Kemenkes: 60 Persen Penduduk Indonesia Masih Rentan Terinfeksi Hepatitis B

Sedang Trending 2 hari yang lalu
 60 Persen Penduduk Indonesia Masih Rentan Terinfeksi Hepatitis B Ilustrasi, vaksin hepatitis B.(Dok. Magnific)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa lebih dari 60 persen masyarakat Indonesia saat ini tetap berada dalam kondisi rentan terhadap jangkitan hepatitis B. Meskipun program imunisasi nasional nan dimulai sejak 1997 telah sukses menekan nomor penularan pada golongan anak secara signifikan, beban penyakit pada golongan usia dewasa tetap menjadi tantangan besar.

Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes, dr. David H. Muljono, menjelaskan bahwa Indonesia tengah mengalami perubahan epidemiologi hepatitis B. Menurutnya, penularan pada generasi nan menerima imunisasi sejak bayi telah menurun drastis. Namun, golongan usia dewasa tetap mencerminkan tingginya penularan nan terjadi pada masa sebelum imunisasi universal diperkenalkan.

“Distribusi antibodi pelindung (anti-HBs) memperlihatkan pola bimodal. Angkanya tinggi pada anak-anak berkah keberhasilan imunisasi, menurun pada usia remaja dan dewasa muda, lampau meningkat kembali pada golongan usia tua akibat kekebalan setelah jangkitan alami,” ujar David di Jakarta, Senin (27/7).

Keberhasilan Imunisasi Anak vs Kerentanan Dewasa

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hepatitis B aktif (HBsAg) pada anak usia 1–4 tahun hanya sebesar 0,1 persen. Angka ini berada jauh di bawah sasaran eliminasi nan ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). David menilai pencapaian ini membuktikan bahwa imunisasi hepatitis B adalah salah satu intervensi kesehatan masyarakat paling efektif di Indonesia.

Namun, gambaran berbeda terlihat pada info populasi secara keseluruhan. Prevalensi hepatitis B aktif (HBsAg) nasional sekarang mencapai 2,4 persen. Sebanyak 19,7 persen masyarakat terdeteksi pernah terpapar virus (anti-HBc positif), sementara hanya 24,3 persen nan mempunyai antibodi pelindung (anti-HBs positif).

Strategi Baru Menuju Eliminasi

Melihat kondisi tersebut, dr. David menekankan bahwa upaya pencegahan tidak boleh berakhir pada imunisasi bayi. Diperlukan strategi perlindungan bagi golongan usia nan lebih tua melalui pendekatan nan mencakup seluruh perjalanan penyakit, mulai dari pencegahan jangkitan baru hingga penanganan sirosis dan kanker hati.

“Upaya tersebut meliputi ekspansi skrining berbasis risiko, peningkatan akses laboratorium, pemeriksaan dini, serta pemberian vaksinasi catch-up bagi perseorangan nan belum mempunyai kekebalan,” tambahnya.

Harapan baru juga muncul seiring terbitnya pedoman WHO 2024 nan memperluas rekomendasi terapi antivirus bagi penderita hepatitis B kronis. Hal ini memungkinkan lebih banyak pasien mendapatkan pengobatan lebih awal sebelum kondisi memburuk menjadi kanker hati.

Kemenkes membujuk seluruh pihak, mulai dari akademisi hingga media, untuk meningkatkan kesadaran publik. Keberhasilan mencapai sasaran WHO pada golongan anak menjadi bukti bahwa kebijakan berbasis ilmiah bisa mengubah epidemiologi penyakit dalam satu generasi. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia