Kapolri Bongkar Lab Narkoba 1,2 Ton di Aceh, Terbesar di Indonesia

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Jakarta -

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto bertolak ke Aceh usai memimpin rilis pengungkapan penyelundupan 1,16 ton ketamin di Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Di Aceh, Suyudi langsung mengecek laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia nan baru saja dibongkar abdi negara gabungan.

Laboratorium tersembunyi nan berlokasi di Pidie, Aceh, tersebut sebelumnya digerebek oleh tim campuran Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai. Dari operasi penindakan di dua toko nan disulap menjadi pabrik sabu tersebut, petugas sukses mengamankan sekira 1 ton sabu cair methamphetamine.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan pengungkapan laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia nan dibongkar abdi negara campuran di Pidie, Aceh (dok Istimewa)Foto: Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan pengungkapan laboratorium rahasia (clandestine lab) narkotika terbesar di Indonesia nan dibongkar abdi negara campuran di Pidie, Aceh (dok Istimewa)

Berdasarkan hasil penyelidikan awal, clandestine lab di Pidie ini diduga kuat terafiliasi dengan jaringan narkoba internasional lintas negara nan melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai informasi, sebelum bertolak mengecek pabrik sabu di Aceh, Jenderal Suyudi terlebih dulu memimpin konvensi pers pengungkapan 1,16 ton obat keras jenis Ketamin HCl senilai Rp 3,48 triliun dari kapal MT Global 168 di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan.

Dalam penindakan di Belawan, abdi negara campuran meringkus delapan orang kru kapal nan terdiri dari tujuh penduduk negara Indonesia (WNI) dan satu penduduk negara asing (WNA) asal Taiwan.

"Ke-8 awak kapal ini terdiri dari 7 orang penduduk negara Indonesia ya, dan 1 orang penduduk negara asing ya, WNA asal Tiongkok, Taiwan. Mereka mempunyai peran masing-masing dalam mengoperasikan kapal," kata Jenderal Suyudi Ario Seto dalam bertemu pers di Dermaga Pelabuhan Pelindo Bandar Deli Belawan, Sumatera Utara, Jumat (23/10/2026).

Suyudi merinci peran kedelapan awak kapal tersebut, antara lain nakhoda sekaligus kapten kapal berinisial IC, Chief Officer berinisial RS, JA selaku Kepala Kamar Mesin (Chief Engineer), dan IAE selaku Masinis 2 (Second Engineer).

Selanjutnya, tersangka berinisial JMR berkedudukan sebagai Oiler alias ahli minyak nan bekerja membantu pelumasan serta pembersihan mesin. Sementara RF, DPB, dan YCY (WNA) bertindak sebagai ahli mudi (Able Seaman).

Suyudi membeberkan upaya menggagalkan penyelundupan bermulai dari penemuan intelijen mengenai anomali rute pergerakan kapal MT Global 168 di perairan Selat Malaka nan melintasi Laut Andaman.

Merespons anomali itu, tim campuran BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri pada Senin (19/10) bersiap di Kuala Tanjung mengerahkan kapal patroli Bea Cukai BC 20006 serta KP Murai 4018 untuk melakukan intersepsi.

Kapal tersebut akhirnya sukses dicegat di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, lampau dikawal menuju dermaga Pelabuhan Belawan. Saat digeledah, petugas mendapati muatan 58 karung berisi Ketamin HCl seberat 1,16 ton, 1 unit kapal MT Global 168, serta 14 ponsel milik para tersangka.

Suyudi menegaskan, rangkaian operasi besar di Belawan hingga penyergapan lab narkoba di Pidie Aceh merupakan bukti kesungguhan abdi negara dalam memberantas sindikat narkoba transnasional.

"Sejumlah peralatan bukti nan hari ini kita sita bukanlah sekadar nomor pencapaian semata, melainkan jutaan nyawa generasi muda bangsa nan sukses kita selamatkan. Untuk itu mari kita rapatkan barisan, berbareng kita wujudkan Indonesia aman, tangguh, dan bersih dari narkoba," pungkas Suyudi.

(ond/fca)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑