Drama Perfect Crown dikritik lantaran kandas menampilkan kompetensi karakter CEO Seong Hui-jo.(Dok. The Korea Times)
Tren drama Korea sekarang mulai meninggalkan pola klasik "Candy Girl" dan beranjak ke karakter wanita sukses secara ekonomi. Namun, drama terbaru MBC, Perfect Crown, dinilai kandas memaksimalkan potensi karakter utamanya sebagai seorang CEO nan kompeten.
Drama nan berlatar monarki konstitusional fiksi ini mengikuti kisah Seong Hui-joo (diperankan oleh IU), putri kedua dari konglomerat Castle Group. Meski diperkenalkan sebagai pemimpin upaya dengan "pikiran luar biasa," penggambaran di layar justru memicu kekecewaan penonton.
Kesenjangan Narasi dan Karakter
Masalah utama terletak pada kredibilitas identitas Hui-joo sebagai CEO. Alih-alih menunjukkan keahlian strategis dalam memecahkan masalah alias pengambilan keputusan saat krisis, segmen tempat kerja Hui-joo lebih banyak didominasi oleh emosi.
Penonton merasa karakter Hui-joo lebih terlihat sebagai bos nan sensitif dan penuntut daripada pemimpin upaya nan berprestasi. Gelar CEO nan disandangnya terasa hanya sebagai "label dekoratif" untuk menciptakan gambaran wanita sukses tanpa bukti kompetensi nan nyata.
Perbandingan dengan Drama Lain
Kegagalan Perfect Crown semakin terlihat saat dibandingkan dengan drama terkenal lainnya nan juga menampilkan tokoh wanita kuat:
| Queen of Tears | Hong Hae-in | Mampu membikin keputusan strategis di tengah krisis ritel. |
| Crash Landing on You | Yoon Se-ri | Membangun merek sendiri secara berdikari dari nol. |
| Search: WWW | Eksekutif IT | Fokus pada kepemimpinan dan struktur kekuasaan organisasi. |
Ekspektasi Penonton Modern
Seiring meningkatnya partisipasi wanita dalam aktivitas ekonomi, penonton—terutama wanita usia 20-an dan 30-an—kini lebih mendambakan karakter nan menyeimbangkan ambisi pekerjaan dan cinta secara realistis. Mereka lebih terhubung dengan tokoh nan mempunyai skill nyata melalui proses pemecahan masalah, bukan sekadar perbincangan nan menyatakan profesionalisme.
Meskipun Perfect Crown berfokus pada romansa, kegagalannya dalam membangun fondasi karakter CEO nan meyakinkan membikin narasi secara keseluruhan terasa datar dan susah memberikan imersi penuh bagi pemirsa.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·