Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kedua dari kanan) berbareng Prof Din Syamsudin (ketiga dari kanan).(Dok spesial )
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup (KLH) menjalin kerjasama dengan aktivitas moral lintas kepercayaan nan tergabung dalam Siaga Bumi (Indonesia Bergerak Selamatkan Bumi) guna memperkuat upaya penanganan krisis lingkungan melalui pendekatan budaya dan nilai-nilai keagamaan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam perbincangan nan dipimpin Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat berbareng jejeran Siaga Bumi di Gedung Kementerian Lingkungan Hidup, Kuningan, Jakarta, Jumat (12/6).
Pertemuan strategis itu menghasilkan kesepahaman bahwa ancaman keruntuhan ekologis (ecological collapse) tidak hanya memerlukan solusi teknis, tetapi juga pendekatan budaya dan persuasi religius untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat secara luas.
Dalam audiensi tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat datang didampingi Sekretaris Kementerian, sejumlah staf khusus, serta para deputi. Sementara delegasi Siaga Bumi dipimpin Ketua Dewan Pengarah, Prof. Din Syamsuddin.
Pada kesempatan itu, Prof. Din menjelaskan bahwa Siaga Bumi telah berdiri sejak 2015 sebagai aktivitas moral berbasis umat berakidah nan berupaya mendorong kesadaran kolektif terhadap pelestarian lingkungan.
Gerakan tersebut merupakan hasil kerjasama inklusif nan melibatkan delapan unsur Inter-Religious Council (IRC) Indonesia, ialah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), serta support kalangan akademisi dari beragam perguruan tinggi nan mempunyai konsentrasi pada studi lingkungan, termasuk Universitas Nasional (UNAS).
“Siaga Bumi telah bergerak melalui beragam program konkret, salah satunya adalah aktivitas Eco Rumah Ibadah. Program ini berfokus pada pengasrian bentuk dan lingkungan di sekitar rumah-rumah ibadah, manajemen air nan berkelanjutan, serta manajemen sampah,” ujar Prof. Din Syamsuddin dalam keterangan resmi, Sabtu (13/6).
Inisiatif tersebut juga mendapat support dari Paus Leo XIV nan disampaikan melalui pesan terbaru untuk Hari Doa Dunia untuk Penciptaan 2025.
“Keadilan lingkungan tidak lagi dapat dianggap sebagai konsep absurd alias tujuan nan jauh. Ini adalah masalah keadilan sosial, ekonomi, dan manusia. Bagi para percaya, ini juga merupakan tanggungjawab nan lahir dari iman. Sekarang saatnya mengikuti kata-kata dengan tindakan.”
Menanggapi pemaparan tersebut, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyampaikan apresiasi atas konsistensi dan kontribusi Siaga Bumi dalam membangun kesadaran lingkungan berbasis nilai moral dan keagamaan.
Menurutnya, KLH saat ini tengah mempersiapkan program besar berjudul Pertaubatan Nasional Ekologis sebagai langkah strategis menghadapi beragam persoalan lingkungan nan semakin kompleks.
"Program strategis ini mencakup tindakan nyata berskala besar, mulai dari reforestasi melalui penanaman 2 miliar pohon hingga pendataan ketat terhadap industri-industri nan merusak lingkungan," ujarnya.
Jumhur menilai tantangan krisis lingkungan nan dihadapi saat ini justru membuka kesempatan besar untuk memperkuat kerjasama lintas sektor dan lintas golongan masyarakat.
“Semua pihak nan beragam, lintas agama, lintas negara, lintas profesi, dan lintas keahlian, sekarang dapat berasosiasi lantaran sama-sama merasa mempunyai tanggung jawab moral pada rumor lingkungan hidup,” jelas dia.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan sosial dan keagamaan dalam mendorong transformasi perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
“Kami di Kementerian LH sangat merasa perlu adanya rekayasa sosial dan persuasi religius untuk mempengaruhi sekaligus mengubah perilaku masyarakat terhadap lingkungan,” lanjutnya.
Pada akhir pertemuan, kedua pihak menyepakati bahwa akar utama krisis ekologis saat ini tidak terlepas dari persoalan budaya serta pola hidup masyarakat. Karena itu, diperlukan proses pembudayaan baru nan dijalankan secara berkepanjangan melalui langkah-langkah sigap nan responsif sekaligus edukasi nan mendalam dan berjangka panjang guna menciptakan perubahan nyata dalam menjaga lingkungan hidup. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·