KemenHAM DKI Minta Publik Tak Bawa Isu SARA Terkait Bentrokan Maut Menteng

Sedang Trending 20 jam yang lalu
Jakarta -

Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Daerah Khusus Jakarta, Mikael Azedo Harwito, menyoroti bentrokan maut nan terjadi di Menteng, Jakarta Pusat. Dia meminta peristiwa tersebut tidak dikaitkan dengan ras maupun suku tertentu.

"Kami minta bentrok nan terjadi tidak mengaitkan ras, suku alias kepercayaan tertentu," kata Mikael Azedo kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia membujuk masyarakat untuk menyerahkan seluruh proses norma kepada polisi. Dia mengatakan proses penegakan norma kudu dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, serta tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip kewenangan asasi manusia.

"Kami juga membujuk seluruh masyarakat untuk menahan diri, tidak mudah terprovokasi, serta memberikan kepercayaan penuh kepada kepolisian dalam mengusut tuntas peristiwa ini. Mari kita jaga keamanan, kedamaian, dan persatuan dengan tetap menghormati norma serta nilai-nilai kewenangan asasi manusia," ujarnya.

Dia menyampaikan, Kementerian HAM Jakarta bakal terus berkoordinasi dengan beragam pihak di lingkungan sekitar letak kejadian. Melalui koordinasi tersebut, pihaknya bakal mendorong peningkatan kewaspadaan masyarakat sekaligus membujuk seluruh komponen untuk menghindari tindakan nan bertentangan dengan norma dan kewenangan asasi manusia.

Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh info nan belum terverifikasi. Penyebaran info nan berkarakter provokatif berpotensi memperbesar bentrok dan mengganggu keselarasan sosial.

"Saya berambisi seluruh komponen masyarakat dapat terus menjaga persatuan, mengedepankan sikap saling menghormati, serta mendukung terciptanya situasi nan aman, damai, dan kondusif. Percayakan proses norma nan sedang berjalan," imbuhnya.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan tujuh tersangka dari peristiwa bentrok maut di area Jalan Tambak, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuh tersangka itu berasal dari dua peristiwa nan berbeda.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebut peristiwa pertama mengenai perusakan. Peristiwa ini diawali oleh sebuah golongan nan tidak terima ditegur penduduk lantaran menggunakan knalpot berisik.

"Kejadian ini berasal dari bunyi kebisingan knalpot. Kebisingan knalpot, sehingga mengganggu penduduk lainnya. Dan ini diteriaki, sehingga nan berkepentingan tidak terima, kembali ke letak tetapi nan meneriaki sudah tidak ada di letak kejadian," kata Budi di jalan Matraman Dalam, Jakarta, Senin (27/7).

Kelompok nan ditegur penduduk itu emosi, kemudian melakukan perusakan kepada gerobak makanan dari pedagang. Warga tidak terima atas perusakan itu, sehingga terjadi peristiwa kedua ialah kericuhan disertai penganiayaan.

(dek/ygs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News