Aksi pemberantasan ikan sapu-sapu belakangan ini menarik perhatian publik, terutama lantaran jumlah ikan ini terus meningkat di beragam perairan, termasuk di Jakarta.
Namun di tengah upaya pemberantasan tersebut, media sosial justru diramaikan dengan munculnya beberapa video orang luar negeri nan memperlihatkan ikan sapu-sapu dijadikan makanan.
Tentu saja perihal ini langsung menimbulkan pertanyaan, kenapa di negara lain ikan sapu-sapu dikonsumsi, sementara di Indonesia justru dianggap sebagai hama?
Menurut Dosen Teknologi Hasil Perikanan Universitas Sriwijaya, Gama Dian Nugroho, ikan sapu-sapu alias pleco memang dikonsumsi di wilayah asalnya, seperti di wilayah Amazon. Namun, kondisi lingkungan di sana sangat berbeda dengan di Indonesia.
“Di tempat asalnya (ikan sapu-sapu) ada nan dikonsumsi, di sana perairan tetap bersih, enggak ada industri nan buang limbah ke perairan dan memang ikan lokal sana,” jelas Gama saat berbincang dengan kumparanFOOD.
Berbeda dengan di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta, ikan sapu-sapu hidup di perairan nan kualitas lingkungannya jauh lebih buruk. Ikan ini dikenal bisa memperkuat hidup di air nan tercemar dan minim oksigen, kondisi nan justru susah ditoleransi oleh banyak jenis ikan lain.
“Karena kemampuannya memperkuat di lingkungan ekstrem, ikan sapu-sapu menjadi jenis invasif nan berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Populasinya mudah berkembang lantaran tidak banyak predator alami nan bisa memangsa ikan ini. Tubuhnya nan keras dan berduri membikin predator lokal enggan memakannya,” tambah Gama.
Menurut Gama, dari sisi kandungan gizi pun ikan sapu-sapu tidak terlalu unggul untuk dikonsumsi. “Kalau di Indonesia banyak banget jenis ikan konsumsi kita nan kandungan proteinnya di atas ikan sapu-sapu. Kandungan gizi ikan sapu-sapu juga rendah, makanya ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan kondisi ikan nan hidup di perairan tercemar, akibat kontaminasi unsur rawan menjadi argumen kuat kenapa ikan ini tidak direkomendasikan untuk dimakan.
“Jadi buat apa makan ikan sapu-sapu, apalagi dagingnya tercemar unsur berbahaya,” kata dia.
Ikan Sapu-sapu Merusak Ekosistem Perairan
Bukan hanya soal konsumsi, keberadaan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar juga dapat merusak ekosistem perairan. Ikan ini hidup di dasar sungai alias waduk dan suka membikin lubang di tepian sungai untuk tempat tinggal serta berkembang biak.
“Itu jika ikan sapu-sapunya dalam jumlah banyak bisa menyebabkan erosi di pinggiran sungai, dan itu secara tidak langsung bakal merusak kediaman alami dari organisme nan lain,” bebernya.
Selain itu, ikan sapu-sapu juga bersaing dengan ikan lokal dalam memperebutkan makanan alami seperti alga. Dalam kondisi perairan nan sudah tercemar, kesiapan makanan pun semakin terbatas sehingga kejuaraan menjadi semakin berat bagi ikan lokal.
Dampak lainnya, populasi ikan sapu-sapu nan terlalu banyak juga dapat menurunkan kualitas air. Limbah organik dari ikan ini dapat meningkatkan akibat eutrofikasi alias ledakan alga, nan pada akhirnya mengurangi kadar oksigen terlarut di dalam air dan memperburuk kondisi ekosistem perairan.
“Dalam siklus alami di kediaman asalnya di Amazon, ikan sapu-sapu tetap mempunyai predator alami dalam rantai makanan. Namun, di perairan Indonesia kondisinya berbeda. Ikan sapu-sapu nyaris tidak mempunyai predator alami,” jelas Gama.
Oleh lantaran itu, meskipun di negara lain ikan sapu-sapu bisa dikonsumsi, kondisi di Indonesia sangat berbeda. Lingkungan perairan nan tercemar, rendahnya nilai gizi, serta dampaknya terhadap ekosistem membikin ikan ini lebih tepat dikendalikan populasinya daripada dijadikan bahan pangan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·