Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz-Laut Merah Bikin Harga Minyak Bergejolak

Sedang Trending 17 jam yang lalu

Jakarta -

Jalur perdagangan daya bumi sedang porak-poranda imbas memanasnya bentrok di Timur Tengah. Kapal-kapal tanker minyak kerap menjadi sasaran di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb di Laut Merah, membikin nilai daya dunia semakin bergejolak.

Serangan terhadap kapal-kapal tanker ini mempunyai tujuan nan jelas, gangguan dalam perang ekonomi untuk membatasi ruang mobilitas dan sumber daya lawan. Sebagai contoh ada Iran nan meningkatkan serangannya terhadap kapal tanker di dalam dan sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini untuk mengambil alih kendali atas jalur nan sangat krusial tersebut.

Sementara sekutunya Houthi di Yaman menembaki dua kapal tanker Saudi di Laut Merah setelah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatatkan 61 kapal jual beli telah diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman sejak 1 Maret, mengakibatkan kematian 17 pelaut dan puluhan lainnya terluka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran dan Houthi bersama-sama sekarang memberikan pukulan nan sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka tidak sukses sepenuhnya menekan ekspor," kata Dimitris Maniatis, CEO dari jasa akibat maritim Marisks dikutip dari CNBC, Sabtu (25/7/2026).

Masih belum cukup, bentrok antara Rusia dengan Ukraina juga membikin peta jual beli daya bumi semakin kacau. Ukraina mengaku telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lainnya nan mengenai dengan armada gambaran Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

"Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di beragam lini," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global.

Alhasil, nilai minyak mentah Brent nan kerap menjadi patokan dunia sempat naik ke level US$ 100 per barel di perdagangan Kamis (23/7) kemarin. Menunjukkan kerentanan rantai pasok daya bumi di tengah bentrok bersenjata di beragam wilayah.

"Rusia sekarang telah memberlakukan larangan ekspor produk dan kilang-kilang mereka telah terpukul sangat parah oleh Ukraina. Rusia adalah salah satu pengekspor produk terbesar, salah satu pengekspor diesel terbesar. Hal ini betul-betul memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah," kata Croft.

(igo/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance