Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Keamanan Rusia memperingatkan potensi operasi darat oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Peringatan itu muncul di tengah berlangsungnya negosiasi antara Washington dan Teheran.
Dalam pernyataan resminya, badan nan berada di bawah kepemimpinan Presiden Rusia Vladimir Putin itu menilai pembicaraan tenteram bisa dimanfaatkan sebagai celah untuk menyiapkan langkah militer.
"AS dan Israel dapat menggunakan pembicaraan tenteram untuk mempersiapkan operasi darat terhadap Iran," demikian bunyi pernyataan tersebut, Selasa waktu setempat, seperti dikutip RT.
Peringatan ini muncul seiring laporan bahwa Pentagon terus meningkatkan kehadiran militernya di area Timur Tengah, meskipun jalur diplomasi tetap dibuka. Rusia menilai penguatan pasukan tersebut menjadi parameter adanya skenario eskalasi konflik.
Sebelumnya, putaran pertama negosiasi antara AS dan Iran nan digelar di Islamabad, Pakistan, berhujung tanpa kesepakatan. Pihak Teheran menyalahkan kegagalan itu pada "tuntutan nan tidak realistis" dari Washington, namun tetap membuka kesempatan perbincangan lanjutan.
Presiden AS Donald Trump apalagi menyebut pembicaraan berikutnya bisa kembali digelar dalam waktu dekat. Ia juga memberi sinyal tidak bakal memperpanjang gencatan senjata dua minggu nan bakal berhujung pada 22 April.
"Konflik ini bisa berhujung dengan langkah apa pun, tetapi saya pikir kesepakatan lebih baik," ujar Trump dalam wawancara dengan ABC News.
Ketegangan meningkat setelah serangan campuran AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, nan terjadi saat negosiasi mengenai program nuklir tetap berlangsung. Sebelumnya, Israel juga sempat menyerang akomodasi nuklir Iran pada Juni lalu, memicu bentrok bersenjata selama 12 hari.
Dewan Keamanan Rusia memperingatkan, jika negosiasi kembali gagal, eskalasi militer berpotensi meningkat signifikan dalam waktu singkat.
"Jika negosiasi kandas mencapai tujuan nan dimaksud, permusuhan dapat bersambung dengan intensitas nan lebih besar setelah dua minggu," lanjut pernyataan tersebut.
Di sisi lain, Iran menegaskan lebih memilih penyelesaian permanen dibanding sekadar perpanjangan gencatan senjata. Teheran menuntut agunan keamanan, pencabutan sanksi, serta kewenangan untuk melanjutkan pengayaan uranium untuk tujuan damai.
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf apalagi memperingatkan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan invasi darat.
"Iran siap menghadapi serangan darat dan bakal menghujani mereka dengan tembakan," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Teheran tidak bakal ragu membalas dengan menyerang prasarana daya di negara-negara Teluk jika bentrok meluas.
Rusia menilai, meski tekanan meningkat, kondisi internal Iran tetap stabil. Pemerintah dan militer disebut tetap solid, dengan support publik nan menguat sejak serangan terakhir satu separuh bulan lalu.
(tfa/luc)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·