Tony menambahkan, langkah ini mendukung restorasi mangrove nasional di luar wilayah operasional (Papua) dengan sasaran 2.000 hektare. Sampai saat ini, lanjut dia, letak nan telah terverifikasi untuk penyelenggaraan program rehabilitasi mangrove PTFI mencapai 834 hektare.
"Pencapaian penanaman di luar Papua seluas 666 hektare dengan jumlah penanaman dua juta bibit mangrove. Untuk Papua khususnya di Kabupaten Mimika, PTFI telah menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area seluas lebih dari 2.184 hektare di Papua," terang dia.
Selain memegang peran protektif nan vital sebagai tameng bentuk pesisir, rimba mangrove juga diakui secara dunia sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) nan sangat efektif menekan emisi gas rumah kaca di atmosfer.
"Karena itu, pemulihan ekosistem mangrove ini menjadi pilar krusial dalam strategi nasional Indonesia menghadapi akibat nyata perubahan iklim," papar Tony.
Langkah komprehensif ini secara simultan membuka kesempatan ekonomi hijau bagi masyarakat melalui pengembangan sektor perikanan berkelanjutan, potensi industri ekowisata, dan beragam upaya mikro berbasis jasa lingkungan pesisir.
Melalui gelombang aktivitas tobat ekologis nan masif, KLH/BPLH melangkah maju untuk mencapai sasaran besar penanaman dua miliar pohon menuju perwujudan Indonesia ASRI.
Penanaman mangrove di Desa Labuhan Alas diproyeksikan menjadi percontohan ideal bagi skema kerjasama multipihak berskala nasional.
"Hal ini menegaskan pesan kuat bahwa menjaga lingkungan bukan semata-mata tentang memulihkan alam, melainkan menghadirkan perlindungan nyata bagi wilayah pesisir, mengentaskan kemiskinan dengan meningkatkan kesejahteraan, serta mewariskan ekosistem nan lestari demi masa depan bangsa," jelas Jumhur.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·