Kampus Diminta Tegas Tindak Pelaku Kasus Pornografi Gunakan AI

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
Kampus Diminta Tegas Tindak Pelaku Kasus Pornografi Gunakan AI Ilustrasi(Magnific.com)

UNIVERSITAS Tanjungpura (Untan) diminta tindak tegas pelaku nan gunakan Kecerdasan Buatan (AI) alias deepfake mengedit foto vulgar antar mahasiswa di lingkungan kampus. 

"Kampus memang kudu bersikap tegas untuk menunjukkan zero tolerance terhadap segala corak kekerasan, termasuk kekerasan digital seperti deepfake pornografi. Jangan sampai lantaran tidak ada kontak bentuk lampau dianggap sepele," kata Pengamat Pendidikan Indonesia Education Monitoring Centre (IEMC) Ina Liem saat dihubungi, Sabtu (16/5).

Menurutnya sikap tegas krusial bukan hanya untuk menghukum pelaku, tapi juga memberi rasa kondusif kepada mahasiswa lain bahwa kampus datang melindungi mereka. 

"Karena jika responsnya terlalu lunak alias sekadar mediasi, pesan nan muncul justru berbahaya, seolah tindakan seperti ini tetap bisa ditoleransi," ungkapnya.

Selain penegakkan aturan, kampus juga perlu memastikan korban mendapat pendampingan psikologis dan perlindungan privasi. 

Kasus ini juga kudu jadi momentum edukasi besar tentang etika penggunaan AI dan jejak digital. Teknologi makin canggih, tapi tanpa karakter dan empati, teknologi bisa berubah jadi perangkat kekerasan.

Deepfake pornografi dinilai juga  termasuk kekerasan digital dan pelanggaran martabat seseorang. Korbannya bisa mengalami trauma psikologis, rasa malu, kehilangan rasa aman, apalagi takut bersosialisasi alias kuliah. 

"Apalagi di usia mahasiswa, ketika identitas diri dan masa depan sedang dibangun," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA (MIPA) Untan berinisal RY diduga menggunakan AI/deepfake untuk menedit foto teman-temannya sesama mahasiswa menjadi foto vulgar. 

Kasus itu terungkap saat sedang melakukan praktikum mata kuliah Sistematika Mikroba. Teman RY meminjam ponselnya untuk mendokumentasikan hasil praktikum. 

Namun ketika kawan RY membuka galeri untuk mengecek hasil pengarsipan sungguh terkejutnya dia menemukan banyak foto vulgar nan merupakan teman-teman perempuannya nan diduga merupakan foto edit dengan AI. 

Ina menilai kasus ini merupakan rumor serius tentang keamanan digital, etika, dan perlindungan mahasiswa. Apalagi teknologi AI sekarang makin mudah diakses. 

"Kalau tidak ditangani tegas, bisa menjadi budaya toxic, merasa bebas memanipulasi tubuh dan wajah orang lain tanpa consent," pungkasnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑