Kebakaran di RSSA Malang Diduga Imbas Korsleting Listrik dari Dapur Gizi

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Kebakaran melanda ruangan di area dapur alias ruang gizi dan laundry room Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Kebakaran melanda dua ruangan di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Kebakaran nan terjadi sekitar pukul 14.50 WIB, Rabu (9/9), diduga akibat korsleting arus listrik di ruang gizi alias dapur.

Direktur Utama (Dirut) RSSA Malang dr. Mohammad Bachtiar Budianto mengatakan dugaan awal dari penyelidikan internal sementara menunjukkan api muncul dari ruang dapur alias ruang gizi. Area nan terbakar sekitar 300 meter persegi.

"Dugaan sementara ini api berasal dari hubungan pendek arus listrik nan berada di genting ruang dapur. Sementara ini ada sekitar 300 meter persegi, dengan kerugian materiil atas kejadian ini diperkirakan sekitar Rp 900 juta," kata Bachtiar saat konvensi pers Rabu (9/9) malam.

Ia mengakui RSSA sebagai salah satu rumah sakit tua nan tengah melakukan pembaruan sistem prasarana bangunan, termasuk instalasi kelistrikan.

Dari sana, tetap ada beberapa sistem kelistrikan lama, diduga kabel-kabel nan berumur tua terkelupas hingga memicu kebakaran.

"Kami saat ini dalam proses perbaikan alias pembaruan jaringan listrik. Saat ini kami memang tetap mencapai 60 persen, kurang 40 persen. Namanya ruangan-ruangan pelayanan itu kan rumah sakit tidak bisa menghentikan secara bersamaan. Jadi nan pertama, memang kemungkinan, kemungkinan itu ya mungkin kabel-kabel nan lama nan aus," terangnya.

Namun, penyebab pasti kebakaran tetap dalam proses investigasi. Kepolisian juga bakal melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab kebakaran.

Layanan Makanan Pasien Rawat Inap Tetap Berjalan

Kebakaran melanda ruangan di area dapur alias ruang gizi dan laundry room Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, Rabu (9/9/2026). Foto: Dok. Istimewa

Bachtiar memastikan pelayanan makanan bagi pasien rawat inap tetap berjalan. Karena ruang gizi alias dapur terdampak kebakaran, RSSA sementara bekerja sama dengan pihak katering.

"Karena letak kebakaran adalah dapur gizi—yang tentu kita perlukan untuk memastikan pelayanan makanan pasien tetap berjalan, untuk sementara waktu ini, RSSA bakal bekerja sama dengan pihak katering dengan tetap memperhatikan standar pelayanan gizi nan ada," jelasnya.

Terdampak Asap Kebakaran

Bachtiar mengatakan tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kebakaran tersebut. Pelayanan pasien juga tidak terdampak secara langsung. Namun, terdapat dua letak ruang rawat inap nan terdampak asap kebakaran, ialah ruang rawat inap unik anak (Pediatri) dan ruang rawat inap unik wanita/ibu.

Untuk ruang rawat inap unik anak, 45 pasien dipindahkan ke ruangan nan lebih kondusif dari asap. Pasien kemudian kembali ke ruang rawat sebelumnya setelah kondisi ruangan dinyatakan aman.

"Saat ini memfasilitasi dengan akomodasi nan lebih bagus ditempatkan di ruangan Grand Paviliun lantai 2 untuk seluruh pasien anak semuanya kembali normal dan mendapatkan perawatan seperti sebelum kebakaran," ucapnya.

Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan Medik dan Keperawatan dr. Syaifullah Asmiragani mengungkapkan, pemindahan pasien anak nan dirawat inap dilakukan lantaran pengaruh asap nan tetap terasa di ruangan. Ia dan tim K3 RSSA Malang sempat mengecek kondisi ruangan.

"Kita lakukan skrining dipastikan tidak ada kegawatan, kita menunggu sampai lampu hijau, dari tim nan mengevakuasi, sampai jam 5 ruangan nan digunakan rawat inap anak tetap ada asap, jadi kita butuh waktu 1-2 hari agar asal betul-betul lenyap dari ruangan pelayanan," ucap Syaifullah Asmiragani.

Sementara pasien di ruang rawat inap unik wanita/ibu telah kembali ke ruang perawatan semula pada pukul 16.00 WIB.

Manajemen RSSA memastikan kejadian kebakaran tidak mengganggu pelayanan terhadap pasien, baik pasien nan sedang menjalani perawatan maupun pasien rawat jalan.

"Waktu kita pindahkan ke Grand Paviliun dengan jumlah pasien terdampak 45 pasien. Saya minta dilakukan skrining ulang, termasuk dari sisi psikologis, dan hasilnya tidak ada kegawatan terhadap pasien-pasien terdampak," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan