali dari pengguna aktual, perusahaan juga berkesempatan menciptakan rekomendasi nan lebih autentik di pasar.
Ke depan, pemasaran berbasis organisasi dan pembelaan konsumen diperkirakan bakal terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan untuk membangun hubungan nan lebih dekat dengan pelanggan. Dalam persaingan nan semakin ketat, tantangan terbesar bagi brand bukan lagi sekadar membikin konsumen memandang produk mereka, melainkan menciptakan pengalaman nan cukup baik sehingga konsumen bersedia merekomendasikannya kepada orang lain. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·