Ilustrasi.(Al Jazeera)
KEPUTUSAN Amerika Serikat (AS) menyerang Iran untuk pertama kali dalam sebulan terakhir menunjukkan tekad Washington memenangkan persaingan kendali atas Selat Hormuz. Langkah ini diambil meskipun berisiko memicu eskalasi nan dapat mengubah bentrok menjadi perang terbuka.
Pasukan Amerika menyatakan telah menghantam situs peluncuran Iran nan tengah bersiap menembakkan roket untuk menyebarkan ranjau laut di perairan sempit selat tersebut. Sebagai balasan, Teheran melepaskan salvo rudal ke arah Yordania, nan menjadi markas bagi ribuan tentara Amerika. Seluruh rudal tersebut sukses dicegat.
Cengkeraman Iran di Selat Hormuz, nan merupakan gerbang bagi seperlima pasokan minyak dunia, telah menjadi perangkat tawar menawar utama bagi Teheran. AS sekarang melancarkan kampanye garang untuk menggoyahkan kendali tersebut dan memulihkan kebebasan navigasi.
Inti dari pertempuran ini adalah ketidakseimbangan esensial dalam perang ranjau. Iran tidak perlu menenggelamkan kapal secara fisik; mereka hanya perlu meyakinkan pemilik kapal, kapten, dan perusahaan asuransi bahwa akibat menghadapi ranjau terlalu tinggi untuk melakukan perjalanan.
Sebaliknya, misi AS jauh lebih sulit. Untuk memastikan jalur nan aman, militer AS kudu melumpuhkan alias mengangkat setiap ranjau nan ada. "Selama ada rekam jejak selat tersebut diranjau dan Iran mempunyai ranjau dalam jumlah besar, pemilik kapal bakal menganggapnya terlalu berisiko," ujar Alessio Patalano, guru besar strategi perang di King's College London.
Taktik Baru: Ranjau Berbasis Roket
Upaya Iran untuk menembakkan ranjau ke selat menggunakan roket menyoroti kompleksitas upaya AS. Meskipun angkatan laut reguler Iran sebagian besar telah hancur, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tetap mempunyai banyak kapal sigap mini nan tersembunyi di sepanjang pantai.
Selain itu, Iran mendemonstrasikan metode nan tidak biasa: menembakkan ranjau dari darat ke laut. Dalam latihan tahun 2025, IRGC memamerkan sistem roket Fajr-5 untuk menyebarkan ranjau laut dari jarak jauh. Metode ini memungkinkan Iran menyemai ranjau dengan sigap tanpa mengekspos kapal peletak ranjau ke jangkauan pasukan AS.
Konteks Sejarah: Penggunaan ranjau laut berlangsung selama berabad-abad. Rusia melakukan penggunaan melindungi sistematis pertama pada Perang Krimea tahun 1850-an. Pada Perang Dunia II, pesawat AS menyebar lebih dari 12.000 ranjau di sekitar Jepang, menenggelamkan alias merusak sekitar 670 kapal.
Tantangan Pembersihan dan Blokade
Serangan Amerika ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Trump mengeklaim bahwa AS telah mengangkat alias meledakkan semua ranjau di jalur air tersebut. Trump memperingatkan bahwa kapal apa pun nan meletakkan ranjau baru bakal dihancurkan.
Sejak pertengahan Juli, Trump telah memberlakukan kembali blokade angkatan laut, melarang minyak dan barang-barang Iran keluar-masuk pelabuhan. Eliot Cohen dari CSIS menilai upaya Iran meranjau kembali selat tersebut menunjukkan frustrasi Teheran lantaran blokade AS telah memiringkan keseimbangan kekuatan.
Namun, para mahir memperingatkan bahwa operasi pembersihan ranjau tidak pernah bisa menjamin keamanan 100%. "Perang ranjau adalah permainan ketidaktahuan," kata Scott Savitz, ahli operasi angkatan laut di Rand. "Tidak mungkin mengatakan dengan kepastian penuh bahwa semua ranjau telah dieliminasi, hanya risikonya dikurangi ke tingkat nan dapat diterima."
Dengan pengetahuan permukaan bumi selat nan sempit, kapal komersial terpaksa berkonsentrasi pada jalur tertentu, membikin mereka menjadi sasaran lembek bagi ranjau nan mudah didapat, dipindahkan, dan disebarkan oleh pasukan Iran. (The Wall Street Journal/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·