Kemendiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Adaptif terhadap AI dan Perkuat Wirausaha Berbasis Teknologi

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Kemendiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Adaptif terhadap AI dan Perkuat Wirausaha Berbasis Teknologi Plt. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco(Dok Kemendiktisaintek)

KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi memperkuat kesiapan menghadapi perkembangan kepintaran artifisial atau artificial intelligence (AI). Langkah tersebut mencakup peningkatan kompetensi dosen, penyesuaian kurikulum, hingga pemanfaatan AI untuk mendukung aktivitas penelitian.

Plt. Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan, perkembangan AI telah mengubah beragam aktivitas upaya dan pola kerja. Teknologi tersebut sekarang dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan pelanggan, meningkatkan layanan, mengotomatisasi pekerjaan rutin, mengembangkan produk, hingga membantu proses pengambilan keputusan.

Perubahan itu, kata Badri, turut memengaruhi langkah masyarakat bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Karena itu, perguruan tinggi perlu mempersiapkan lulusan dengan keahlian nan relevan dengan kebutuhan bumi kerja nan terus berkembang.

"Kita saat ini tidak lagi berada pada tahap mempertanyakan apa nan dapat dilakukan AI untuk pekerjaan kita. Sebaliknya, kita kudu bertanya, apa nan semestinya dilakukan AI dan apa nan kudu tetap menjadi tanggung jawab manusia," kata Badri, Jumat (14/8).

Menurut Badri, penyesuaian terhadap AI tidak cukup hanya dengan memahami langkah menggunakan teknologi tersebut. Perguruan tinggi juga perlu memastikan pemanfaatannya dilakukan secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkepanjangan dengan tetap menempatkan aspek manusia sebagai bagian penting.

"Kita memerlukan pemimpin nan memahami teknologi, tetapi juga memahami manusia. Kita memerlukan upaya nan inovatif, tetapi juga bertanggung jawab. Dan kita memerlukan penelitian nan dapat membantu organisasi mengambil keputusan nan lebih baik dalam lingkungan nan berubah dengan sigap ini," ujarnya.

Badri menilai perkembangan AI menjadi kesempatan sekaligus tantangan bagi pengajar dan profesor. Tenaga pendidik perlu terus meningkatkan kapabilitas agar bisa memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran sekaligus membimbing mahasiswa menghadapi perubahan kebutuhan kompetensi di masa depan.

Penyesuaian kurikulum juga dinilai menjadi bagian krusial dari proses tersebut. Perguruan tinggi perlu memberi perhatian lebih terhadap sejumlah kompetensi nan semakin dibutuhkan, antara lain AI dan Big Data, literasi teknologi, jaringan dan keamanan siber, serta keahlian berpikir kreatif.

Selain bagian pembelajaran, perguruan tinggi juga mempunyai ruang besar untuk mendorong lahirnya kewirausahaan berbasis sains dan teknologi. Mahasiswa dapat diarahkan untuk mengidentifikasi beragam persoalan di lingkungan sekitar dan mengubahnya menjadi kesempatan pengembangan solusi maupun inovasi.

Kolaborasi dengan pemerintah wilayah dinilai dapat menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan keahlian akademik dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Dengan demikian, penemuan nan lahir dari kampus tidak berakhir pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi nan mempunyai faedah lebih luas.

Badri juga menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan organisasi profesional.

"Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menciptakan ekosistem pendidikan, penelitian, dan kewirausahaan nan bisa merespons perubahan teknologi," tuturnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia