Ilustrasi(Dok BPBD Ponorogo)
KEMENTERIAN Kehutanan (Kemenhut) memantau kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia di tengah peningkatan titik panas alias hotspot kebakaran rimba dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan hingga Rabu (14/10) pukul 21.00 WIB, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 372 titik, naik dari 244 titik sehari sebelumnya.
Kemenhut menyatakan, pemantauan kualitas udara berbasis PM2.5 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua tetap mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, apalagi rawan secara lokal.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah peningkatan hotspot nan terdeteksi melalui pemantauan satelit. Meski demikian, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area terbakar. Setiap indikasi perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan perkembangan kualitas udara dan mengikuti pengarahan pemerintah daerah.
“Masyarakat di wilayah terdampak diimbau terus mengikuti info kualitas udara. Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker andaikan kudu beraktivitas di luar,” ujar Ristianto.
Kemenhut juga mengingatkan masyarakat agar memberikan perhatian unik kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta penduduk dengan penyakit pernapasan alias penyakit kronis nan lebih rentan terhadap akibat polusi udara.
Sementara itu, penanganan karhutla terus dilakukan melalui operasi darat dan udara dengan melibatkan Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait.
Kemenhut mengimbau masyarakat dan pelaku upaya tidak membuka alias membersihkan lahan dengan langkah membakar. Warga juga diminta segera melaporkan temuan asap, titik api, alias aktivitas pembakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·