Direktur Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung Dr Imelda Eva Roturena Hutabarat bersam Irjen Kementerian ESDM Yudhiawan Wibisono saat mewisuda 127 lulusan PEP Bandung.(MI/SUMARIYADI)
INDONESIA kaya sumber daya alam, energi, pertambangan, metalurgi dan daya terbarukan. Pemerintahan Presiden Prabowo Subiyanto mempunyai tekad untuk melakukan swasembada daya dan hilirisasi nan mengolah kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat.
"Untuk itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ditugskan untuk menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan mengenai energi. Kami kudu menyiapkan tenaga kerja siap pakai, sehingga bisa mengurangi ketergantungan dari luar negeri," papar Inspektur Jenderal Kementerian ESDM. Yudhiawan Wibisono, saat wisuda Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung (PEPB), Rabu (12/8).
Pendidikan pertambangan, lanjutnya, bakal menjadi pondasi masa depan bangsa. Pendidikan merupakan penggerak utama untuk menghasilkan sumber daya manusia nan berkualitas.
Dia menambahkan Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Selain itu juga timah, kobalt, aspal, emas, boksit, mangan, batu bara dan kekayaan logam tanah jarang.
"Indonesia berkesempatan besar menjadi pusat pertumbuhan industri berbasis mineral kritis nan mendukung transisi daya global. Untuk itu, kita memerlukan SDM berkualitas," tandas Yudhiawan.
Dia mendorong perguruan tinggi untuk terus melakukan inovasi. Dunia kampus kudu memberikan sumbangan nyata, mempercepat hilirisasi dan industrialisasi tambang sebagai pondasi pembangunan nasional.
Untuk melangkah ke arah sana, lanjutnya, perguruan tinggi wajib melakukan kerjasama dengan industri. Ini menjadi kunci percepatan inovasi, alih teknologi nan menghasilkan lulusan nan adaptif dengan bumi industri dan tambang.
"Pendidikan tinggi di Indonesia tetap mempunyai kesenjangan signifikan dengan kebutuhan industri, ekonomi dan bisnis. Kami berambisi PEP Bandung berkontribusi menyiapkan SDM nan mumpuni di bagian geologi, pertambangan, metalurgi dan daya baru terbarukan," tambahnya.
Mantan Kapolda Sulawesi Selatan itu berambisi kampus melakukan banyak riset nan bisa diterapkan. Pasalnya, kemajuan peradaban bertumpu pada pengetahuan pengetahuan dan riset nan berpusat di kampus. Untuk itu, riset kudu menjdi produk nan diterapkan dan dikomersialisasikan, bukan berakhir sebagai publikasi.
Yudhiawan juga mengingatkan bahwa industri tumbuh dengan teknologi dari perguruan tinggi dalam negeri. Tanpa integrasi kuat, Indonesia berpotensi tetap menjadi konsumen teknolgi, bukan produsen nilai tambah.
"Kementerian ESDM berambisi PEP Bandung menghasilkan pemimpin masa depan di sektor daya dan sumber daya mineral. Lulusannya menjadi pemasok perubhan nan menentukan arah hilirisasi dan industrialisasi mineral serta batu bara," lanjut dia.
Indonesia, tegasnya, memerlukan SDM nan mengelola kekayan mineral dari hulu hingga hilir, secara profesional, inovatif, dan berkelanjutan. Mereka kudu cerdas, jujur, berkarakter, bertanggung jawb dan peduli keselamatan kerja serta lingkungan.
SERTIFIKASI BNSP
Sementara itu, Direktur PEPB Bandung, Dr Imelda Eva Roturena Hutabarat mengungkapkan dalam Wisuda Diploma III ke-5 dan Dies Natalis ke-7, ini, pihaknya melantik lulusa sebanyak 127 orang dari tiga program studi, ialah Teknik Geologi, Teknik Pertambangan dan Teknik Metalurgi.
"Para lulusan disiapkan untuk mendukung Kementerian ESDM melaksanakan hilirisari, memberi nilai tambang dan industrialisasi di bagian pertambangan dan energi. PEPB mendidik lulusan nan kompeten, terampil dan berintegritas," ungkapnya.
Para lulusan, lanjutnya, juga dibekali sertifikasi dari BNSP untuk K# dan Teknik. Dari total 127 wisudawan, 26,7% sudah bekerja sebelum diwisuda dan 13,8% di antaranya bakal melanjutkan pendidikan.
Eva menambahkan saat ini, PEPB mempunyai 373 mahasiswa dan 305 alumni dari 3 program studi. Tahun ini, kampus terseut menerima mahasiswa baru sebanyak 255 orang.
"Tahun depan, kami berbareng Akamigas membuka program D4 Energi Baru Terbarukan. Perkuliahan bakal dilaksanakn di Kampus PEP Bandung," tambahnya.
Lulusan PEP Bandung, ungkap dia, 74% sudah terserap di bumi kerja. Masa tunggu kerja para lulusan rata-rata hanya 3 bulan 14 hari.
"PEP Bandung terus berupaya meningkatkan kualitas ajar dan lulusannya. Untuk itu, kami sudah bekerja sama dengan 60 perusahaan tambang di dalam dan di luar negeri," lanjut Eva.
Dia juga menambahkan PEP Bandung juga bakal menggelar konvensi internasional mengenai Human Capital Summit ke-3 di Bandung, pada
Mei 2027.
CEGAH SDA DIAMBIL NEGARA LAIN
Pada kesempatan nan sama Kepala BPSDM Kementerian ESDM, Prahoro Yulijanto Nurtjahyo mengingatkan tidak semua negera mempunyai kekayaan sumber daya alam seperti Indonesia.
Namun, kekayaan SDA kudu diimbangi dengan keahlian sumber daya manusia nan mumpuni. "Tanpa SDM nan baik, sumber daya alam kita bisa saja diambil negara lain," jelasnya.
Indonesia, lanjut dia, saat ini hanya mempunyai 4,5 juta penduduk nan lulus diploma. Jumlah ini tetap sangat sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan.
Di bagian daya dan pertambangan saja, Indonesia termasuk 10 besar negara di bumi nan mempunyai persediaan tambang besar.
"Siap tidak siap, SDM Indonesia kudu tersedia, terampil dan kompeten. Jika tidak, maka kekayaan negeri ini bakal diambil negara lain," tambah Prahoro.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·