Kemenperin Optimistis PMI Manufaktur Terus Membaik Meski Perang Kian Panas

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, saat aktivitas ISAW & Cosmetic Day 2026, Senin (3/8/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur terus membaik pada bulan-bulan berikutnya meskipun eskalasi perang AS dan Iran kembali memanas.

Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menilai dengan kondisi rantai pasok dan logistik dunia nan membaik, maka pemulihan PMI Manufaktur dapat terus berlanjut.

Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia melesat menjadi 50,2, dari posisi Juni 2026 nan sebesar 46,9. Hal ini seiring dengan operasional sektor manufaktur Indonesia membaik pada awal kuartal III tahun 2026.

"Ya tentu kita terus menggenjot. Saya sih optimis ya dengan kondisi dunia nan makin baik, rantai pasok membaik, logistik membaik, saya kira PMI di Agustus maupun September dan selanjutnya bakal meningkat lagi," ungkapnya usai aktivitas ISAW & Cosmetic Day 2026, Senin (3/8).

Faisol melanjutkan, perang AS dan Iran tidak bisa diprediksi kapan berakhir, hanya saja pemerintah meyakini bahwa deeskalasi bakal segera terjadi sehingga blokade salah satu jalur logistik terpenting di dunia, Selat Hormuz, kembali dibuka.

Ilustrasi area industri Jawa Barat. Foto: Roy Ismail/Shutterstock

"Kita mengikuti dari waktu ke waktu bahwa pembicaraan di antara negara-negara nan terlibat dalam bentrok untuk menemukan titik jumpa dalam negosiasi, misalnya Iran dengan Amerika, di mana Amerika menyatakan bakal sudah mendekati kesepakatan untuk pembukaan secara total Selat Hormuz," tuturnya.

Kondisi perbaikan ke depan tersebut diharapkan dapat berakibat positif pada sektor manufaktur Indonesia, terutama kaitannya pada keahlian ekspor nasional.

"Kalau kita bisa ikuti ini saja sangat membantu untuk peningkatan produktivitas di dalam negeri antara lain meningkatkan PMI dan ekspor kita," tandas Faisol.

Sebelumnya, S&P Global mengatakan ekspansi volume produksi industri Indonesia kembali meningkat setelah empat bulan penurunan. Para panelis melaporkan peningkatan tersebut umumnya mencerminkan tanda-tanda membaiknya kondisi permintaan, meskipun ekspansi nan lebih kuat tersendat oleh kenaikan nilai bahan baku nan berkelanjutan.

"Data survei Juli menunjukkan peningkatan kembali dalam volume produksi di sektor manufaktur Indonesia, sebagian mengenai dengan stabilisasi penerimaan pesanan baru,” kata Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, dalam laporannya, Senin (3/8).

Perbaikan kondisi manufaktur secara keseluruhan tersebut juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan jumlah karyawan, sementara memberikan tekanan pada kapasitas.

Ilustrasi aktivitas perakitan mobil-mobil di Mazda Indonesia Plant Citeureup, Bogor, Jawa Barat. Foto: Mazda

Secara bersamaan, volume permintaan baru stabil pada Juli, setelah kontraksi nan solid pada Juni. Perusahaan mengaitkan perihal ini dengan kepercayaan pengguna nan lebih kuat dan peluncuran proyek baru.

Sementara pesanan ekspor baru menurun secara signifikan untuk bulan kelima berturut-turut. Seiring stabilnya permintaan, tekanan pada kapabilitas meningkat dan menyebabkan akumulasi pekerjaan nan tertunda. Bahkan, peningkatan tersebut merupakan nan besar sejak November 2025.

Pada saat nan sama, perusahaan meningkatkan jumlah staf untuk pertama kalinya dalam lima bulan, meskipun hanya sedikit, sementara persediaan pasca-produksi kembali turun lantaran produsen berupaya menggunakan stok nan ada untuk membantu memenuhi pesanan.

"Positif lebih lanjut dalam info datang melalui peningkatan kembali jumlah karyawan, mengakhiri periode empat bulan pengurangan pekerjaan. Tekanan pada kapabilitas juga terlihat, dengan penumpukan pesanan nan paling tinggi sejak November lalu,” tutur Usamah.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan