MRI lengan kanan wanita tersebut menunjukkan "massa jaringan lunak berbentuk oval" tepat di bawah kulit.(Gannon M. C., Gabor R. M., Gupta A., et al. (15 April 2026) Regresi Spontan Sarkoma Jaringan Lunak Setelah Biopsi: Laporan Kasus dan Tinjauan Sistematis Literatur. Cureus 18(4): e107111. doi:10.7759/cureus.107111 (CC-BY 4.0))
Seorang perempuan berusia 59 tahun di Wisconsin, Amerika Serikat, mengejutkan tim master setelah benjolan kanker di lengan bawahnya mendadak lenyap dengan sendirinya. Fenomena medis nan sangat jarang terjadi ini dikenal sebagai regresi spontan, ialah hilangnya sebagian alias seluruh sel kanker tanpa adanya pengobatan medis.
Awalnya, pasien memeriksakan diri setelah menyadari adanya benjolan nan tumbuh sigap di lengan kanannya. Melalui pemeriksaan bentuk dan sinar-X, master menemukan massa keras berukuran 2x2 sentimeter. Hasil pemindaian MRI menunjukkan benjolan berbentuk oval tersebut berwarna putih terang, nan mengindikasikan adanya sarkoma—jenis kanker langka nan menyerang tulang alias jaringan lunak seperti otot dan lemak.
Untuk memastikan diagnosis, master melakukan biopsi jarum inti dan aspirasi jarum lembut guna mengambil sampel sel. Hasil kajian laboratorium menunjukkan bahwa pasien menderita myxofibrosarcoma (MFS), salah satu jenis kanker jaringan lunak, dengan tingkat keganasan derajat 2 (menengah).
Lenyap dalam Dua Minggu
Namun, perihal tidak terduga terjadi pascabiopsi. Pasien melaporkan bahwa benjolan di lengannya tiba-tiba menyusut. Hanya dalam waktu dua minggu, benjolan tersebut apalagi sudah tidak dapat dirasakan lagi melalui kulit.
Meski benjolan tersebut tampak telah hilang, tim medis tetap memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan jaringan secara luas (wide local excision) di area jejak tumor tersebut. Langkah ini diambil demi memastikan kendali atas penyakit tersebut.
Saat jaringan nan diangkat diperiksa di laboratorium, master tidak menemukan satu pun sel kanker nan tersisa. Jaringan tersebut hanya menunjukkan jejak luka (jaringan parut) dan inflamasi nan biasanya muncul setelah adanya respons imun tubuh dalam melawan kanker. Satu tahun setelah prosedur tersebut, pasien dilaporkan tetap bersih dari kanker.
Dipicu oleh Prosedur Biopsi
Dalam laporan kasus nan diterbitkan bulan April, tim master mencatat bahwa kasus regresi spontan pada sarkoma sangatlah langka. Dari 32 laporan kasus serupa nan pernah tercatat sebelumnya, sebanyak 8 kasus (25%) di antaranya mulai menunjukkan penyusutan justru setelah tindakan biopsi diagnostik alias trauma bentuk pada tumor.
Para penulis laporan berhipotesis bahwa kerusakan bentuk pada struktur tumor saat jarum biopsi masuk menyebabkan protein mengenai tumor terlepas ke aliran darah. Kondisi ini membikin sistem kekebalan tubuh mendeteksi keberadaan kanker. Pada saat nan sama, proses pengobatan luka pascabiopsi memicu sel-immunitas berkumpul di area tersebut, sehingga memicu serangan imun lokal nan menghancurkan tumor.
Meskipun kejadian ini mengagumkan, tim master memperingatkan bahwa penyusutan kanker secara mendadak ini bisa menjadi jebakan klinis bagi para tenaga medis.
"Pengamatan terhadap sarkoma nan menyusut menghadirkan jebakan klinis. Hal ini mungkin menggoda klinisi untuk membatalkan operasi," tulis penulis laporan kasus tersebut. "Namun, tinjauan sistematis kami mengungkapkan bahwa meskipun beberapa regresi berkarakter total, banyak nan hanya berkarakter parsial alias sementara. Lebih jauh lagi, pada golongan biopsi, nyaris 40% spesimen nan diangkat tetap mengandung sisa sel tumor meskipun secara klinis tampak menyusut."
Oleh lantaran itu, tim medis tetap merekomendasikan pengangkatan jaringan guna mengantisipasi adanya sel kanker nan tetap bersembunyi. Para peneliti berambisi dapat mengungkap sistem pasti dari regresi langka ini agar dapat direplikasi menjadi sebuah metode pengobatan di masa depan. (Live Science/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·