Kepaka Bakom: Demokrasi Wajib Ada Dialog, Tanpa Itu Jadi Semau Gue

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menanggapi keras kejadian pembubaran obrolan di auditorium Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (UGM) nan berhujung ricuh. Qodari menegaskan bahwa prinsip dari praktik negara kerakyatan adalah mengedepankan jalur dialog, bukan pemaksaan kehendak sepihak.

Pemerintah sendiri memastikan bakal terus membuka ruang perbincangan dengan seluruh lapisan masyarakat dalam upaya menjalankan sekaligus meningkatkan kualitas beragam program prioritas nasional. Qodari menyayangkan langkah represif golongan mahasiswa nan memilih membubarkan aktivitas daripada berganti pendapat secara sehat.

"Yang namanya kerakyatan itu bisa terjadi jika ada dialog. Kalau tidak ada dialog, hanya tuntutan, kan bukan kerakyatan namanya. Itu namanya semua gue, maunya dia saja," kata Qodari, dikutip dari siaran persnya pada Rabu (17/6/2026).

Acara obrolan ilmiah tersebut sebenarnya menghadirkan jejeran pejabat teras pemerintah, ialah Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Agenda awalnya sempat melangkah lancar dan kondusif, namun di tengah aktivitas datang sekelompok mahasiswa nan merangsek naik ke atas panggung utama sembari membentangkan spanduk penolakan hingga ruang obrolan menjadi bubar.

Qodari memandang kebanyakan mahasiswa di letak sebenarnya merestui agenda tersebut, apalagi aktivitas diketahui oleh otoritas kampus setempat. Oleh lantaran itu, dia menilai tindakan interupsi sekelompok mini massa tersebut sebagai sebuah anomali di tengah ketertiban mahasiswa lainnya. Menanggapi adanya dugaan bahwa mahasiswa merangsek lantaran sudah jenuh berbincang dan mau langsung menuntut, Qodari menilai tindakan itu lebih didominasi oleh emosi.

"Saya kira perbincangan itu, ya, dijawab dengan perbincangan nan lain, kan tidak susah. Saya kira itu jawaban nan paling proporsional. Kalau kita bicara mengenai kerakyatan dan bicara mengenai dialog," ujar Qodari menjelaskan pandangannya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑