Rohman Wibowo
, Jurnalis-Sabtu, 13 Juni 2026 |17:37 WIB

Kenaikan Harga Pertamax Ancam Daya Beli Kelas Menengah (Foto: Pertamina Patra Niaga)
JAKARTA - Harga BBM Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter menakut-nakuti daya beli kelas menengah. Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar menekankan soal pandangan bahwa kenaikan nilai Pertamax hanya memukul orang kaya merupakan penyederhanaan nan keliru.
Media menitikberatkan bahwa pengguna BBM Pertamax bukan hanya orang kaya, tapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah nan selama ini memilih BBM nan lebih baik untuk kendaraannya.
"Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah bayar lebih mahal, alias turun ke Pertalite. Turun ke Pertalite juga berfaedah memperbanyak jumlah pengguna Pertalite nan selama ini mendapatkan subsidi dari Pemerintah.” kata Media dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Media mewanti-wanti soal kenaikan nilai Pertamax sebesar 32 persen ke masyarakat bakal berakibat pada merosotnya daya beli di golongan menengah dan aspiring middle class (menuju kelas menengah), bertambahnya jumlah masyarakat rentan miskin, kenaikan nilai bahan pangan.
Selain itu, bakal berpengaruh pada transmisi penyesuaian suku kembang angsuran lebih cepat, jumlah PHK melonjak pada kuartal ke-3, meningkatnya kejahatan dan gejolak sosial.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda mengatakan, ketika nilai Pertamax tanpa meningkatkan nilai Pertalite, maka ada akibat kenaikan permintaan Pertalite.
"Akibatnya, kuota Pertalite bakal meningkat dan menyebabkan subsidi untuk BBM bakal membengkak juga. Pembatasan melalui QR code hanya efektif jika tidak ada kebocoran di lapangan. Pada praktiknya, tetap banyak Pertalite nan diperjualbelikan di luar SPBU," kata dia.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·