Kenaikan Suku Bunga BI Rate tidak Langsung Tekan Pertumbuhan Kredit

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Kenaikan Suku Bunga BI Rate tidak Langsung Tekan Pertumbuhan Kredit Direktur Branch Business Hana Bank, Hendri Setiawan(MI/Naufal Zuhdi)

Kenaikan suku kembang acuan alias BI Rate sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25% dinilai belum serta-merta mendorong perbankan meningkatkan suku kembang simpanan maupun kredit. Industri perbankan tetap memandang kondisi likuiditas nan relatif lenggang sehingga ruang penyesuaian kebijakan tetap terbuka.

Direktur Branch Business Hana Bank, Hendri Setiawan mengatakan, langkah Bank Indonesia meningkatkan BI Rate dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah nan tertekan akibat dinamika global.

“Kalau saya melihatnya ini lantaran mengenai dengan kurs kita nan terus naik. Itu kan salah satu instrumen BI untuk menjaga forex tersebut,” kata Hendri dalam aktivitas Media Gathering Hana Bank di Jakarta, Kamis (21/5).

Menurut dia, secara teori kenaikan BI Rate biasanya bakal diikuti penyesuaian suku kembang simpanan lantaran deposan condong meminta imbal hasil nan lebih tinggi. Namun, dia memandang kondisi saat ini dinilai berbeda lantaran likuiditas perbankan tetap cukup kuat. Ia menilai bank tidak bakal secara otomatis merespons kenaikan suku kembang referensi dengan meningkatkan kembang simpanan lantaran pertumbuhan kredit tetap condong tertahan.

“Kalau cost of fund naik, tentunya suku kembang angsuran juga bakal naik. Itu risikonya,” terang Hendri.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya dana alias cost of fund pada akhirnya dapat berakibat terhadap biaya pinjaman nan ditanggung debitur. Kondisi tersebut, lanjut dia, berpotensi memengaruhi permintaan kredit, terutama di tengah daya beli masyarakat nan tetap menghadapi tekanan. Meski demikian, Hana Bank mengaku belum memandang persoalan dari sisi likuiditas maupun penyaluran kredit. Perseroan tetap bakal mencermati perkembangan pasar dan perilaku pengguna dalam jangka pendek sebelum mengambil langkah lanjutan.

“Kita tetap bakal memandang gimana respons pengguna dan market itu sendiri,” ujarnya.

Hendri mengatakan kebijakan moneter saat ini juga menghadirkan tantangan tersendiri lantaran di satu sisi Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas makroekonomi, sementara pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan penyaluran kredit.

Ia menilai keseimbangan antara stabilitas moneter dan pertumbuhan perlu dijaga agar perlambatan ekonomi tidak semakin dalam.

Meski beragam kebijakan ekonomi dan dinamika sektor komoditas berpotensi memengaruhi aktivitas upaya pada kuartal II tahun ini, perbankan tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan kredit.

“Kami tetap percaya dengan perkembangan angsuran tahun ini. Sampai sekarang belum ada rencana merevisi target,” tandasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia