Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) berbareng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia buka suara, soal berita penanammodal asal China nan disebut bakal masuk ke upaya peternakan ayam petelur di Indonesia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Agung Suganda menegaskan info nan beredar saat ini tetap sebatas penjajakan awal dan belum mengarah pada investasi besar seperti nan ramai diberitakan.
"Rapat hari ini termasuk menjelaskan mengenai dengan pemberitaan, di mana ada rencana penanammodal China nan bakal melakukan investasi di peternakan ayam petelur," kata Agung saat ditemui usai rapat di kantornya, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan pihaknya, dalam perihal ini pemerintah, meminta penjelasan langsung dari perwakilan Kadin Indonesia agar info nan diterima peternak tetap akurat.
"Tadi juga sudah dijelaskan oleh Pak Cecep dari perwakilan Kadin, dan tentu ini untuk bisa memberikan info nan valid, nan jeli bagi para peternak layer (ayam petelur) khususnya," ujar dia.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Peternakan, Cecep M. Wahyudin menyebut info nan beredar di publik sudah terlalu liar dan tidak sesuai kebenaran di lapangan.
"Ini agar tidak sesat nih ya, lantaran info nan beredar itu saya pikir itu terlalu tersesat dan terlalu dini," kata Cecep dalam kesempatan nan sama.
Dia menuturkan, Kadin memang menjadi pintu masuk komunikasi bagi penanammodal maupun pelaku usaha, baik dari dalam maupun luar negeri.
Foto: Harga beberapa sembako di Pasar Minggu, Jakarta Selatan terpantau condong normal pada Senin (13/4/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata )
"Karena kenyataannya, Kadin itu kan pintu dan juga jendela para penanammodal maupun para pelaku upaya nan ada di Indonesia baik lokal maupun luar, tentu kami menerima siapapun tamu nan datang," ujarnya.
Namun Cecep menegaskan, pembicaraan dengan delegasi asal China tetap dalam tahap awal penjajakan dan belum ada keputusan investasi.
"Perlu kami jelaskan bahwa itu adalah tahap awal adanya rencana, alias kemauan penanammodal dan delegasi dari China nan berkeinginan untuk masuk ke Indonesia, untuk mengembangkan peternakan ayam di Indonesia," terang dia.
"Jadi tetap tahap sosialisasi, tidak ada rencana pengembangan sampai sebesar apa nan diberitakan," lanjut Cecep.
Ia memastikan, Kadin memahami kondisi industri telur nasional nan saat ini tengah mengalami surplus produksi, sehingga pengembangan upaya kudu tetap mempertimbangkan keseimbangan pasar.
"Kadin juga tentu sangat memahami supply demandnya seperti apa, kondisinya seperti apa, lantaran selama ini Kadin dengan beberapa kementerian, khususnya Kementerian Pertanian, terus melakukan komunikasi," ujarnya.
"Jadi kami mengerti betul mana nan kudu kita dorong, mana nan enggak," sambungnya.
Cecep juga menepis dugaan kerja sama tersebut bakal menggeser peternak lokal. Menurut dia, konsentrasi utama justru memperkuat kapabilitas produksi nasional melalui transfer teknologi peternakan modern.
Lebih jauh, dia menyebut kebutuhan telur ayam diperkirakan bakal terus meningkat seiring dengan adanya penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan dugaan 60 juta penerima faedah dan konsumsi dua butir telur per minggu, kebutuhan telur bisa mencapai lebih dari 480 juta butir per bulan.
Cecep juga mengungkapkan, telah menerima kunjungan delegasi industri telur asal China pada 21 April 2026 lalu, untuk membahas kesempatan kerja sama investasi dan transfer teknologi di sektor ayam petelur, khususnya di Aceh.
Meski begitu, dia menegaskan perusahaan asal China tersebut tidak bakal menjadi integrator vertikal nan menguasai seluruh rantai upaya perunggasan nasional.
"Perusahaan China ini diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi peternakan melalui konsep integrasi horizontal," jelasnya.
Cecep mengungkapkan rencana kerja sama itu mempunyai sasaran investasi sekitar Rp1,4 triliun, untuk pembangunan breeding farm, pabrik pakan, hingga akomodasi pengolahan telur di Aceh dengan menggandeng peternak rakyat.
Selain itu, Kadin berbareng Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi disebut terus mendorong penguatan peternak rakyat dan koperasi desa.
"Kemudian juga Kadin beserta dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Koperasi terus menggenjot upaya gimana mempercepat dan memperbesar peternak rakyat, jadi antara buletin dan realita ini sangat jauh dari kenyataan," pungkas Cecep.
(wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·