
Kapasitas pelabuhan naik. (Foto: dok Pelindo)
SURABAYA - Peningkatan kapabilitas pelabuhan peti kemas perlu diikuti penguatan simpul logistik di sisi darat. Hal ini perlu dilakukan agar percepatan bongkar muat tidak justru memindahkan titik halangan ke rantai pengedaran berikutnya.
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik UGM, Prof. Kuncoro Harto Widodo, mengatakan pertumbuhan arus peti kemas perlu diimbangi dengan penguatan seluruh simpul dalam ekosistem logistik. Menurutnya, peningkatan jasa logistik tidak hanya bergantung pada prasarana fisik, tetapi juga integrasi data, kapabilitas sumber daya manusia, dan support regulasi.
Pakar manajemen logistik dan rantai pasok itu mengatakan volume arus peti kemas nasional mengalami pertumbuhan positif dalam lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat penguatan kapabilitas dan keterhubungan antarsimpul menjadi semakin penting.
“Hambatan pada satu simpul bakal berakibat pada simpul lainnya,” ujar Kuncoro.
Karena itu, Kuncoro mendorong integrasi info antara terminal, perusahaan pelayaran, depo, trucking, area industri, dan pemerintah. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem (NLE) juga perlu terus dioptimalkan agar pergerakan info dapat mengikuti bahkan mendahului pergerakan barang.
“Yang diidealkan itu aliran info mestinya setiap saat apalagi jika bisa mendahului aliran barang,” katanya.
Selain integrasi sistem informasi, Kuncoro menilai pengembangan pikulan peralatan berbasis kereta api perlu diperkuat sebagai pengganti pengedaran menuju pelabuhan. Pengembangan moda tersebut juga dapat mendukung upaya penanganan kendaraan over dimension overload (ODOL) di jalur darat.
Pandangan mengenai pentingnya keterhubungan antarsimpul juga disampaikan praktisi kepelabuhanan serta logistik dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Wahyono Bimarso.
Menurutnya, keahlian terminal peti kemas di Indonesia pada dasarnya sudah semakin baik dan memenuhi standar internasional. Namun, peningkatan produktivitas di dalam terminal tidak bakal memberikan akibat maksimal andaikan tidak diikuti kesiapan akomodasi setelah kontainer keluar dari pelabuhan.
"Terminal peti kemas kita sebenarnya sudah berstandar internasional. Persoalan utama justru muncul setelah kontainer keluar dari pelabuhan. Kecepatan bongkar muat tidak akan berakibat maksimal andaikan depo, gudang, jalan, dan sistem pengedaran di sisi darat tidak berkembang dengan kecepatan nan sama,” kata Wahyono.
Pria nan juga Kaprodi Teknik Kelautan ITL Trisakti ini mencontohkan kondisi di Merauke. Meskipun akomodasi pelabuhan dinilai sudah memadai, keterbatasan lapangan penumpukan dan penyimpanan di belakang pelabuhan tetap menjadi persoalan.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·