Kemiskinan Teori Ekonomi Indonesia

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Jakarta -

Pernyataan ahli ekonomi senior Chatib Basri bahwa Indonesia tahun 2026 tidak sedang menuju krisis seperti tahun 1998 pada dasarnya layak diapresiasi. Secara makroekonomi, Indonesia memang jauh lebih kuat dibandingkan era krisis moneter.

Rezim nilai tukar nan fleksibel, perbankan nan lebih sehat, persediaan devisa nan lebih kuat, serta keahlian pelaku ekonomi dalam mengelola akibat kurs asing menunjukkan bahwa Indonesia tidak sedang berada di tepi lembah seperti tiga dasawarsa nan lalu.

Namun, justru di tengah optimisme tersebut muncul pengakuan nan jauh lebih krusial daripada perdebatan mengenai kurs rupiah, defisit fiskal, alias ancaman resesi. Chatib Basri mengakui bahwa golongan nan paling tertekan selama tujuh tahun terakhir adalah golongan masyarakat berpendapatan menengah, khususnya desil 5 hingga desil 8.

Pada irit saya, penjelasan CB adalah sebuah pengakuan nan jujur bahwa selama ini kebijakan ekonomi kita lebih memihak kepada golongan atas dan teratas, dan bawah dan terbawah, namun EGP (emang gue pikirin) dengan kelas menengah. "Pengakuan" ini semestinya mengguncang kesadaran para perumus kebijakan ekonomi.

Sebab jika pertumbuhan ekonomi tetap terjadi, inflasi relatif terkendali, sistem finansial stabil, support sosial terus diperluas, dan investasi terus didorong, kenapa justru kelas menengah mengalami pertumbuhan negatif? Bahkan, pengaruh dominonya bersambung dengan jatuhnya daya beli kelas menengah secara agregat, nan menekan ketahanan ekonomi Indonesia secara mikro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini nan dibaca oleh pengamat dan pelaku ekonomi internasional, dan menghentak dua parameter ekonomi nan menjadi etalase ekonomi modern: jatuhnya nilai mata duit dan merosotnya secara drastis pasar modal.

Isu Keilmuan

Pertanyaan tersebut membawa kita kepada kemungkinan nan selama ini jarang dibicarakan secara terbuka: jangan-jangan persoalan Indonesia bukan lagi persoalan teknis ekonomi, melainkan persoalan teoritis. Jangan-jangan nan sedang kita hadapi adalah kemiskinan teori ekonomi nan kemudian melahirkan kemiskinan kebijakan ekonomi. Karena kebijakan adalah anak dari teori, maka kebijakan nan memiskinkan juga adalah anak teori nan miskin -dan memiskinkan.

Selama beberapa dasawarsa terakhir, pembangunan ekonomi Indonesia bergerak dalam pola nan relatif konsisten. Negara memberikan beragam akomodasi bagi pemilik modal dan penanammodal dengan dugaan bahwa mereka adalah mesin pertumbuhan ekonomi.

Pada saat nan sama, negara memperluas beragam corak perlindungan sosial kepada golongan miskin melalui subsidi, support tunai, agunan kesehatan, dan program-program kesejahteraan lainnya.

Dari perspektif pandang ekonomi arus utama, strategi ini tampak masuk akal. Kelompok atas dipandang sebagai penggerak investasi dan pembuat lapangan kerja. Kelompok bawah dipandang sebagai golongan nan kudu dilindungi demi menjaga stabilitas sosial dan memenuhi petunjuk keadilan sosial.

Namun ada satu golongan nan nyaris lenyap dari radar kebijakan publik: kelas menengah. Padahal merekalah pembayar pajak terbesar, pembeli rumah, konsumen utama, penggerak upaya mini dan menengah, pembiaya pendidikan anak-anak bangsa, dan tulang punggung konsumsi domestik nan selama ini menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Mereka tidak cukup kaya untuk menikmati untung besar dari kenaikan aset dan ekspansi modal. Mereka juga tidak cukup miskin untuk menjadi sasaran utama program perlindungan sosial. Akibatnya, ketika biaya pendidikan meningkat, nilai rumah melonjak, biaya kesehatan membesar, dan lapangan kerja umum semakin susah diperoleh, golongan inilah nan pertama kali merasakan tekanan. Secara ironis, mereka adalah golongan nan paling banyak menopang negara, tetapi paling sedikit memperoleh perlindungan negara.

Dari sini muncul sebuah konklusi nan tidak nyaman tetapi perlu dikemukakan. Kebijakan ekonomi Indonesia selama ini condong menguntungkan golongan atas dan golongan bawah sekaligus, sementara kelas menengah dibiarkan berjuang sendiri.

Kelompok atas memperoleh beragam faedah dari ekspansi ekonomi, pertumbuhan aset, akses terhadap modal, serta beragam insentif kebijakan. Kelompok bawah memperoleh perlindungan melalui beragam program support sosial. Sementara kelas menengah berada di wilayah abu-abu: tidak cukup kaya untuk diuntungkan, tidak cukup miskin untuk ditolong.

Padahal secara ekonomi, kelas menengah merupakan konsumen terkuat. Ketika kelas menengah melemah, daya beli nasional melemah. Ketika daya beli melemah, pasar domestik menyusut. Ketika pasar menyusut, investasi kehilangan insentifnya. Ketika investasi kehilangan pasar, pertumbuhan kehilangan fondasinya.

Dalam pengertian tersebut, kejatuhan ekonomi Indonesia tidak dimulai dari runtuhnya rupiah, anjloknya IHSG, alias naiknya CDS. Kejatuhan ekonomi Indonesia dimulai ketika kelas menengah kehilangan kemampuannya menjadi motor konsumsi, investasi rumah tangga, dan mobilitas sosial.

Lebih jauh lagi, keberhasilan perlindungan sosial terhadap golongan miskin pun tidak boleh dipahami secara berlebihan. Bantuan sosial krusial untuk mengurangi kerentanan masyarakat miskin. Namun support sosial pada dasarnya adalah instrumen mitigasi, bukan instrumen transformasi. Ia membantu masyarakat memperkuat hidup, tetapi tidak selalu bisa mengubah struktur ekonomi nan menyebabkan kemiskinan itu sendiri.

Karena itu, teori ekonomi nan betul bukanlah teori nan sekadar memihak golongan kaya alias menolong golongan miskin. Teori ekonomi nan betul adalah teori nan memperkuat kelas menengah, menjaga daya saing golongan atas, dan membantu golongan bawah naik kelas secara berkelanjutan.

Lagi-lagi, Kelas Menengah

Kelas menengah kudu menjadi titik berat pembangunan.Mengapa? Karena sejarah pembangunan modern menunjukkan bahwa tidak ada negara maju tanpa kelas menengah nan kuat. Masalahnya kemudian menjadi lebih serius ketika kita memasuki wilayah ekonomi politik.
Dalam praktik politik modern, golongan pemilik modal mempunyai pengaruh besar lantaran mereka mengendalikan investasi dan sumber daya ekonomi.

Pada saat nan sama, golongan masyarakat miskin mempunyai nilai elektoral nan tinggi lantaran jumlah mereka nan besar. Di antara keduanya terdapat kelas menengah nan relatif mandiri, kritis, dan susah dimobilisasi melalui patronase politik.

Akibatnya, kelas menengah sering kali menjadi golongan nan secara politik paling tidak menarik untuk diperebutkan. Mereka tidak mempunyai kekuatan modal sebesar golongan atas, dan tidak mempunyai daya tarik elektoral sebesar golongan bawah.

Fenomena inilah nan menjelaskan kenapa banyak kebijakan ekonomi tampak lebih sensitif terhadap kepentingan modal maupun kepentingan elektoral dibandingkan terhadap kebutuhan kelas menengah.

Tentu ini bukan berfaedah terdapat persekongkolan nan disengaja. Namun struktur insentif politik sering kali menghasilkan akibat nan sama. Para kreator kebijakan lebih mudah memperoleh legitimasi dengan menciptakan suasana nan menguntungkan pemilik modal dan memperluas support kepada masyarakat miskin daripada membangun strategi jangka panjang untuk memperkuat kelas menengah.

Akibatnya, kebijakan ekonomi berkembang menjadi semacam kompromi antara kepentingan modal dan kepentingan elektoral, sementara kelas menengah menjadi korban nan nyaris tak terlihat. Di sinilah kritik nan lebih mendasar perlu diajukan.

Apakah masalahnya terletak pada para ekonom? Belum tentu (meski dapat juga "bisa saja"). Mungkin masalah nan lebih besar justru terletak pada teori ekonomi nan mereka gunakan. Selama puluhan tahun Indonesia relatif setia kepada paradigma ekonomi arus utama nan didominasi pemikiran neoklasik. Stabilitas makroekonomi, disiplin fiskal, liberalisasi perdagangan, efisiensi pasar, dan suasana investasi menjadi mantra pembangunan nan nyaris tidak pernah dipertanyakan.

Namun jika setelah puluhan tahun penerapan paradigma tersebut kelas menengah justru mengalami tekanan nan berkepanjangan, bukankah kita perlu mulai mempertanyakan teori nan mendasarinya?

Joseph Stiglitz telah lama menunjukkan bahwa pasar tidak selalu menghasilkan pengedaran kesejahteraan nan adil. Thomas Piketty memperlihatkan bahwa akumulasi modal condong menghasilkan konsentrasi kekayaan. Dani Rodrik mengingatkan bahwa tidak ada resep ekonomi universal nan bertindak untuk semua negara. Sementara Ha-Joon Chang menunjukkan bahwa negara-negara maju sendiri berkembang melalui beragam corak perlindungan dan intervensi negara nan sekarang justru mereka larang bagi negara berkembang.

Artinya, kritik terhadap ekonomi arus utama bukanlah kritik nan lahir dari ketidaktahuan. Kritik tersebut justru lahir dari para ahli ekonomi kelas bumi nan memahami keterbatasan paradigma nan mereka warisi. Karena itu, Indonesia tidak boleh lagi memperlakukan teori ekonomi arus utama sebagai dogma nan tidak boleh dipertanyakan.

Teori ekonomi adalah alat. Ia bukan agama. Ia bukan kitab suci. Ia kudu diuji terhadap kenyataan. Jika realita menunjukkan bahwa kelas menengah melemah, daya beli menurun, mobilitas sosial tersendat, dan ketimpangan tetap bertahan, maka teori nan digunakan kudu berani dievaluasi.

Pengalaman Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, dan China menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak lahir dari kepatuhan membabi buta terhadap teori ekonomi dominan. Negara-negara tersebut justru sukses lantaran berani mengembangkan model nan sesuai dengan kebutuhan nasional mereka sendiri.

Sebagian besar teori pembangunan berbincang tentang kemiskinan alias ketimpangan. Cara pandang nan perlu diubah menjadi menempatkan kelas menengah sebagai variabel utama pembangunan. Ini menarik lantaran secara historis Jepang menjadi kuat setelah membangun kelas menengah pasca perang; Korea Selatan berkembang melalui ekspansi kelas menengah industri; Taiwan membangun kelas menengah melalui reformasi agraria dan industrialisasi;Singapura membangun kelas menengah melalui perumahan dan pendidikan.

Mereka membangun negara nan mengorkestrasi pembangunan, bukan sekadar mengawasi pasar. Negara bertindak sebagai konduktor. Pasar tetap penting, tetapi pasar tidak dibiarkan menentukan arah bangsa. Arah bangsa ditentukan oleh tujuan nasional.

Ekonomi pasar nan "membela" golongan atas dan paling atas, atas nama pertumbuhan ekonomi instan, dan "membeli" golongan bawah dan terbawah, untuk memastikan support politik saat berkuasa dan menabung bunyi saat pemilu, nan selama ini kita punya, perlu didefinisikan kembali. Dan ini adalah masalah keilmuan, bukan praktek politik; ialah tatkala keilmuan ekonomi kawin-mawin secara selaras dan bersimbiosis, dan menghasilkan kerusakan nan sekarang kita temui, meski banyak kita ingkari.

Jadi, Indonesia memerlukan keberanian intelektual, khususnya intelektual ekonomi. Kita punya banyak intelektual ekonomi, namun nan hari ini, tidak cukup lagi. Perlu kesediaan untuk menemukan Kembali teori ekonomi untuk Indonesia. Kita tidak memerlukan penolakan terhadap ekonomi modern. Kita memerlukan keberanian untuk mengindonesiakan ekonomi modern.

Kita memerlukan teori ekonomi Indonesia. Teori nan berangkat dari realitas sosial Indonesia. Teori nan memahami bahwa kelas menengah bukan sekadar kategori statistik, melainkan fondasi bangsa. Teori nan memandang pertumbuhan sebagai alat, bukan tujuan. Teori nan mengukur keberhasilan bukan hanya dari nomor PDB, tetapi juga dari keahlian masyarakat untuk hidup bermartabat.

Pembelajaran

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar nan kudu dijawab bukanlah apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai lima, enam, alias Bahkan delapan persen. Pertanyaan nan lebih krusial adalah: pertumbuhan itu untuk siapa? Jika pertumbuhan hanya memperkuat golongan atas dan sekadar menjaga golongan bawah tetap memperkuat hidup, sementara kelas menengah terus mengalami erosi, maka sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi krisis nan lebih dalam daripada sekadar krisis ekonomi.

Indonesia sedang menghadapi krisis paradigma. Dan setiap kebijakan nan lahir dari paradigma nan keliru pada akhirnya bakal menghasilkan kesalahan nan sama, hanya dalam corak nan berbeda. Karena itu, tugas terbesar para ahli ekonomi Indonesia hari ini bukan lagi sekadar menjaga pertumbuhan.

Tugas terbesar mereka adalah menemukan kembali teori ekonomi nan bisa menjelaskan Indonesia, melayani Indonesia, dan membangun Indonesia.

Bukan sekadar mengulang teori nan dibangun untuk menjelaskan bangsa lain. Kita pernah punya Rizal Ramli, Kwik Kian Gie, dan Faisal Basri. Mereka sudah memulai, dan sudah sama-sama berpulang, mereka nan "dihabisi" oleh rejim saat lalu. Hari ini, rejim perlu memberi ruang kepada intelektual ekonomi Indonesia, untuk membangun teori ekonomi untuk Indonesia -yang bukan teori ekonomi untuk rejim kekuasaaan Indonesia.

Untuk menjadi referensi kebijakan ekonomi Indonesia baru nan betul dan tidak sekadar menjadi turunan teori ekonomi arus utama nan terbukti tidak memberhasilkan Indonesia sebagaimana dikehendaki. Toh, jika kebijakan ekonomi oleh rejim nan berkuasa memang untuk Indonesia, meski berbeda dengan teori ekonomi arus-utama, mereka juga nan mendapatkan untung politik.

Dan, itu fair. Jadi, jangan pernah merasa, upaya menuju ke sana adalah upaya menjatuhkan kewibawaan rejim, apalagi melawan rejim. Rekomendasi ini pun juga jauh dari pikirkan tersebut.

Riant Nugroho
Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia

Simak Video "Video JK dan Anaknya Temui Prabowo Bicara Investasi Energi Rp 70 Triliun"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance