Kebijakan Larangan Media Sosial Remaja Ternyata Berdasarkan Studi yang Tak Pernah Menguji Anak-Anak

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Kebijakan Larangan Media Sosial Remaja Ternyata Berdasarkan Studi nan Tak Pernah Menguji Anak-Anak Ilustrasi(Magnific)

Pemerintah di beragam bagian bumi sekarang tengah gencar membatasi hingga melarang penggunaan media sosial bagi remaja. Kebijakan ini umumnya diambil dengan argumen ilmiah bahwa pengurangan waktu layar (screen time) dapat meningkatkan kesehatan mental generasi muda. Namun, sebuah tinjauan ilmiah terbaru justru menemukan celah besar nan mengejutkan dalam dasar pembuktian tersebut.

Para peneliti menguji seluruh 40 penelitian nan selama ini menjadi tulang punggung argumen pendukung larangan media sosial bagi usia muda. Hasilnya, tidak ada satu pun dari puluhan penelitian tersebut nan melibatkan partisipan di bawah usia 16 tahun. Dengan kata lain, riset nan paling sering dijadikan pembenaran untuk membatasi aktivitas digital remaja rupanya tidak pernah betul-betul menguji golongan remaja itu sendiri.

Hasil Penelitian pada Orang Dewasa nan Lemah

Tinjauan ini diinisiasi oleh Dr. Monika Neff Lind, seorang psikolog klinis di University of California, Irvine (UCI), berbareng dua koleganya. Sebagai seorang ibu, Dr. Lind mengaku bahwa awalnya dia bakal sangat senang jika mendapati bukti bahwa menjauhkan anak-anak dari media sosial memang terbukti membantu mereka. Namun, kebenaran di lapangan berbincang lain.

Dari 40 penelitian nan dikumpulkan, usia rata-rata partisipan adalah orang dewasa, dengan subjek termuda nan tercatat berumur 16 tahun. Kebijakan ini pun dinilai salah sasaran lantaran diterapkan pada golongan umur nan sama sekali belum pernah dipelajari.

Argumen bahwa hasil kuat pada orang dewasa bisa otomatis diterapkan pada remaja juga tidak terbukti kuat dalam kasus ini. Pasalnya, akibat pembatasan media sosial pada orang dewasa pun sejatinya tetap sangat lemah. Sekitar seperlima dari studi tersebut justru mendapati bahwa pembatasan media sosial tidak memberikan akibat apa pun, alias malah memperburuk kondisi psikologis psikologis subjek, seperti meningkatnya rasa kesenyapan dan penurunan kepuasan hidup.

Menimbulkan Masalah Baru dan Penolakan

Laporan dari National Academies juga mencapai konklusi serupa. Hubungan antara media sosial dan kesehatan mental remaja dinilai mini dan jauh lebih rumit daripada narasi nan berkembang di ruang publik saat ini.

Selain masalah validitas data, para peneliti memperingatkan bahwa pemaksaan patokan dari atas ke bawah condong memicu pembangkangan dari remaja nan sedang berada dalam fase memerlukan otonomi serta rasa hormat. Penggunaan teknologi perkiraan usia berbasis foto selfie juga rentan melakukan kesalahan penemuan pada wajah-wajah muda.

"Kita tidak tahu gimana larangan media sosial bakal memengaruhi masa muda lantaran kita belum pernah mempelajari pertanyaan itu," kata Dr. Lind.

Tim peneliti menegaskan bahwa posisi nan jujur saat ini adalah mengakui kebijakan pembatasan tersebut sebagai sebuah penelitian massal. Alih-alih langsung melarang, pemerintah disarankan untuk berfokus membikin platform digital itu sendiri menjadi lebih kondusif sejak awal proses desainnya. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑