Kecerdasan Iran dan Kekalahan Trump-Netanyahu

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Kecerdasan Iran dan Kekalahan Trump-Netanyahu (MI/Seno)

IRAN telah memutus komunikasi dengan AS setelah kesepakatan nan telah dicapai antara tim perunding Iran dan AS, dimediasi Pakistan, diamendemen Presiden AS Donald Trump dengan syarat nan lebih ketat mengenai dengan Selat Hormuz, program nuklir dan 440 kg nuklir mereka nan telah diperkaya 60%, dan pencairan biaya Iran senilai US$12 miliar nan dibekukan AS. Untuk memaksa Iran menerima amendemen Trump, AS menyerang situs militer dan radar Iran di Provinsi Hormozgan, dekat pelabuhan Bandar Abbas. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain nan digunakan untuk menyerang Iran.

Yang mengejutkan, Iran justru mengeluarkan ultimatum sebagai syarat dimulainya perundingan. Pertama, Israel kudu segera mengosongkan Libanon selatan. Bila mereka tidak melakukan itu, Iran bakal menyerang Israel utara. Memang sejak gencatan senjata Hizbullah-Israel nan dicapai pada 24 November 2024, Israel tak menepatinya. Padahal Hizbullah telah meninggalkan Libanon selatan hingga ke Sungai Litani. Israel tidak hanya memperkuat di lima titik strategis di Libanon, tapi juga setiap hari menyerang penduduk dan prasarana sipil di sana. Hizbullah baru menyerang Israel tiga hari setelah pemimpin spiritual Iran Ayatullah Ali Khamenei dibunuh Israel di awal agresi mereka, 28 Februari.

Kedua, Israel juga kudu berakhir menyerang penduduk Gaza. Memang dalam beberapa hari belakangan, PM Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan ekspansi pendudukan Israel di Gaza dari 53%, sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas nan dimediasi AS pada Oktober tahun lalu, menjadi 70%. Di luar itu, militer Israel (IDF) terus melancarkan serangan terhadap penduduk sipil Gaza, membatasi masuknya support kemanusiaan internasional, dengan tujuan memaksa penduduk Palestina meninggalkan tanah air mereka. Ketiga, Trump kudu mencabut bloakade AS atas kapal kargo dan tanker nan datang dan menuju pelabuhan Iran. Hanya dengan memenuhi tiga ultimatum itu, Teheran bersedia berkompromi dengan AS lagi.

Sejak itu nada bunyi Trump dan Menlu Marco Rubio terhadap Iran berubah lembut. Tak ada lagi kata 'harus'. Bahkan, Trump mencerca Netanyahu dan mendesaknya untuk segera menghentikan perang di Libanon. Trump tidak saja kembali badan terhadap Netanyahu, tapi juga membuka komunikasi dengan Hizbullah nan ditetapkan AS sebagai golongan teroris. Fenomena itu menggambarkan meningkatnya leverage Iran vis a vis AS. Apa penyebabnya? Ternyata pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Mujtaba, putra mendiang Ali Khamenei, telah memerintahkan IRGC dan para master nuklir Iran untuk membangun peledak nuklir dalam waktu dua minggu. Know how-nya diperoleh dari Rusia. Tiongkok pun mendukungnya.

NUKLIR IRAN

Tidak jelas apakah Iran telah mempunyai peledak nuklir alias tetap dalam proses pembuatannya. Namun, pembicaraan tentang pembentukan aliansi baru nan melibatkan Qatar, Arab Saudi, Mesir, Turki, Pakistan, Iran, dan Tiongkok menjelaskan mereka merespons terhadap 'kepastian' Iran bakal muncul sebagai superpower regional. Toh, AS tak lagi bisa diandalkan sebagai penjamin keamanan negara Arab. Iran tidak saja bakal mempunyai peledak nuklir, tapi juga mengontrol Selat Hormuz nan sangat strategis bagi keamanan energi, pangan, dan ekonomi dunia. Dus, agresi Trump-Netanyahu terhadap Iran tidak hanya kandas melahirkan rezim baru, tetapi juga mengikis hegemoni AS dan Israel.

Memang agresi AS-Israel, ketika perundingan Iran-AS nan dimediasi Oman di Jenewa mengenai dengan program nuklir Iran sedang mengalami kemajuan signifikan, merupakan blunder historis. Rezim mullah Iran tidak hanya tetap eksis, tapi juga makin kuat dan menakutkan. Kalau kelak Iran dan AS kembali berkompromi berbasis pada 14 klausul nan dibuat Iran, tidak mungkin lagi AS bisa memaksa kehendak mereka, ialah pembongkaran program nuklir Iran, pembatasan program rudal balistik, pembubaran 'poros perlawanan', dan pembukaan Selat Hormuz tanpa fee seperti sediakala. Ayatullah Mujtaba Khamenei telah menegaskan nuklir sebagai aset nasional kudu dijaga sebagaimana Iran menjaga teritorium mereka.

Blunder historis itu dimulai ketika Trump, atas rayuan Netanyahu dan monarki Teluk, mundur dari kesepakatan multilateral nuklir Iran alias Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) nan dicapai pada 2015. Trump mengecamnya sebagai kesepakatan paling dungu nan pernah dilakukan AS. JCPOA mengharuskan program nuklir Iran membatasi kadar pengayaan uranium pada aras 3,67% dengan pengawasan ketat badan PBB (IAEA). Imbalasannya, Iran diizinkan mengekspor daya mereka ke pasar global. Trump menganggap JCPOA terlalu menguntungkan Iran sehingga dia mendesak perundingan ulang dengan tuntutan tambahan berupa Iran kudu membatasi program rudal mereka dan membubarkan poros perlawanan.

Mundurnya Trump di periode pertama pemerintahannya (2017-2021) disertai tekanan maksimum sebagai leverage untuk memaksa Iran menyetujui syaratnya. Iran menampik meskipun tekanan maksimum Trump memukul telak ekonomi Iran. Iran memperkuat pada kesepakatan itu selama setahun lantaran Inggris, Prancis, dan Jerman sebagai penanda tangan JCPOA berjanji bakal konsisten pada kesepakatan itu. Namun, ketika janji itu tak dipenuhi, Teheran mulai memperkaya uranium hingga 60% guna meningkatkan leverage mereka vis a vis AS. Di era Presiden Joe Biden, perundingan dengan Iran dibuka kembali. Namun, kesepakatan tidak tercapai lantaran Biden menambah sejumlah hukuman baru.

Segera setelah kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump membujuk Iran berkompromi di Oman. Pada Mei, saat perundingan memasuki putaran keenam, Trump menyatakan perundingan mengalami kemajuan pesat. Ternyata itu hanya kedok. Pada Juni, AS masuk gelanggang untuk membantu Israel menyerang Iran. AS mengebom situs-situs nuklir Iran. Perang 12 hari itu menewaskan lebih dari seribu penduduk Iran, termasuk puluhan petinggi IRGC dan master nuklir. Teheran membalas dengan meluncurkan 350-an drone dan rudal ke Israel dan menyasar pangkalan AS di Qatar. Serangan nan diharapkan menciptakan kondisi politik nan memungkinkan regime change gagal.

DEMONSTRASI DAN AGRESI

Pada akhir Desember lalu, kaum pagelaran di Teheran memprotes jatuhnya nilai mata duit riyal dan inflasi melejit. Dengan sigap demonstrasi itu membesar dan merambah ke seluruh kota besar Iran. Trump dan Netanyahu mengaku orang-orang mereka di Iran mengorkestrasi demonstrasi, menewaskan ribuan orang menyusul abdi negara Iran bertindak keras. Belakangan, Trump pun mengakui AS memasok senjata kepada organisasi Kurdi di barat Iran. Alhasil, peristiwa berdarah itu hendak dimanfaatkan Netanyahu untuk sekali lagi membujuk Trump menyerang Iran. Dengan mengutip info dari Mossad bahwa rezim Iran dalam posisi lemah dan bahwa kaki tangan Israel di sana telah siap mengambil alih pemerintahan andaikan Khamenei dan petinggi IRGC telah dibunuh.

Lagi-lagi agresi dilakukan saat mediator Oman mengatakan perundingan putaran kedua antara Iran dan AS di Jenewa mengalami kemajuan substansial. Iran memberikan konsesi signifikan berupa pencairan uranium nan telah diperkaya, membeli pesawat komersial AS, dan membuka sektor daya mereka bagi perusahaan AS meskipun Iran tetap menolak pembatasan program rudal dan pembubaran poros perlawanan. Agresi AS-Israel sukses menewaskan Khamenei, petinggi IRGC, politikus senior, dan menghancurkan prasarana sipil vital Iran. Hasilnya, Iran justru berubah menjadi macan luka. IRGC langsung melancarkan perang asimteris dengan menyasar pangkalan militer AS di seluruh monarki Teluk, Irak, Yordania, dan Israel.

Bahkan, untuk pertama kalinya Iran menutup Selat Hormuz dan menghantam prasarana daya dan sipil negara Arab sekutu AS dan Israel. Kataib Hizbullah di Irak dan Hizbullah di Libanon, proksi Iran dalam poros perlawanan, ikut terjun ke medan laga. Alhasil, realitas geopolitik regional dan internasional nan tercipta dari perang mengejutkan Trump dan Netanyahu. Pangkalan militer AS nan tadinya dianggap sebagai aset deterrence berubah menjadi mangsa Iran. Sejumlah drone, jet tempur, dan helikopter canggih AS dirontokkan Iran. Puluhan tentara mereka tewas. Rakyat AS dan organisasi dunia marah akibat krisis ekonomi dunia. Sejak berdiri pada 1948, Israel babak belur. Ekonomi mereka morat-marit, keresahan sosial mencuat, dan militer mereka melemah. Kendati Iran juga menderita, resiliensi mereka tetap terjaga.

Kewalahan menghadapi Iran, Trump menawarkan gencatan senjata. Operasi Epic fury berhujung pada 8 April. Namun, dengan posisi Iran nan kuat setelah menguasai Selat Hormuz, Trump meningkatkan leverage AS dengan memblokade Iran. Sayangnya AS kudu menghadapi pemilu paruh waktu pada 4 November saat support rakyat AS terhadap perang Iran hanya sekitar 30%. Dus, jika perang Iran tidak diakhiri segera, Partai Republik bakal kalah telak. Dus, itu menambah leverage Iran. Apalagi Arab dan bumi tidak mendukung poisisi AS. Tak kurang penting, Trump kandas membujuk Tiongkok menekan Iran membuka Selat Hormuz. Draf Resolusi DK PBB nan dibuat AS-Bahrain nan menuntut Iran membuka Selat Hormuz diveto Tiongkok dan Rusia.

IRAN PERUNDING ULUNG

Dalam kajian di atas, nan menggambarkan Trump tak punya lagi kartu untuk menghadapi Iran, nan dikenal sebagai perunding ulung (tough negotiator), inilah nan memaksanya mengakomodasi tuntutan utama Iran. Menurut nota kesepahaman (MoU) nan terdiri dari 14 kalusul nan sebelumnya sudah disetujui tim perunding AS, rumor program nuklir Iran hanya bakal dirundingkan pada tahap berikut. Selat Hormuz dibuka secara berjenjang dan AS kudu mengakui kepemilikannya oleh Iran dan Oman nan bakal mengenakan fee bagi kapal asing nan melintasinya. Lalu, AS mencabut sanksi, pelepasan aset Iran, memberikan kompensasi atas kerugian nan diderita Iran akibat agresi AS-Israel. Sebagai tambahan, Israel kudu mundur dari Gaza.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengingatkan kembali peristiwa historis mengenai dengan Kaisar Romawi Marcus Julius Philippus, dalam pesan nan ditujukan kepada Washington, nan memerintahkan pasukan Romawi berbanjar menuju timur melawan Persia hanya untuk dipaksakan membikin perdamaian dengan syarat-syarat nan ditentukan Dinasti Sasaniyah. Andaikan tidak mengikuti kemauan Netanyahu untuk menyerang Iran, Trump tak bakal menghadapi rasa malu seperti sekarang ini, nan meruntuhkan reputasi AS sebagai negara adikuasa nan tak dapat dikalahkan. Memang belum tentu semua nan dituntut Iran bakal dipenuhi Trump mengingat lobi Yahudi dan para hawkish di AS tetap menentang Trump memberikan konsesi besar terhadap Iran.

Penyebabnya, selain kemenangan Iran bakal meredupkan cita-cita Zionis membangun Israel Raya sehingga kehendak mereka menjadi hegemon utama di area tinggal mimpi, Netanyahu bakal diadili lantaran terlibat suap dan korupsi, serta kandas mencapai tujuan perangnya, ialah menundukkan Iran, Hamas, dan Hizbullah. Apa boleh buat, Trump memprioritaskan kepentingan kekuasaannya dan performa Partai Republik. Terlebih, support rakyat AS terhadap Israel tidak pernah serendah sekarang. Perang Iran hanya untuk mempromosikan kepentingan Israel, bukan kepentingan rakyat AS nan kudu bayar pajak untuk membiayai perang nan mahal secara ekonomi, politik, dan militer.

Tak mengherankan mantan Menteri Pertahanan Israel Avigdor Lieberman menuduh Netanyahu mengubah Israel menjadi 'banana republic' di tengah kritik nan meluas tentang upaya-upaya ketua AS mencapai kesepakatan dengan Iran. Saat berbincang di program Meet the Press Channel 12, Lieberman menegaskan deal apa pun nan membiarkan kepemimpinan Iran tetap berkuasa merupakan 'bencana' bagi Israel. Iran mendemonstrasikan resiliensi sepanjang konflik, nan membikin Teheran bisa memproyeksikan kekuatan dalam berurusan dengan AS dan sekutu-sekutu mereka. Kenyataan pahit itu tak bisa dilepaskan dari ambisi Netanyahu nan tidak realistis dan kepercayaan diri berlebihan Trump. Variabel itu membutakan mereka dari realitas objektif Iran dan area sehingga kepintaran Iran mengeksploitasi keahlian maksimal mereka bisa membalikkan keadaan. Wallahu a'lam bish-shawab!

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia