Karhutla di Pekanbaru Naik Status Jadi Tanggap Darurat Selama 14 Hari

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Seorang anak memandang api nan membakar semak belukar ketika terjadi kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Sabtu (15/8/2026). Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTO

Pemerintah Kota Pekanbaru meningkatkan status penanganan kebakaran rimba dan lahan (karhutla) dari siaga darurat menjadi tanggap darurat musibah karhutla.

Kebijakan tersebut diambil menyusul meningkatnya eskalasi kebakaran, memburuknya kualitas udara, serta mulai munculnya akibat kesehatan nan dirasakan masyarakat.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, peningkatan status tersebut ditetapkan berasas perkembangan kondisi di lapangan. Status tanggap darurat musibah karhutla bertindak selama 14 hari, sejak ditetapkan hingga 7 September 2026.

"Berdasarkan perkembangan kondisi darurat musibah kebakaran lahan dan hutan, maka perlu ditingkatkan statusnya menjadi status tanggap darurat musibah kebakaran rimba dan lahan," kata Agung, Kamis (27/8).

Sebelumnya, status penanganan karhutla di Kota Pekanbaru berada pada level siaga darurat nan telah ditetapkan sejak Mei 2026. Namun, memasuki Agustus, kondisi di lapangan menunjukkan peningkatan eskalasi kebakaran sehingga memerlukan penanganan nan lebih intensif dan terkoordinasi.

Data pemerintah menunjukkan luas lahan nan terbakar di Kota Pekanbaru telah mencapai 85,09 hektare. Sementara itu, jumlah kejadian kebakaran nan tercatat mencapai 150 kejadian.

"Kondisi tersebut diperparah minimnya curah hujan. Berdasarkan kajian info curah hujan dari BMKG Stasiun Meteorologi SSK II Pekanbaru dan Stasiun Pemantauan Rumbai Timur, sejumlah wilayah di Kota Pekanbaru mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) hingga 22 hari dalam kurun waktu satu bulan terakhir," ujarnya.

Minimnya curah hujan membikin kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar. Kerawanan juga semakin tinggi di wilayah nan mempunyai lahan gambut. Selain meningkatkan potensi munculnya titik api, kondisi lahan nan kering membikin proses pemadaman menjadi lebih sulit.

"Minimnya curah hujan membikin kondisi lahan semakin kering dan mudah terbakar. Kerawanan juga semakin tinggi di wilayah nan mempunyai lahan gambut. Selain meningkatkan potensi munculnya titik api, kondisi lahan nan kering membikin proses pemadaman menjadi lebih sulit," ungkapnya.

Peningkatan status menjadi tanggap darurat diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus mempercepat upaya pemadaman kebakaran dan penanganan dampaknya terhadap masyarakat.

"Penetapan status tanggap darurat musibah karhutla ini berjalan selama 14 hari ke depan," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan