Kekurangan Air, 10.670 Hektare Tanaman Padi di Indramayu Puso

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Kekurangan Air, 10.670 Hektare Tanaman Padi di Indramayu Puso Petani di Indramayu.(Dok. MI)

SEJUMLAH tanaman padi di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dilaporkan mengalami kandas panen alias puso. Ketiadaan pasokan air di tengah musim tandus menjadi penyebab utama matinya tanaman padi milik petani di wilayah tersebut.

Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menjelaskan bahwa saat ini puncak panen di Kabupaten Indramayu sebenarnya sudah terlewati. Meski demikian, tetap terdapat beberapa titik nan sedang melangsungkan panen.

“Masih ada nan panen tapi spot-spot,” tutur Sutatang, Kamis (15/10/2026).

Ia menambahkan, hasil panen pada musim ini tergolong cukup tinggi dengan rata-rata minimal 7 ton gabah per hektare. Bahkan, beberapa petani bisa menghasilkan gabah hingga 9 ton per hektare.

Ribuan Hektare Terdampak Puso

Namun, di kembali keberhasilan panen di sejumlah titik, Sutatang mengakui adanya areal persawahan nan mengalami puso. Berdasarkan info KTNA, tanaman padi nan kandas panen tersebar di Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, dan Balongan.

Total luas lahan nan terdampak mencapai sekitar 10.670 hektare dengan rata-rata usia tanaman 30 hari setelah tanam (hst). Minimnya sumber daya air membikin tanaman padi mengering hingga akhirnya mati.

“Padahal tanaman padi nan puso sudah mengalami pemupukan pertama. Petani sudah mengeluarkan biaya nan tidak sedikit, mulai dari pengolahan tanah, pembibitan, hingga pemupukan,” jelas Sutatang.

Terkait sumber pengairan, Sutatang mengungkapkan bahwa wilayah nan mengalami puso tersebut berjuntai pada pasokan air dari Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas. Ia menyoroti prasarana penyaluran air dari Bendung Cipanas nan belum optimal menuju persawahan petani.

“Kalau Waduk Cipanas sudah normal, insyaallah ke depannya aman. Salah satu aspek kendalanya adalah prasarana penyaluran air nan belum optimal,” tambahnya.

Harga Gabah Tinggi di Musim Gadu

Di sisi lain, petani nan sukses panen pada musim gadu tahun ini menikmati produktivitas nan meningkat dan nilai gabah nan tinggi. Saat ini, nilai Gabah Kering Panen (GKP) di Indramayu berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram.

Sementara itu, nilai Gabah Kering Giling (GKG) mencapai kisaran Rp9.500 per kilogram. Angka ini jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) nan ditetapkan sebesar Rp6.500 untuk GKP dan Rp7.400 hingga Rp8.000 untuk GKG.

Kondisi nilai nan menguntungkan ini membikin sebagian besar petani memilih untuk langsung menjual hasil panen mereka guna mendapatkan modal tanam berikutnya. “Petani memerlukan modal untuk menanam padi di musim rendeng. Jarak panen gadu dengan tanam rendeng memang tidak jauh tahun ini,” kata Sutatang.

Para petani di Indramayu diperkirakan bakal mulai melakukan tahapan tanam musim rendeng pada November mendatang. (H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑